Sutradara Gonjiam Janji Syuting Horor di Indonesia, Ada Syaratnya

Hembusan angin malam di Gangnam seolah membawa bisikan dari negeri seberang. Di balik jendela apartemennya, sutradara horor ternama Korea Selatan itu memandangi layar ponsel yang menampilkan foto-foto...

Jul 12, 2026 - 04:38
0 0
Sutradara Gonjiam Janji Syuting Horor di Indonesia, Ada Syaratnya

Hembusan angin malam di Gangnam seolah membawa bisikan dari negeri seberang. Di balik jendela apartemennya, sutradara horor ternama Korea Selatan itu memandangi layar ponsel yang menampilkan foto-foto rumah sakit tua di pelosok Indonesia. “Saya merinding, tapi justru itulah yang saya cari,” ujarnya lirih, mengawali percakapan tentang mimpi besarnya: menyutradarai film horor di Indonesia.

Awal Mula Sebuah Janji

Jung Bum-shik, otak di balik film horor Gonjiam: Haunted Asylum yang mengguncang box office Korea pada 2018, bukanlah orang baru dalam menyulap ketakutan menjadi tontonan yang memikat. Namun, di antara tumpukan naskah dan jadwal syuting yang padat, ada satu hasrat yang terus menggelitik: merekam teror yang berasal dari akar budaya lain. Baginya, Indonesia adalah “laboratorium rasa takut” yang belum banyak dijamah. “Di sana, kepercayaan pada dunia gaib masih begitu kental. Bukan sekadar hantu, tapi ada filosofi di balik setiap penampakan,” katanya.

Janji itu ia lontarkan dalam sebuah pertemuan tertutup dengan komunitas film independen di Jakarta. Bukan sekadar ucapan kosong, ia menyodorkan selembar kertas berisi syarat-syarat yang menurutnya harus dipenuhi agar proyek itu bisa terwujud. Bukan anggaran besar atau bintang papan atas, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: keterlibatan warga setempat dan keaslian cerita lokal.

Jejak Sukses yang Menginspirasi

Bagi para pencinta horor, nama Gonjiam sudah menjadi legenda modern. Film yang diangkat dari rumor rumah sakit jiwa terbengkalai di Gwangju itu berhasil meraup jutaan dolar dan menyaingi film-film mapan. Namun, ketimbang berbangga dengan angka, Bum-shik justru mengingat momen paling mengharukan ketika seorang penonton di Busan mendatanginya seusai pemutaran. “Dia bilang, ‘Film Anda membuat saya berdamai dengan ketakutan masa kecil saya’,” kenangnya dengan mata berbinar. “Itu mengingatkan saya bahwa horor bukan sekadar kejutan, melainkan terapi jiwa.”

Dari situ, ia mulai mencari cerita horor lintas negara. Indonesia, dengan kekayaan mitos seperti kuntilanak, pocong, hingga rumah sakit angker era kolonial, segera mencuri perhatiannya. “Saya membaca tentang Rumah Sakit Angker 402, tentang para pasien yang tak pernah pulang. Itu sangat sinematik,” ujarnya. Namun, ia tak ingin sekadar memindahkan formula Korea ke tanah air kita. Sebaliknya, ia ingin melebur dengan kultur setempat.

Syarat yang Menggugah Hati

Lantas, apa saja syarat yang ia ajukan? Bum-shik menyebut beberapa poin penting. Pertama, ia menginginkan akses ke lokasi syuting yang benar-benar menyimpan sejarah kelam dan diyakini angker oleh penduduk sekitar, bukan sekadar set yang dibangun di studio. Kedua, ia meminta melibatkan warga lokal—baik sebagai pemain figuran, konsultan budaya, bahkan pengisah cerita—agar aura takut yang tertangkap kamera bukanlah kepalsuan. “Saya ingin saat penonton melihat film ini, mereka bisa merasakan bobot duka dan misteri yang nyata, bukan rekayasa,” tegasnya.

Syarat ketiga yang paling menyentuh: ia ingin sebagian keuntungan film disalurkan untuk pelestarian situs bersejarah yang dijadikan lokasi syuting, sekaligus memberdayakan ekonomi warga sekitar. “Saya tidak mau datang, mengambil cerita, lalu pergi begitu saja. Ini harus menjadi hubungan yang saling menghidupi,” katanya. Syarat ini sontak menuai decak kagum dari para pelaku film tanah air. Tak banyak sineas asing yang menaruh perhatian pada dampak sosial sejauh itu.

Harapan Baru bagi Sineas Lokal

Rencana ini tentu saja menjadi oase di tengah gurun industri horor Indonesia yang sering kali dipandang sebelah mata. Banyak pekerja film lokal yang mengaku terharu dengan sikap rendah hati Bum-shik. Seorang penulis skenario muda, Dian, menceritakan pertemuannya dengan sang sutradara. “Dia mendengarkan saya bercerita tentang legenda Sundel Bolong selama hampir dua jam. Dia bertanya tentang detail ritual, tentang apa yang dipercaya masyarakat. Saya merasa dihargai,” ujar Dian dengan suara bergetar.

Bagi Bum-shik, proses ini justru menjadi jembatan untuk memahami Indonesia lebih dalam. “Saya tidak hanya ingin membuat film, saya ingin memahami jiwa masyarakatnya. Setiap hantu di sini punya kisah pilu; setiap rumah sakit angker adalah monumen kepedihan kolonial dan ketidakberdayaan. Itu harus diangkat dengan hormat,” paparnya.

Kini, bola berada di tangan para pemangku kepentingan perfilman Indonesia. Apakah syarat-syarat tulus itu akan dijawab dengan kesempatan? Di sudut ruang tamunya yang dipenuhi buku-buku tentang mitologi Nusantara, Bum-shik menyimpan sebuah foto lawas: sebuah rumah sakit tua di sebuah kota kecil di Jawa, dengan jendela-jendela pecah dan bayangan yang seakan bergerak. “Saya menunggu,” katanya pelan, “untuk suatu hari bisa berdiri di depan bangunan itu, dan mulai merekam kisah yang layak diceritakan.”

Mimpi itu, jika terwujud, bukan hanya akan melahirkan karya horor kelas dunia. Lebih dari itu, ia akan membuktikan bahwa ketakutan bisa menjadi benang merah yang menghubungkan dua bangsa, dan bahwa di balik setiap jeritan, selalu ada harapan untuk saling memahami.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User