The Actor: Menyulam Identitas Banjarmasin dalam Album Terbaru

Di sebuah ruangan sempit di pinggir Sungai Martapura, malam masih terasa hangat meski hujan gerimis mulai turun. Sebotol kopi dingin, beberapa lembar lirik yang terus dirobah, dan bunyi gitar akustik ...

Jul 13, 2026 - 17:55
0 0

Di sebuah ruangan sempit di pinggir Sungai Martapura, malam masih terasa hangat meski hujan gerimis mulai turun. Sebotol kopi dingin, beberapa lembar lirik yang terus dirobah, dan bunyi gitar akustik yang mengalun pelan menjadi penghuni setia ruang latih itu. Di sudut ruangan, Andi—vokalis The Actor—menutup matanya sejenak, merapal lirik dalam bahasa Banjar yang baru saja lahir dari percakapan sederhana dengan ibunya sore tadi. Momen itu bukan sekadar proses rekaman; itu adalah upaya merangkul kembali jejak darah, bau tanah, dan suara kampung halaman yang selama ini ia bawa dalam perjalanan bermusiknya.

Album terbaru The Actor bukanlah sekadar kumpulan lagu baru. Ia adalah sebuah peta emosional yang menggambarkan perjalanan sekelompok pemuda Banjarmasin yang berusaha menemukan suara mereka di tengah derasnya arus musik nasional. Tanpa meninggalkan akar, mereka justru menggali lebih dalam: irama dari dayak, denting kacapi, hingga cerita rakyat yang dibisikan nenek moyang. Setiap lagu menjadi wadah bagi mereka untuk berkata, "Kami datang dari sini, dan kami bangga akan itu."

Di Balik Layar Album yang Lahir dari Tanah Air

Proses pengerjaan album ini berlangsung selama hampir dua tahun, jauh dari kilau studio besar di ibu kota. Sebagian besar lagu direkam di antara ruang latih tembok bata dan sebuah rumah kayu tua di tepi sungai. Suara perahu getek yang melintas, gemericik air, hingga dengkuran motor becak di pagi hari sengaja dibiarkan merasuk ke dalam rekaman. "Kami ingin pendengar merasa berada di Banjarmasin, bukan hanya mendengar tentangnya," ujar Andi dengan senyum tipis.

Tantangan terbesar justru datang saat mereka harus memadukan instrumen tradisional dengan aransemen modern. Banyak yang meragukan apakah suara kacapi bisa berdampingan dengan gitar distorsi dan synth elektronik. Namun, justru di titik gesekan itulah The Actor menemukan warnanya. Mereka menghabiskan berbulan-bulan belajar dari para musisi kampung, merekam setiap nada dengan penuh kesabaran, dan membiarkan setiap lagu tumbuh secara organik seperti tanaman yang akarnya menancap di tanah liat.

"Ada air mata di setiap lagu," kata gitaris Dedi, mengingat malam ketika salah satu trek hampir dibuang karena terasa terlalu personal. "Tapi kemudian kami sadar, kalau kami tidak jujur, siapa yang akan menceritakan kisah ini?" Kejujuran itulah yang membuat album ini terdengar hidup, bernafas, dan menyentuh.

Kisah Perjalanan dari Sungai Martapura hingga Panggung Nasional

The Actor bukan nama yang tiba-tiba muncul. Perjalanan mereka dimulai dari pertemuan tak sengaja di sebuah kafe sederhana dekat kampus, di mana Andi dan Dedi menyadari bahwa mereka sama-sama menyimpan cinta mendalam pada musik daerah. Dari bermain di acara kelulusan sekolah, festival kampus, hingga panggung kecil dengan penonton yang bisa dihitung jari, mereka belajar bahwa mimpi tidak selalu datang dengan mudah. Ada malam ketika mereka harus tidur di terminal, ada konser yang hanya dihadiri penjaga gedung, dan ada keraguan dari orang-orang terdekat yang bertanya, "Bermusik itu bisa jadi makan?"

Namun di balik setiap kegagalan sederhana, ada semangat yang tak kunjung padam. Orang tua yang menabung dari hasil berjualan kue, adik yang membantu membagikan pamflet, dan teman-teman yang rela menjadi penonton pertama menjadi bahan bakar bagi mereka. "Saya ingat ibu menangis saat pertama kali mendengar lagu kami di radio lokal," kenang Andi. "Air matanya bukan karena sedih, tapi karena dia akhirnya mengerti bahwa apa yang kami lakukan punya makna."

Momen mengharukan itu menjadi tonggak bagi The Actor. Mereka mulai menyadari bahwa perjalanan mereka bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang membanggakan asal. Setiap kota yang mereka singgahi, setiap panggung yang mereka injak, mereka membawa secarik Banjarmasin dalam bentuk lagu, kain sarung yang dikenakan di atas panggung, atau sekadar ucapan selamat datang dalam bahasa Banjar.

Mimpi yang Terus Menyala untuk Musik Daerah

Dengan album terbaru ini, The Actor ingin mengirim pesan kepada generasi muda di seluruh pelosok negeri: jangan malu dengan aksen, bahasa, atau budaya daerahmu. Kekuatan sebenarnya justru terletak pada keberanian menjadi diri sendiri. "Kami tidak ingin menjadi versi Jakarta atau Bandung dari diri kami," tegas Andi. "Kami ingin menjadi versi terbaik dari Banjarmasin, karena setiap daerah punya suara yang layak didengar."

Album tersebut juga menjadi wadah kolaborasi dengan beberapa musisi lokal, dari pemain kacapi hingga penyanyi tradisional yang sudah hampir dilupakan. Bagi The Actor, ini adalah bentuk balas budi. Mereka tidak hanya mengambil, tetapi juga memberi ruang bagi para senior untuk kembali bersinar. "Musik daerah bukan museum," kata Dedi. "Ia adalah sungai yang harus terus mengalir, dan kami hanya ingin menjadi salah satu anak sungainya."

Menjelang perilisan, suasana di kalangan penggemar The Actor dipenuhi rasa penasaran dan harapan. Namun bagi para anggota band, yang terpenting bukanlah angka penjualan atau trending media sosial. Yang terpenting adalah ketika seorang pendengar di kota kecil, mungkin di sebuah kamar berukuran 3x4 meter seperti ruang latih mereka dulu, mendengar lagu ini dan merasa, "Lagu ini menceritakan tentang aku."

Di ujung malam yang semakin larut, Andi menyimpan gitar dan menatap jendela. Suara sungai masih terdengar samar. Ia tahu, album ini hanyalah satu babak dalam perjalanan panjang. Namun setidaknya, malam ini, Banjarmasin telah berhasil menyuarakan lagunya sendiri.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User