Tongkol Jagung Kutai Timur Disulap Jadi Pakan Ternak
Di Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, limbah panen jagung yang dulunya berserakan di lahan kini bernilai ekonomi tinggi. Ton
Di Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, limbah panen jagung yang dulunya berserakan di lahan kini bernilai ekonomi tinggi. Tongkol jagung—sisa bonggol setelah biji dirontokkan—diolah menjadi silase atau pakan fermentasi untuk ternak kambing. Inovasi ini digagas oleh kelompok tani setempat bekerja sama dengan penyuluh pertanian setelah menyadari bahwa berton-ton limbah jagung per bulan hanya membusuk atau dibakar.
Dari Limbah Jadi Pakan Bergizi
Silase tongkol jagung dibuat melalui proses fermentasi sederhana dengan menambahkan mikroorganisme baik dan molases (tetes tebu). Tongkol dihaluskan terlebih dahulu, lalu dicampur bahan pengawet alami dan disimpan dalam wadah kedap udara selama 21 hari. Hasilnya adalah pakan hijauan awet berprotein kasar hingga 8–10 persen yang bisa disimpan lebih dari setahun. “Kami tidak menyangka tongkol yang selama ini jadi sampah bisa memperkuat pakan kambing sekaligus menghemat biaya pakan hingga 40 persen,” ujar Sudarmono, ketua kelompok tani Tunas Harapan.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Sebelum ada inovasi ini, petani mengeluarkan rata-rata Rp 150.000 per hari untuk membeli konsentrat dan rumput segar. Kini, biaya terpangkas signifikan, terutama saat musim kemarau saat hijauan sulit didapat. Kambing pun memperlihatkan bobot yang stabil; hasil timbang beberapa ekor menunjukkan kenaikan bobot hingga 200 gram per hari. Di sisi lingkungan, pengolahan tongkol mengurangi praktik pembakaran limbah yang memicu polusi dan mengganggu keseimbangan ekosistem lahan.
Kisah Sukses dan Dukungan Pemerintah Daerah
Kepala Dinas Pertanian Kutai Timur, melalui keterangannya, menyebut program ini sebagai model pemberdayaan ekonomi sirkular di pedesaan. Pemerintah kabupaten telah mengalokasikan dana untuk pendampingan teknis dan pengadaan mesin pencacah tongkol di tiga desa lain.
“Kami ingin mereplikasi pola ini agar limbah pertanian lain seperti kulit kakao dan jerami padi juga bernilai tambah. Ini sejalan dengan visi ketahanan pangan Kutai Timur,”jelasnya saat meninjau lokasi awal pekan ini.
Potensi Replikasi Nasional
Data BPS menunjukkan produksi jagung nasional mencapai 24 juta ton pipilan kering pada 2025, dengan limbah tongkol sekitar 30 persen dari total bobot. Jika dimanfaatkan, setidaknya tercipta cadangan pakan miliaran ton yang bisa menopang sektor peternakan. Desa Tepian Terap membuktikan bahwa teknologi sederhana bisa menjawab dua masalah sekaligus: limbah dan pakan mahal. Ke depan, mereka berencana memproduksi silase kemasan untuk dijual ke peternak di kabupaten tetangga, membuka lapangan kerja baru bagi pemuda desa. Ketahanan pakan yang lahir dari kreativitas lokal, bukan dari laboratorium mahal, menawarkan cetak biru yang layak ditiru seluruh Indonesia.
[TAGS]: Silase tongkol jagung, Kutai Timur, pakan fermentasi, peternakan kambing, limbah pertanian[SOCIAL_TWEET]: Tongkol jagung yang semula jadi limbah kini disulap jadi pakan fermentasi bergizi bagi kambing di Kutai Timur. Biaya pakan terpangkas 40%, bobot ternak naik stabil. Solusi lokal untuk ketahanan pangan! #InovasiPertanian #KutaiTimur #SilaseJagung[SOCIAL_FB]: Dari sampah panen jadi berkah: petani di Desa Tepian Terap, Kutai Timur, mengubah tongkol jagung menjadi silase pakan kambing. Hasilnya, biaya pakan turun drastis dan ternak makin sehat. Klik selengkapnya untuk tahu cara pembuatannya dan kemungkinan diterapkan di daerah Anda.[SOCIAL_TG]: 🌽🤝🐐 Di Kutai Timur, limbah tongkol jagung diolah jadi silase pakan kambing. Simpel, murah, dan untung besar. Masa depan ternak makin cemerlang![SOCIAL_THREADS]: Gila sih, tongkol jagung yang biasa dibuang atau dibakar di Kutai Timur sekarang jadi makanan kambing super. Fermentasi sederhana, irit duit, kambingnya makin montok. Siapa sangka inovasi dari limbah bisa selama ini? Gas baca!
Comments (0)