Sumbawa Barat — Proyek Smelter Amman Tembus 76,1 Persen, Warga Sambut Harapan Baru
Debu tipis masih beterbangan di hamparan proyek seluas puluhan hektare di kawasan industri Sumbawa Barat. Di kejauhan, struktur baja raksasa menjulang, dik
Debu tipis masih beterbangan di hamparan proyek seluas puluhan hektare di kawasan industri Sumbawa Barat. Di kejauhan, struktur baja raksasa menjulang, dikelilingi alat berat yang terus menderu. Di salah satu sudut, seorang lelaki paruh baya bernama Ruslan menatap konstruksi yang perlahan berbentuk dengan mata berbinar. “Saya sudah delapan bulan di sini, setiap hari naik turun scaffolding. Tapi melihat itu semua, rasanya bangga,” ujarnya sambil menunjuk rangka bangunan smelter yang kian sempurna.
Proyek strategis nasional milik PT Amman Mineral Internasional Tbk itu kini telah mencapai tonggak penting. Hingga pekan ini, kemajuan konstruksi smelter tembaga tercatat 76,1%, sementara pembangunan fasilitas pemurnian logam mulia menyentuh angka 72,7%. Angka-angka itu bukan sekadar statistik bagi warga sekitar—bagi mereka, itu adalah wujud nyata janji kesejahteraan yang selama ini dinantikan.
Di Balik Progres, Ada Cerita Manusia
Di balik deretan persentase tersebut, ada ribuan kisah seperti Ruslan. Pria 42 tahun itu dulunya hanyalah buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Ketika proyek smelter dimulai, ia nekat mendaftar sebagai pekerja konstruksi. Kini, ia mampu menyekolahkan dua anaknya hingga jenjang menengah atas. “Dulu mikirnya bagaimana bisa bertahan, sekarang malah bisa nabung. Proyek ini seperti malaikat buat kami,” katanya lirih.
Bukan hanya Ruslan. Sekitar 4.000 tenaga kerja lokal terserap selama masa konstruksi, dan ribuan lainnya akan dibutuhkan saat fase operasional dimulai. Kehadiran smelter ini juga memicu geliat usaha kecil: warung makan, jasa transportasi, hingga penyewaan alat tumbuh di sekitar lokasi proyek. “Pendapatan saya naik tiga kali lipat sejak setahun terakhir,” kata Salma, pemilik warung pecel yang kini bisa mengirim uang rutin ke orang tuanya di Lombok.
Harapan di Ujung Pipa Smelter
Smelter ini dirancang untuk mengolah konsentrat tembaga dari Tambang Batu Hijau agar menjadi katoda tembaga—produk dengan nilai tambah berlipat. Di sisi lain, fasilitas pemurnian logam mulia akan mengekstraksi emas dan perak dari residu pengolahan. Dulu, konsentrat mentah sering diekspor begitu saja, sebuah paradoks bagi negeri kaya mineral. Kini, harapan bergeser: dari sekadar menggali, menjadi mengolah dan memiliki.
“Kalau dulu hasil bumi kita pergi begitu saja, sekarang kita bisa tersenyum karena pengolahan ada di sini. Saya ingin anak saya jadi operator smelter, bukan buruh tambang,” ucap Firman, seorang tokoh masyarakat Desa Tongo, dengan suara bergetar.
Kepala proyek konstruksi yang bertanggung jawab, dalam wawancara virtual, menyatakan bahwa target operasional smelter sesuai jadwal: akhir tahun ini. “Kami tidak mengejar kemegahan, tapi dampak jangka panjang. Setiap baut yang terpasang harus memenuhi standar keselamatan tertinggi.” Ia tak menampik tantangan, terutama cuaca ekstrem yang sesekali menghentikan pekerjaan, namun semangat tim menjadi bahan bakar utama. “Melihat mata pekerja kami di pagi hari—itu yang membuat kami terus maju.”
Saat senja merayap di Sumbawa, Ruslan dan rekan-rekannya bersiap pulang. Wajah mereka lelah, namun ada sesuatu yang berkilat di mata: kebanggaan. Proyek ini bukan sekadar tumpukan beton dan baja. Ia adalah pengingat bahwa di tanah ini, harapan akan hilirisasi tak lagi sekadar mimpi. Angka 76,1% bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari babak baru bagi masyarakat tempat tambang itu berdiri.
Comments (0)