Rudal Israel Hantam Tyre, Warga Lebanon Selatan Mengungsi

Suara deru buldoser memecah keheningan pagi di Tyre, Lebanon Selatan, pada Kamis (28/5/2026). Seorang pekerja kota dengan sigap menyingkirkan tumpukan beto

Jul 12, 2026 - 08:50
0 0
Rudal Israel Hantam Tyre, Warga Lebanon Selatan Mengungsi

Suara deru buldoser memecah keheningan pagi di Tyre, Lebanon Selatan, pada Kamis (28/5/2026). Seorang pekerja kota dengan sigap menyingkirkan tumpukan beton dan puing-puing yang berserakan di jalan utama—sisa-sisa keganasan serangan udara Israel yang mengguncang kota pesisir tersebut semalaman. Debu masih mengepul, bercampur bau mesiu dan kepedihan yang sulit terungkapkan. Warga setempat, dengan wajah lesu, berdiri di sudut-sudut bangunan yang retak, menyaksikan upaya pembersihan yang menjadi saksi bisu malapetaka yang baru saja terjadi.

Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran ke wilayah selatan Lebanon pada 27–28 Mei 2026, dengan Tyre menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Pemerintah Israel mengklaim operasi ini menyasar infrastruktur militer Hezbollah, namun laporan dari lapangan menunjukkan banyak bangunan sipil, termasuk sekolah dan puskesmas, turut luluh lantak. Jaringan listrik terputus, saluran air rusak, dan ribuan keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman di tengah malam.

Kronologi Serangan dan Skala Kerusakan

Menurut saksi mata, ledakan pertama terdengar sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Sirene peringatan tidak sempat berbunyi. Gelombang berikutnya menyusul dalam interval 15–30 menit, mengguncang distrik Al-Hawsh dan Al-Bass, dua kawasan padat penduduk di Tyre. Pagi harinya, tim penyelamat menemukan setidaknya 18 korban jiwa, termasuk 4 anak-anak, dan lebih dari 60 orang luka-luka. Angka ini diperkirakan bertambah karena beberapa bangunan runtuh sepenuhnya dan masih ada warga yang tertimbun.

"Kami mendengar suara menggelegar, rumah kami bergetar hebat. Anak-anak menjerit histeris. Saya hanya bisa memeluk mereka dan berdoa. Saat fajar menyingsing, saya lihat separuh atap hilang dan tetangga saya tertimbun reruntuhan," ujar Maysa, seorang ibu tiga anak yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari titik terdampak, dengan suara bergetar menahan tangis.

Buldoser yang bergerak di Jalan Al-Hussein menjadi pemandangan kontras: di satu sisi melambangkan upaya bangkit, di sisi lain menggoreskan luka baru karena setiap kali puing diangkat, ingatan tentang malam mengerikan itu kembali menyeruak. Palang Merah Lebanon dan relawan lokal bergerak cepat mendistribusikan air bersih, selimut, dan makanan darurat, meski akses ke beberapa titik masih terhambat oleh puing-puing dan potensi serangan susulan.

Dimensi Kemanusiaan dan Reaksi Dunia

UNICEF menyatakan keprihatinan mendalam karena banyak anak menjadi korban langsung maupun tidak langsung. Sekolah-sekolah di Tyre ditutup tanpa batas waktu. Lebih dari 5.000 warga kini tinggal di tempat penampungan sementara, sebagian besar sekolah dan masjid yang kondisinya pun tidak ideal. Trauma kolektif kembali menghantui masyarakat Lebanon Selatan yang belum sepenuhnya pulih dari konflik-konflik sebelumnya.

Merespons eskalasi terbaru, Sekretaris Jenderal PBB menyerukan gencatan senjata segera dan penyelidikan independen atas serangan terhadap warga sipil. Beberapa negara Timur Tengah dan Uni Eropa mengeluarkan pernyataan kecaman, namun Dewan Keamanan PBB gagal mencapai konsensus. Sementara itu, Perdana Menteri Israel menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut "selama Hezbollah masih menjadi ancaman."

Bagi warga Tyre, kata-kata diplomatis tidak lagi berarti. Yang mereka butuhkan hanyalah kepastian bahwa malam seperti itu tidak akan terulang lagi, dan fajar yang datang bukan sekadar penerang, melainkan saksi atas pembangunan kembali kehidupan mereka yang remuk.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User