Sutradara Gonjiam Beri Restu untuk Adaptasi Indonesia
Di sebuah kafe kecil di kawasan Hongdae, Seoul, Jung Bum-shik duduk dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya menerawang ke luar jendela, mengenang momen-momen menegangkan saat ia menyutradarai...
Di sebuah kafe kecil di kawasan Hongdae, Seoul, Jung Bum-shik duduk dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya menerawang ke luar jendela, mengenang momen-momen menegangkan saat ia menyutradarai Gonjiam: Haunted Asylum—film horor yang mengguncang bioskop Korea pada 2018. Kini, kabar tentang adaptasi film tersebut ke versi Indonesia, berjudul 402 Rumah Sakit Angker Korea yang digarap oleh Anggy Umbara, membuatnya tersenyum. Bukan karena bangga semata, melainkan karena perjalanan panjang yang ia lalui untuk menghadirkan kisah horor yang tak hanya menakutkan, tapi juga manusiawi.
Perjalanan Menghidupkan Kembali Ketakutan
Jung Bum-shik mengisahkan perasaannya saat pertama kali mendengar rencana adaptasi ini. Saya tidak percaya. Gonjiam adalah tempat yang sangat pribadi bagi saya. Saya menghabiskan berbulan-bulan di sana, merasakan dingin dan sunyi yang menusuk tulang,
ujarnya dengan suara bergetar. Bagi Jung, Gonjiam bukan sekadar lokasi syuting—ia adalah saksi bisu dari pergulatan batinnya. Setiap sudut bangunan itu menyimpan cerita. Saya ingin penonton Indonesia merasakan getaran yang sama, tapi dengan sentuhan lokal yang autentik,
tambahnya.
Anggy Umbara, sang sutradara Indonesia, bukanlah nama asing di industri horor Tanah Air. Namun, Jung menekankan bahwa adaptasi ini bukan sekadar menyalin adegan demi adegan. Yang paling penting adalah jiwanya,
kata Jung. Horor terbaik lahir dari ketakutan yang paling sederhana—kehilangan, kesepian, atau kenyataan bahwa kita tidak sendirian di tempat gelap. Saya percaya Anggy paham itu.
Dalam perbincangan via panggilan video, Jung mengaku sempat berbagi catatan pribadi tentang atmosfer yang ia ciptakan di Gonjiam. Saya kirimkan dia rekaman suara angin malam di sana. Suara itu, bagi saya, adalah napas bangunan itu sendiri.
"Horor terbaik lahir dari ketakutan yang paling sederhana—kehilangan, kesepian, atau kenyataan bahwa kita tidak sendirian di tempat gelap." — Jung Bum-shik
Antara Ketakutan dan Harapan
Di balik layar proses adaptasi ini, tersimpan momen mengharukan yang membuat Jung hampir meneteskan air mata. Saat Anggy mengiriminya cuplikan awal 402 Rumah Sakit Angker Korea, Jung tertegun. Ada adegan seorang perawat yang berjalan di koridor gelap. Saya tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi saya bisa merasakan getaran yang sama seperti saat saya syuting dulu. Ini bukan sekadar film, ini adalah jembatan antara dua budaya,
katanya dengan penuh inspirasi.
Namun, perjalanan itu tidak mudah. Jung bercerita tentang tekanan untuk membuat film horor yang tidak hanya menakutkan, tapi juga menghormati kisah asli. Saya berjuang melawan ekspektasi publik. Banyak yang mengharapkan hantu-hantu mengerikan dan jumpscare. Tapi saya ingin cerita yang lebih dalam: tentang trauma, hubungan keluarga, dan bagaimana ketakutan bisa mengikat atau menghancurkan kita,
jelasnya. Bagi Jung, mimpi terbesarnya adalah agar penonton Indonesia tidak hanya takut, tapi juga tersentuh oleh perjuangan karakter-karakternya. Saya ingin mereka pulang dari bioskop dan merenung: apa yang sebenarnya kita takuti?
Inspirasi dari Kesederhanaan
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, Jung Bum-shik mengambil nafas panjang. Ia menunjukkan foto lawas di ponselnya—sebuah gambar bangunan Gonjiam yang terbengkalai, dikelilingi ilalang liar. Ini adalah momen paling sederhana yang menginspirasi saya. Saat saya berdiri di sana, saya merasa bahwa setiap pintu yang terkunci menyimpan kisah yang tak terucapkan. Begitu pula dengan adaptasi ini—ia bukan tentang duplikasi, tapi tentang dialog antara dua dunia,
tuturnya.
Kisah ini mengajarkan bahwa horor bisa menjadi sarana untuk memahami kemanusiaan. Saya berharap penonton Indonesia merasakan perjalanan emosional yang saya alami saat membuat film aslinya: ketakutan, air mata, dan pada akhirnya, kebangkitan,
kata Jung. Di akhir perbincangan, ia menyisipkan pesan untuk Anggy: Jangan takut berbeda. Kisah terbaik lahir dari keberanian untuk berubah.
Sebuah nasihat yang sederhana, namun menyentuh—seperti angin malam di Gonjiam yang terus berbisik, bahkan setelah sekian lama.
Comments (0)