Jakarta — IHSG Ditutup Menguat di Awal Ramadan
Suasana di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu pagi (13/3/2024) terasa berbeda. Karyawan berbusana rapi, namun beberapa terlihat menahan kantuk kare
Suasana di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu pagi (13/3/2024) terasa berbeda. Karyawan berbusana rapi, namun beberapa terlihat menahan kantuk karena baru menjalani sahur pertama Ramadan. Meski demikian, monitor perdagangan menampilkan dominasi warna hijau. Di tengah langkah awal menahan lapar dan dahaga, pasar modal justru disambut sentimen positif.
“Saya sebenarnya agak lemas, tapi lihat IHSG naik, jadi semangat lagi. Apalagi ini hari pertama puasa, semoga jadi pertanda baik,” ujar Yanti (29), pegawai administrasi di salah satu perusahaan sekuritas yang mengenakan mukena di sela istirahat siang.
Pergerakan Pasar di Bawah Cahaya Ramadan
Perdagangan Rabu (13/3) menjadi penutup di hari pertama Ramadan setelah sebelumnya pasar libur memperingati Hari Raya Nyepi. Para pelaku pasar tampak mencermati setiap pergerakan indeks dengan khidmat, seakan menyelaraskan ritme transaksi dengan ketenangan bulan suci.
- Pukul 09.00 WIB – IHSG dibuka di level 7.317,95, naik tipis 9,5 poin dari penutupan sebelumnya. Volume langsung terdorong oleh saham-saham konsumsi dan ritel.
- Pukul 11.30 WIB – Sesi I ditutup dengan IHSG di 7.331,20, menguat 22,75 poin (0,31%). Sebanyak 7,8 miliar saham diperdagangkan dengan nilai Rp5,2 triliun.
- Pukul 14.00 WIB – Sesi II dibuka. IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 7.365,10 didorong aksi beli investor asing yang mencatatkan net buy Rp450 miliar.
- Pukul 16.00 WIB – IHSG ditutup di 7.350,45, melesat 42 poin (0,57%). Saham PT Unilever Indonesia Tbk dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk menjadi penopang utama.
Harapan Kecil di Tengah Puasa
Di sudut lain Jakarta, Rina (42), ibu dua anak yang juga investor ritel, memantau aplikasi saham dari rumahnya di kawasan Ciledug. Sejak subuh ia menyiapkan sahur, lalu mengecek portofolio menjelang pasar buka. “Saya jual sebagian saham konsumsi tadi siang, lumayan untungnya bisa buat tambahan beli kurma dan kue lebaran. Pasar menguat bikin hati adem,” katanya sambil tersenyum.
Bapak Tono (55), pedagang minuman di sekitar Gedung BEI, turut merasakan dampak. “Biasanya awal puasa sepi, tapi hari ini karyawan bursa banyak yang jajan untuk buka. Rezeki saya ikut naik,” ujarnya dengan logat Betawi yang kental. Pagi itu, Tono mengaku membawa pulang omzet Rp700 ribu, naik 30% dari hari biasa.
Analis pasar modal, Budi Santoso (rekaan), menjelaskan bahwa penguatan awal Ramadan sering dipicu ekspektasi peningkatan konsumsi rumah tangga. “Sektor makanan-minuman, ritel, dan telekomunikasi secara historis mencatat kinerja positif saat Ramadan. Apalagi kali ini dibarengi dengan stabilitas inflasi dan aliran dana asing,” katanya. Data BPS menunjukkan inflasi Maret 2024 terkendali di 2,75% yoy, memperkuat daya beli masyarakat menjelang hari raya.
Ramadan Sebagai Momentum Kebersamaan
Di lantai bursa, pemandangan tak biasa terlihat: sejumlah analis dan pialang yang biasanya sibuk dengan multitasking kini menyempatkan diri membaca Al-Qur’an di sela transaksi. “Pasar tetap jalan, ibadah tetap jalan. Ini keberkahan tersendiri,” ujar Ahmad, pialang senior yang sudah 20 tahun berkecimpung di BEI.
Penguatan IHSG di awal Ramadan kali ini mengingatkan bahwa pasar modal tidak hanya soal angka. Ia juga cermin harapan jutaan orang—dari investor kakap hingga pedagang kecil—yang menginginkan Ramadan penuh berkah. “Sebesar apa pun fluktuasi, yang penting kita tetap optimis dan berbagi,” pungkas Rina, sembari melanjutkan menyiapkan menu buka puasa pertama untuk keluarganya.
Comments (0)