Tari Zapin di Ambang Senja, Seni Islam yang Kian Pudar
Di sebuah panggung kecil berlapis tikar pandan, sepasang penari menghentak lantai kayu dengan irama gambus yang mengalun sendu. Gerakan kaki mereka bersahut-sahutan, tangan melambai syahdu, dan tubuh ...
Di sebuah panggung kecil berlapis tikar pandan, sepasang penari menghentak lantai kayu dengan irama gambus yang mengalun sendu. Gerakan kaki mereka bersahut-sahutan, tangan melambai syahdu, dan tubuh berputar pelan dalam balutan busana teluk belanga. Malam itu, di sudut kampung Bengkalis, tari zapin masih menyala—meski hanya ditonton segelintir orang tua yang setia duduk di bibir panggung. Tapi di luar sana, denyut nadinya kian melemah.
Tari zapin, warisan budaya Islam yang pernah merajai pesisir Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga pesisir Kalimantan, kini berjalan di ujung lorong senja. Ia adalah satu dari sekian banyak seni tradisi Melayu yang mengakar dari ajaran Islam dan didendangkan dalam majelis-majelis pengajian, pesta perkawinan, hingga penyambutan tamu agung. Namun, seperti batik tulis yang bersaing dengan cap printing, zapin kian tersisih oleh arus modernisasi dan berubahnya selera generasi muda. Kepunahan bukan lagi isapan jempol, melainkan kenyataan yang tengah mendekat.
Melodi yang Mulai Senyap dari Pesisir
Tari zapin bermula dari tradisi Persia dan Arab yang dibawa oleh pedagang Gujarat dan Hadramaut ke Nusantara pada abad ke-14. Dalam perjalanannya, tarian ini menyerap unsur-unsur lokal Melayu, melahirkan zapin Arab, zapin Melayu, zapin Pekanbaru, zapin Banjar, dan puluhan varian lain. Dulu, setiap malam Jumat seusai pengajian, para pemuda berkumpul untuk berzapin—gerakannya selaras dengan pukulan marwas dan petikan gambus yang melantunkan syair tentang Nabi, pujian kepada Allah, atau petuah hidup.
Kini, suara marwas itu kian jarang terdengar. Di banyak desa pesisir, tidak ada lagi anak muda yang bisa memainkan alat musik ini. "Dulu, di kampung saya, semua laki-laki bisa menari zapin. Sekarang, yang tersisa hanya saya dan dua sepupu yang sudah tua," ujar Rahman (67), seorang maestro zapin dari Batam yang sudah puluhan tahun mengajar tarian ini secara cuma-cuma. Ia bercerita dengan mata menerawang, seakan menyaksikan generasi di bawahnya berjalan menjauh.
Punahnya tari zapin tidak melulu soal beralihnya selera, melainkan juga karena hilangnya ruang budaya yang dulu menjadi panggung alaminya. Pengajian tradisional yang biasa ditutup dengan zapin mulai tergantikan oleh ceramah singkat dan layar ponsel. Pesta pernikahan kini diisi organ tunggal atau DJ dengan lampu disko. Zapin yang anggun dan sarat makna spiritual tersingkir oleh hiburan instan yang lebih "gaul".
Negara dan Komunitas Bergerak Menjaga Api
Melihat ancaman yang kian nyata, berbagai pihak mulai bergerak. Pemerintah provinsi di Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara mencanangkan program revitalisasi tari zapin melalui sekolah, sanggar, dan festival tahunan. Di Pekanbaru, Dinas Kebudayaan menggelar pelatihan wajib zapin bagi guru seni budaya SD dan SMP, lengkap dengan modul ajar dan video tutorial. "Kami tidak mau zapin hanya menjadi catatan di buku sejarah," ujar Kepala Bidang Kebudayaan Riau saat membuka Festival Zapin Nusantara tahun lalu.
Sementara itu, komunitas-komunitas independen mengambil langkah lebih personal. Sanggar Zapin Nusantara di Batam, yang didirikan oleh Rahman dan murid-muridnya, membuka kelas gratis setiap akhir pekan untuk siapa pun yang ingin belajar. Dari anak-anak usia lima tahun hingga pekerja migran yang rindu kampung halaman, mereka menjejak lantai panggung sederhana itu dengan semangat yang meledak-ledak. Salah satu muridnya, Aisyah (12), bercerita, "Awalnya saya malu karena teman-teman bilang zapin itu kuno. Tapi setelah belajar, ternyata susah dan indah banget gerakannya. Saya jadi bangga."
Upaya digital juga mulai dilakukan. Beberapa maestro zapin merelakan gerakan mereka direkam dan diunggah ke kanal YouTube, berharap generasi digital yang lebih akrab dengan layar bisa menyentuh zapin lewat cara yang mereka pahami. Akun-akun seperti Zapin Heritage dan LAM Riau aktif membagikan tutorial, sejarah, hingga kolaborasi zapin dengan musik modern—meski tak sedikit yang mengkritik bahwa percampuran itu justru mengaburkan esensi zapin sebagai seni Islam. Namun bagi para pelestari, lebih baik beradaptasi sedikit daripada benar-benar hilang.
Di Balik Upaya, Rintangan Masih Membentang
Meski berbagai inisiatif telah digelorakan, jalan menuju lestari masih terjal. Persoalan mendasar adalah minimnya regenerasi pengajar. Para maestro seperti Rahman sudah lanjut usia, sementara tidak banyak anak muda yang mau menekuni seni ini secara serius karena tidak menjanjikan penghasilan. "Saya mengajar gratis puluhan tahun, tapi untuk makan sehari-hari saya menjual kue keliling. Anak-anak muda mana yang mau seperti itu?" ujar Rahman dengan getir.
Selain itu, stigma bahwa tari zapin identik dengan kelompok tua atau kaum puritan masih melekat. Di kalangan remaja urban, zapin dianggap kurang keren dibanding dance Korea atau hip-hop. Transformasi kurikulum sekolah yang menempatkan seni tradisi sebagai pelengkap, bukan prioritas, juga membuat zapin tetap berada di pinggiran. Belum lagi, dokumentasi otentik tentang variasi gerak dan syair zapin di banyak daerah sudah banyak yang hilang karena hanya diwariskan secara lisan.
Namun, secercah harapan tetap ada. Di sebuah kampung terpencil di pesisir Bengkalis, sekelompok ibu rumah tangga justru menjadi benteng terakhir zapin. Tanpa diminta, tanpa bantuan dana, mereka melatih tarian ini kepada anak-anak kampung setiap kali bulan purnama. "Biar pun hanya di bawah pohon dan dipeluk nyamuk, kami tidak rela zapin mati di sini," kata Salmah (54), salah satu pelatih yang tak pernah mengenyam sekolah formal. Bagi mereka, zapin bukan sekadar tarian—ia adalah doa yang digerakkan, selawat yang ditenun dalam langkah kaki dan ayunan tangan.
Kisah Salmah dan Rahman adalah potret bahwa perjuangan mempertahankan zapin bukan hanya soal kebijakan atau anggaran, melainkan tentang hati yang terpaut pada akar spiritual dan identitas. Seni budaya Islam seperti zapin mungkin memang sedang berjalan di ujung senja. Tapi selama masih ada yang menari dalam gelap, selama syairnya masih didendangkan meski hanya di sudut-sudut kampung, ada alasan untuk percaya bahwa fajar boleh jadi akan kembali menyingsing.
Baca juga:
Comments (0)