67,6 Persen Balita Minum Kental Manis, Alarm bagi Masa Depan

Di sebuah dapur sederhana beratap seng, seorang ibu muda mencampurkan air hangat dengan cairan putih kental dari kaleng bergambar susu. Tiga sendok penuh—cukup untuk membuat larutan yang menurutnya ...

Jul 13, 2026 - 17:48
0 0

Di sebuah dapur sederhana beratap seng, seorang ibu muda mencampurkan air hangat dengan cairan putih kental dari kaleng bergambar susu. Tiga sendok penuh—cukup untuk membuat larutan yang menurutnya 'bergizi tinggi' bagi anaknya yang baru berusia dua tahun. Ia tersenyum melihat si kecil lahap menghabiskan isi botol, tanpa sadar bahwa minuman itu sarat gula dan hanya mengandung sedikit protein, sementara label 'kental manis' yang ia kira setara dengan susu segar justru menjauhkan sang buah hati dari asupan gizi yang seharusnya.

Pemandangan serupa bukan cerita langka. Sebuah survei terbaru mengungkap angka yang mengguncang: 67,6 persen orangtua di Indonesia masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu bagi balita mereka. Artinya, lebih dari dua pertiga rumah tangga terjebak dalam miskonsepsi nutrisi yang berbahaya. Padahal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah secara tegas mengatur bahwa produk kental manis dilarang dipromosikan, diiklankan, atau dikonsumsi sebagai minuman utama pengganti susu—terutama untuk anak di bawah usia lima tahun. Aturan itu tertuang dalam label peringatan, namun ironisnya, tangan-tangan orangtua tetap menuangkannya ke dalam gelas dan botol si kecil.

Bukan Susu, tapi Kenapa Dianggap Susu?

Kesalahpahaman massal ini bukan sekadar kebetulan. Puluhan tahun pemasaran agresif telah menanamkan citra bahwa kental manis adalah 'susu' yang praktis, murah, dan disukai anak-anak. Kemasan kaleng dengan gambar sapi atau segelas susu putih, ditambah iklan keluarga bahagia yang menyeruput minuman kental manis, membentuk persepsi publik yang sulit diubah. Di toko-toko kelontong di pelosok desa, produk ini diletakkan sejajar dengan susu bubuk dan susu cair, seolah tak ada perbedaan fungsi. Harganya yang jauh lebih murah—setengah bahkan sepertiga dari susu pertumbuhan—menjadi alasan utama bagi keluarga berpenghasilan rendah. "Kalau susu mahal, mau kasih apa? Setidaknya anak saya kenyang dan suka," keluh seorang ibu pedagang sayur di Pasar Minggu ketika ditanya mengapa ia memberikan kental manis kepada balitanya. Di balik kepraktisan itu, kandungan proteinnya hanya sekitar 2–3 persen, sementara gula bisa mencapai lebih dari 50 persen dari total energi. Bandingkan dengan susu pertumbuhan yang mengandung protein 5–7 persen dan gula tidak lebih dari 10 persen. Anak-anak yang rutin minum kental manis sebagai pengganti susu justru berisiko mengalami malnutrisi, obesitas dini, hingga gangguan tumbuh kembang karena kekurangan zat besi, kalsium, dan vitamin esensial. Mereka kenyang, tapi kosong gizi.

Antara Regulasi dan Realitas Pasar

BPOM telah merevisi aturan label dan iklan sejak 2018, melarang kental manis menampilkan visual anak di bawah lima tahun, menggunakan kata 'susu' sebagai identitas tunggal, hingga menyasar segmen balita dalam bentuk apa pun. Namun pengawasan di lapangan masih lemah. Di platform daring, iklan penjualan kental manis kerap menyelipkan kata 'susu kental manis' tanpa peringatan. Di warung-warung, produk ini dipajang tanpa label yang cukup jelas membedakannya dari susu. Bahkan, dalam program bantuan sosial atau posyandu, tak jarang kental manis muncul sebagai komoditas yang dibagikan, seolah pemerintah pun lupa pada aturannya sendiri.

Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), salah satu organisasi yang vokal menyoroti isu ini, mendesak agar pengawasan tidak hanya di atas kertas. "Angka 67,6 persen adalah alarm keras. Kita butuh pengawasan ketat di tingkat ritel dan media, tetapi juga komunikasi publik yang berkelanjutan—bukan sekadar sosialisasi sekali jadi," ujar perwakilan lembaga itu dalam diskusi daring. CISDI menyarankan agar pemerintah melibatkan kader posyandu, bidan desa, dan guru PAUD untuk mengedukasi orangtua langsung di komunitas, menggunakan bahasa sederhana tanpa jargon teknis. Tanpa pendekatan yang menyentuh kebiasaan harian dan kepercayaan lokal, informasi 'kental manis bukan susu' hanya akan berlalu seperti angin.

Menyelamatkan Generasi dari Gelas Bergula

Di sudut yang berbeda, cerita harapan muncul dari para ibu yang telah berubah. Seorang kader posyandu di Kabupaten Bogor menceritakan bagaimana ia dulu memberikan kental manis kepada ketiga anaknya karena mengikuti tradisi keluarga. Setelah mendapat pelatihan gizi sederhana, ia mulai mengganti dengan susu bubuk bersubsidi dan memperbanyak asupan telur serta ikan. "Awalnya berat, karena anak saya menolak. Tapi perlahan, setelah dua minggu, dia mulai terbiasa. Sekarang berat badannya naik sesuai grafik," tuturnya dengan mata berbinar. Kisahnya menjadi bukti bahwa perubahan mungkin terjadi, asal didukung oleh informasi yang benar dan akses terhadap pangan bergizi yang terjangkau.

Persoalan kental manis bagi balita tidak bisa dilepaskan dari masalah kemiskinan dan literasi gizi yang timpang. Selama harga susu pertumbuhan masih tinggi dan pemahaman masyarakat tentang perbedaan produk masih rendah, praktik keliru ini akan terus berlanjut. Maka, selain penegakan regulasi yang lebih tegas, dibutuhkan pula subsidi silang dan program pemberian makanan tambahan lokal yang kaya protein hewani. Pemerintah daerah pun didorong untuk mengalokasikan anggaran khusus guna memperkuat edukasi gizi di tingkat rumah tangga, terutama di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

Data 67,6 persen bukan sekadar statistik. Ia adalah potret jutaan anak yang hari ini minum gula cair yang disangka susu. Ia adalah masa depan yang terancam oleh kekurangan gizi kronis di usia emas pertumbuhan. Sudah saatnya semua pihak—negara, swasta, masyarakat sipil, dan media—bersatu membunyikan alarm yang sama: kental manis bukan susu, dan masa depan anak tidak bisa digadaikan dengan segelas minuman manis palsu. Langkah kecil dari setiap dapur dan posyandu mungkin akan menyelamatkan satu generasi dari bayang-bayang stunting dan obesitas yang selama ini justru dibungkus dalam kaleng penuh janji manis.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User