Topan Co-May Kembali Hantam Shanghai, 283 Ribu Evakuasi
Ratusan ribu warga Shanghai bergerak tertib menuju titik aman pada Selasa sore (29/7/2025). Diiringi sirene peringatan dini dan imbauan pengeras suara dari
Ratusan ribu warga Shanghai bergerak tertib menuju titik aman pada Selasa sore (29/7/2025). Diiringi sirene peringatan dini dan imbauan pengeras suara dari kendaraan patroli, langit kota finansial China itu mulai berubah kelam seiring mendekatnya Topan Co-May. Pusat meteorologi setempat memperkirakan badai tropis ini akan mendarat untuk kedua kalinya di daratan Shanghai pada Rabu (30/7/2025) malam, dengan kecepatan angin mencapai 150 km/jam dan potensi gelombang badai yang mengancam pesisir timur. Pemerintah langsung memutuskan evakuasi massal terhadap 283.000 warga dari distrik-distrik rawan banjir dan longsor.
Ini bukan pertama kalinya Co-May mengamuk. Dua hari sebelumnya, topan ini menghantam kepulauan selatan Jepang sebelum mengarah ke Laut China Timur dan menghantam pesisir Zhejiang. Kini, setelah memperoleh kembali tenaga dari hangatnya permukaan laut, Co-May berbelok ke utara menuju muara Sungai Yangtze, siap menguji ketangguhan Shanghai. Awan tebal dan hujan deras telah mengguyur kota sejak dinihari, memaksa penutupan seluruh sekolah, taman publik, dan objek wisata seperti Menara Oriental Pearl dan Nanjing Road.
Kesiapan Shanghai: Pelajaran dari Masa Lalu
Shanghai bukan kota yang asing dengan badai. Topan Lekima (2019) dan In-fa (2021) memberi pelajaran berharga tentang pentingnya sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan banjir. Kini, dengan pengalaman itu, pemerintah kota menerapkan protokol tanggap darurat level merah—tertinggi. Pompa-pompa raksasa di sepanjang Sungai Huangpu disiagakan, pintu-pintu air ditutup, dan ribuan personel tim SAR ditempatkan di titik strategis.
"Kami telah menyiapkan 1.200 tempat penampungan yang mampu menampung hingga 500.000 orang. Evakuasi berlangsung sejak pukul 14.00 dan prioritas diberikan pada warga lansia, anak-anak, serta pemukim di daerah bantaran sungai," kata Li Wei, juru bicara Pusat Kendali Darurat Shanghai.
Di stasiun kereta bawah tanah, petugas sigap memasang karung pasir dan sekat anti-air. Bandara Internasional Pudong dan Hongqiao membatalkan lebih dari 400 penerbangan, sementara kereta cepat ke Beijing, Hangzhou, dan Nanjing dihentikan sementara. Warga yang tidak mengungsi menimbun air mineral, mi instan, dan lilin, mengingatkan pada ketegangan pra-badai yang kerap mewarnai musim topan di pesisir timur China.
Dampak Prediksi dan Harapan
Badan Meteorologi China (CMA) memprediksi curah hujan ekstrem mencapai 200–300 mm dalam 24 jam di beberapa wilayah, disertai angin kencang yang bisa merobohkan pohon dan baliho. Distrik Pudong, Fengxian, dan Jinshan di pesisir selatan diperkirakan menjadi yang paling parah terdampak. Sementara gelombang pasang maksimum bisa mencapai 2–3 meter, cukup untuk merendam kawasan permukiman padat di delta Yangtze.
Namun di tengah siaga dan waspada, semangat warga Shanghai tidak surut. Di grup-grup WeChat, pesan-pesan penyemangat dan informasi titik pengungsian tersebar cepat. Beberapa restoran kecil tetap buka, menyediakan makanan hangat gratis bagi para relawan dan petugas yang berjaga. "Topan datang dan pergi, tapi Shanghai tetap berdiri," begitu bunyi salah satu pesan yang viral, mencerminkan ketangguhan mental warga yang telah melalui banyak ujian alam.
Malam ini, Shanghai menahan napas. Di langit yang membawa badai, ada doa-doa agar fajar nanti membawa kabar baik—bahwa nyawa selamat, kota tetap utuh, dan Topan Co-May hanya menjadi satu lagi catatan sejarah cuaca yang berhasil dilalui dengan persiapan matang dan persatuan.
Comments (0)