Lukisan Purba Muna Catat Rekor Dunia, Sulawesi Tenggara Jadi Pusat Peradaban Prasejarah

Langit sore di atas kawasan karst Muna selalu menyimpan kemegahan yang ganjil. Di antara tebing-tebing kapur yang berdiri sunyi, sebuah gua di Desa Liangkobori menyimpan rahasia yang baru sebagian ter...

Jul 13, 2026 - 17:06
0 0

Langit sore di atas kawasan karst Muna selalu menyimpan kemegahan yang ganjil. Di antara tebing-tebing kapur yang berdiri sunyi, sebuah gua di Desa Liangkobori menyimpan rahasia yang baru sebagian terkuak. Goresan-goresan berwarna merah oker itu tampak sederhana—telapak tangan, figur manusia, hewan buruan—namun ia membawa pesan dari masa yang begitu jauh: 67.800 tahun silam. Sebuah rekor dunia yang mengguncang peta peradaban prasejarah.

Perjalanan menuju pengakuan itu tidaklah singkat. Tim peneliti dari berbagai disiplin ilmu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memastikan usia lukisan purba tersebut. Mereka menggunakan metode penanggalan uranium-series pada lapisan kalsit yang menutupi beberapa bagian lukisan. Hasilnya mengejutkan: lukisan di Gua Liangkobori lebih tua puluhan ribu tahun dibandingkan lukisan gua terkenal di Eropa, seperti di Lascaux, Prancis, yang berusia sekitar 17.000 tahun, atau Altamira di Spanyol.

Jejak yang Menantang Sejarah

Selama ini, narasi besar tentang asal-usul seni dan peradaban manusia selalu berpusat di Eropa. Temuan di Muna membalikkan peta pengetahuan itu secara fundamental. 67.800 tahun—angka ini menempatkan Sulawesi, dan Indonesia secara keseluruhan, sebagai salah satu titik paling awal perkembangan kognitif manusia modern. Lukisan-lukisan itu bukan sekadar hiasan dinding gua; ia adalah bukti kapasitas berpikir simbolik, spiritualitas, dan ekspresi artistik yang kompleks.

Di Desa Liangkobori sendiri, warga telah lama hidup berdampingan dengan gua-gua purba itu. Bagi mereka, situs tersebut bukan hal asing. Namun, pemahaman akan nilai global yang dikandungnya baru benar-benar terasa ketika tim arkeolog datang dan menjelaskan temuan mereka. Salah seorang tetua desa, dengan suara bergetar, pernah berujar:

“Kami seperti mewarisi kitab suci yang tak bisa kami baca. Kini, para ilmuwan membantu kami mengerti apa yang nenek moyang coba sampaikan.”

Visi Besar untuk Sulawesi Tenggara

Di tengah gegap gempita pencapaian ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon melihat lebih jauh. Baginya, pemecahan rekor dunia ini bukan sekadar kebanggaan sesaat. Ini adalah fondasi untuk membangun identitas baru bagi Sulawesi Tenggara. Dalam berbagai kesempatan, ia menyuarakan gagasan agar provinsi ini menjelma sebagai pusat studi dan wisata peradaban prasejarah bertaraf internasional.

Gagasan itu bukan tanpa dasar. Kawasan Muna dan sekitarnya menyimpan puluhan situs arkeologi dengan lukisan dinding gua. Jika dikelola dengan serius, wilayah ini bisa menjadi laboratorium hidup bagi para peneliti sekaligus destinasi wisata ilmiah yang memikat. Infrastruktur pendukung, pusat interpretasi, dan program pelibatan masyarakat lokal menjadi keniscayaan untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Lebih dari itu, Fadli Zon menekankan pentingnya narasi baru tentang Indonesia.

“Kita tidak boleh lagi memandang diri sebagai bangsa yang hanya menerima peradaban dari luar. Temuan ini membuktikan bahwa di tanah air kita, manusia telah menciptakan karya agung sejak puluhan ribu tahun lalu. Ini harga diri kita,”
tegasnya dalam sebuah pertemuan dengan para pemangku kepentingan.

Ancaman dan Tanggung Jawab

Namun, pengakuan dunia juga membawa beban tanggung jawab yang besar. Lukisan-lukisan itu sangat rentan terhadap perubahan suhu, kelembapan, dan sentuhan manusia. Tanpa upaya konservasi yang ketat, warisan tak ternilai ini bisa memudar dan hilang selamanya. Beberapa bagian gua telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat faktor alam dan aktivitas manusia yang tidak terkontrol.

Pemerintah daerah bersama balai pelestarian cagar budaya kini bekerja keras merancang strategi perlindungan yang komprehensif. Ini mencakup pemasangan pagar pembatas, sistem pemantauan lingkungan mikro di dalam gua, hingga pelatihan pemandu lokal agar wisatawan dapat menikmati situs tanpa merusaknya. Masyarakat Desa Liangkobori dilibatkan sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian situs ini.

Harapan yang Terpahat di Batu

Rekor dunia ini, pada akhirnya, adalah tentang manusia. Tentang mereka yang hidup di Sulawesi puluhan ribu tahun silam, yang dengan pigmen tanah liat dan arang menciptakan bahasa visual yang melampaui zamannya. Dan tentang kita, manusia masa kini, yang diberi amanah untuk membaca, menjaga, dan meneruskan pesan itu kepada generasi mendatang.

Di Desa Liangkobori, anak-anak kini belajar bahwa gua di belakang rumah mereka bukan sekadar lubang di tebing. Ia adalah kapsul waktu, jendela ke masa lalu yang amat dalam. Seorang guru sekolah dasar setempat bercerita, anak-anak kini lebih bersemangat belajar sejarah.

“Mereka bangga. Mereka bilang, nenek moyang kami adalah seniman pertama di dunia,”
katanya dengan mata berbinar. Dari kebanggaan sederhana itulah, pelestarian sejati bermula.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User