Perjuangan, Karya, dan Senyum Seharian yang Menginspirasi
Di meja panjang yang dikelilingi tanaman hijau, Rina memperhatikan Aliya dan Bima berebut potongan ayam goreng krispi. Uap hangat masih mengepul dari piring, berpadu dengan aroma rempah yang menguar d...
Di meja panjang yang dikelilingi tanaman hijau, Rina memperhatikan Aliya dan Bima berebut potongan ayam goreng krispi. Uap hangat masih mengepul dari piring, berpadu dengan aroma rempah yang menguar dari sambal mangga muda. 'Ini momen yang bikin saya terus semangat,' bisiknya, menyeka ujung mata dengan tisu. Di Umatis Resto and Venue, BSD, Sabtu siang itu terasa penuh warna.
Hangatnya Kebersamaan di Umatis Resto and Venue
Tempat makan keluarga ini bukan sekadar lokasi singgah. Bagi Rina, ibu dua anak yang juga bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta, Umatis Resto adalah 'safe space' – tempat ia melepas penat dan membangun kenangan. Setiap akhir pekan, ia sengaja memilih meja di sudut, membiarkan anak-anak bermain di area terbuka sambil menikmati menu andalan seperti iga bakar madu atau nasi campur khas Manado. 'Lihat mereka tertawa, itu obat paling manjur setelah seminggu bergulat dengan pasien,' ujar Rina, tangannya mengelus pundak Bima yang asyik mewarnai buku gambar. Resto yang menyatu dengan venue serbaguna itu kerap menjadi saksi bisu perayaan keluarga kecil hingga reuni sekolah, namun bagi Rina, kelegaan justru hadir dalam rutinitas biasa: sarapan santai tanpa tergesa. Di balik keceriaan itu, ada perjalanan panjang yang sempat mengguncang kepercayaan dirinya.
Ketika Denim Daur Ulang Bertemu Tenun Nusantara yang Memberontak
Siang menjelang, Rina menyempatkan diri meluncur ke Jakarta Convention Center. Matanya langsung terpana pada barisan busana di atas catwalk: gaun panjang berbahan tenun Sumba yang dipadukan jaket denim dengan sobekan artistik. Itulah perhelatan 'Algorithm: Universal Language', persembahan satu dekade Wilsen Willim berkarya. 60 tampilan memadukan wastra Nusantara, benang daur ulang, dan nuansa punk – kontras yang justru sarat pesan. Di salah satu sudut backstage, Rina berkesempatan bertemu langsung sang desainer. 'Saya ingin membuktikan bahwa keindahan bisa lahir dari barang yang dianggap sisa,' kata Wilsen lembut namun tegas. Baginya, perjalanan sepuluh tahun bukan hanya tentang menciptakan adibusana, melainkan membangun kesadaran: benang dari jeans bekas yang dipintal kembali, lalu disulam dengan motif lurik atau ikat dari penenun perempuan di Kediri. 'Ini bukan sekadar fesyen, ini bahasa universal tentang harapan,' tambah Wilsen, mengingatkan Rina pada sosok pasiennya yang sering putus asa. Momen itu seketika menggerakkan hati Rina untuk lebih berani memulai kembali.
Ritual Tenang untuk Kulit yang Tak Selalu Sempurna
Malam merangkak saat Rina duduk di hadapan cermin kecilnya. Jerawat yang muncul akibat stres dan kurang tidur sering membuatnya cemas, namun ia memilih pendekatan yang merawat, bukan menghakimi diri. Urutan skincare yang ia terapkan sederhana namun teratur: pembersih wajah berbasis gel tanpa sulfat, toner dengan chamomile yang ia tepuk pelan, serum niacinamide untuk menenangkan kemerahan, dan pelembap gel ringan yang terasa dingin di kulit. 'Dulu saya panik, gonta-ganti produk, malah tambah drama. Sekarang saya anggap ini momen meditasi,' tuturnya sambil tersenyum kecil. Setiap langkah ia lakukan dengan tarikan napas panjang, melepaskan beban harian yang mengendap. Ia pun tak lupa sunscreen di pagi hari karena bekas jerawat rentan menghitam. Yang terpenting, ia menghentikan kebiasaan memencet jerawat di depan cermin – sesuatu yang dulu ia lakukan dengan panik. Kini, di hadapan kaca, Rina menemukan ketenangan: wajahnya yang berjerawat bukanlah kekalahan, melainkan peta kecil dari perjuangan yang ia menangkan setiap hari.
Comments (0)