Misteri Mahasiswa Hilang di Kuil The Shrine, Kim Jae-joong Berperan Sebagai Dukun

Senja mulai turun di sebuah kuil tua yang berdiri sunyi di lereng bukit. Cahaya jingga yang biasanya menghangatkan tiba-tiba terasa dingin saat seorang mahasiswa bernama Dito melangkah masuk, hanya un...

Jul 12, 2026 - 04:34
0 0
Misteri Mahasiswa Hilang di Kuil The Shrine, Kim Jae-joong Berperan Sebagai Dukun

Senja mulai turun di sebuah kuil tua yang berdiri sunyi di lereng bukit. Cahaya jingga yang biasanya menghangatkan tiba-tiba terasa dingin saat seorang mahasiswa bernama Dito melangkah masuk, hanya untuk tidak pernah terlihat lagi oleh siapa pun. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang dipenuhi aroma dupa dan lumut, hanya tersisa ranselnya yang terbuka—seolah jadi saksi bisu sebuah kepergian yang tak kasatmata. Kabar hilangnya Dito mengguncang kampus dan warga sekitar, namun tak ada yang berani mendekati kuil itu. Sebab, bisik-bisik menyebut tempat itu punya kisah kelam yang telah lama terkubur.

Momen mengharukan terjadi ketika keluarga korban tak lagi tahu harus berharap kepada siapa. Polisi tak menemukan petunjuk, dan logika seakan mentok di dinding batu kuil yang bisu. Di tengah kebuntuan itulah, muncul sosok yang tak terduga: seorang dukun muda bernama Bima, diperankan dengan intensitas memukau oleh Kim Jae-joong. Bima bukan dukun biasa; ia memiliki kepekaan yang lahir dari perjuangan panjang melawan trauma masa kecilnya sendiri. "Kadang, yang terlihat sederhana justru menyimpan luka paling dalam," bisiknya saat pertama kali menginjakkan kaki di kuil itu, seakan berbicara kepada arwah yang tak kasatmata.

Keheningan yang Menelan Jejak

Kuil itu, yang oleh penduduk setempat disebut The Shrine, menyimpan lebih dari sekadar misteri hilangnya Dito. Ternyata, empat mahasiswa lain juga lenyap di tempat yang sama dalam kurun waktu dua tahun terakhir—semuanya tanpa jejak, tanpa saksi. Kisah ini perlahan terungkap ketika Bima mulai menggali ingatan warga. Seorang ibu tua dengan air mata yang tak kunjung kering mengisahkan bagaimana anaknya, Raka, hanya berniat membersihkan altar untuk tugas kuliah, namun tak pernah pulang. "Dia bilang hanya sebentar. Tapi sebentar itu sudah dua tahun," ucapnya lirih, suaranya hampir tertelan isak.

Bima tak langsung percaya begitu saja pada kisah mistis. Ia memilih menyelami sisa-sisa energi yang tertinggal di kuil—perjalanan batin yang menguras emosi. Di balik layar, Kim Jae-joong sendiri mengaku harus berjuang keras memerankan karakter ini, terutama saat harus menunjukkan rapuhnya seorang dukun yang ternyata juga menyimpan mimpi untuk bisa hidup normal seperti orang lain. "Saya belajar bahwa menjadi 'kuat' sering kali berarti berani mengakui rasa takut," tuturnya dalam satu sesi latihan. Adegan demi adegan memperlihatkan Bima bukan sekadar pengusir roh, melainkan manusia yang terluka dan mencari makna dari setiap misteri yang ia pecahkan.

Panggilan Sang Dukun

Bima awalnya enggan terlibat. Ia sudah bersumpah untuk meninggalkan dunia gaib dan membangun kehidupan baru yang sederhana—berjualan tanaman hias, mendengarkan musik, melakukan hal-hal yang membuatnya merasa manusiawi. Namun, tatapan kosong orang tua Dito yang datang menemuinya mengubah segalanya. Ada semacam panggilan yang tak bisa ia tolak, sebuah ikatan yang membuatnya kembali ke akar spiritual yang justru dulu membuatnya menderita. "Mereka kehilangan anaknya, dan saya tahu rasanya kehilangan diri sendiri," katanya kepada sahabatnya, menjadi momen mengharukan yang membuka jalan menuju kuil.

Begitu memasuki area kuil, Bima langsung merasakan sesuatu yang ganjil: bukan hanya kehadiran entitas jahat, melainkan semacam pusaran energi yang seolah memakan waktu. Dalam salah satu penglihatannya, ia menyaksikan potongan-potongan kenangan para mahasiswa yang hilang—tertawa bersama teman, menulis jurnal, mencium kening ibu sebelum berangkat—semua terperangkap dalam dimensi yang tidak bisa dijangkau nalar. Inspirasi untuk tidak menyerah justru datang dari benda-benda sederhana milik korban: sebuah buku catatan dengan halaman terakhir bertuliskan "mimpi belum selesai", atau foto keluarga yang lusuh di dalam dompet.

Di Balik Tabir Misteri

Perjalanan Bima mencapai puncak saat ia harus berhadapan langsung dengan sumber dari segala kehilangan itu—sebuah kekuatan gelap yang ternyata menyimpan trauma berabad-abad silam. Bukan sekadar ritual dan mantra, melainkan kebutuhan untuk mengurai cerita yang belum selesai, agar jiwa-jiwa yang terperangkap bisa bangkit menuju kedamaian. Kim Jae-joong berhasil menyuguhkan puncak emosional yang menyentuh: di tengah pertarungan metafisik, Bima justru merangkul luka batinnya sendiri, dan dari sana lahir kekuatan yang tak terduga.

Setelah tabir terbuka, para mahasiswa yang hilang tidak langsung kembali begitu saja. Proses penyelamatan mereka justru menjadi refleksi tentang arti kehilangan dan harapan. Salah satu adegan paling mengharukan adalah ketika Dito, dalam kondisi setengah sadar, menggenggam tangan Bima dan berbisik, "Saya cuma mau pulang." Kata-kata itu menjadi pengingat bahwa di balik segala kengerian, inti dari perjuangan ini sederhana: mengembalikan seseorang ke pangkuan orang-orang yang mencintainya. The Shrine pun bukan lagi sekadar cerita horor, melainkan kisah tentang rela berkorban demi menyelamatkan secercah mimpi yang nyaris padam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User