Kakak PM Netanyahu Tewas Ditembak Sniper, Netanyahu Murka
Yerusalem, Beritaseputar.com — Suasana duka mendalam menyelimuti Israel setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa kakak kandungnya, Yoel
Yerusalem, Beritaseputar.com — Suasana duka mendalam menyelimuti Israel setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa kakak kandungnya, Yoel Netanyahu (68), tewas akibat tembakan sniper dalam sebuah insiden di dekat permukiman Kiryat Arba, Tepi Barat, pada Kamis pagi (6/5/2026). Kabar ini langsung memicu gelombang kemarahan di tingkat tertinggi pemerintahan Israel, dengan Netanyahu sendiri berjanji akan memberikan balasan yang “tegas dan tanpa ampun.”
Yoel, yang merupakan pensiunan perwira tinggi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan dikenal sebagai penasihat senior tidak resmi sang adik, diserang saat sedang menginspeksi proyek pembangunan pos keamanan sipil di perbukitan Hebron. Menurut keterangan militer, sebuah tim sniper yang diyakini berasal dari sel milisi Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, telah menunggu di posisi tersembunyi sejauh 400 meter sebelum melepaskan satu tembakan akurat ke arah dada korban.
Kronologi Penembakan di Perbatasan
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.30 waktu setempat. Yoel Netanyahu tiba di lokasi bersama dua staf dan seorang perwira keamanan untuk meninjau pemasangan sensor perimeter. Saksi mata, yang merupakan pekerja konstruksi, mengaku mendengar satu letupan keras, lalu melihat Yoel terjatuh dengan luka tembak parah di bagian dada kiri.
“Semuanya berjalan normal. Tiba-tiba ada suara seperti cambuk yang sangat keras, dan dia terhuyung lalu ambruk. Kami semua langsung tiarap dan mencoba memberikan pertolongan pertama, tapi darahnya terlalu banyak,”
ungkap David Levi, mandor proyek, saat diwawancarai. Korban segera dievakuasi dengan helikopter medis ke Rumah Sakit Hadassah Ein Kerem di Yerusalem, namun nyawanya tidak tertolong. Pihak rumah sakit mengonfirmasi kematian akibat luka tembus yang merobek aorta.
Reaksi Netanyahu: Air Mata dan Ancaman
Perdana Menteri Netanyahu, yang saat itu sedang memimpin rapat kabinet, langsung meninggalkan ruangan setelah menerima kabar. Menurut sejumlah menteri yang hadir, Netanyahu terlihat pucat dan nyaris kehilangan keseimbangan. Beberapa jam kemudian, ia muncul dalam konferensi pers darurat di depan kompleks Kediaman Perdana Menteri, dengan mata sembab dan suara bergetar, tetapi juga penuh amarah.
Dalam pernyataannya yang disiarkan langsung televisi nasional, Netanyahu mengatakan: “Darah Yoel, darah saudara saya, tidak akan tertumpah sia-sia. Tangan-tangan pengecut yang membidik dari bayang-bayang akan kami cabut sampai ke akarnya. Kami tidak akan berhenti sampai setiap pelaku dan pengirimnya mendapatkan ganjaran yang setimpal.”
Pidato itu disambut dukungan luas dari kalangan sayap kanan dan para pemukim di Tepi Barat. Namun, di saat yang sama, masyarakat internasional mulai mengkhawatirkan eskalasi militer besar-besaran yang akan semakin menjauhkan prospek perdamaian.
Dampak Politik dan Keamanan
Insiden ini dinilai sebagai pukulan personal sekaligus politis bagi Netanyahu. Yoel bukan hanya saudara, tetapi juga tokoh penting di balik layar yang sering memberi nasihat strategis terkait kebijakan permukiman. Kematiannya diprediksi akan mengeraskan sikap pemerintah Israel terhadap Hamas dan Otoritas Palestina.
Beberapa perkembangan langsung terjadi:
- Operasi militer siaga: IDF segera menggelar razia besar-besaran di Hebron dan kota-kota sekitar. Dua tersangka telah ditangkap, sementara satu orang dinyatakan buron.
- Blokade Gaza diperketat: Semua jalur penyeberangan ditutup total, memutus pasokan bahan pokok bagi warga Palestina di Jalur Gaza.
- Sidang darurat Knesset: Parlemen Israel akan menggelar voting untuk memberikan mandat khusus operasi militer dengan cakupan yang lebih luas.
Analis politik Timur Tengah, Dr. Aviram Eldar, menyebut peristiwa ini sebagai “game-changer.” “Bagi Netanyahu, ini bukan lagi persoalan strategis biasa. Ini sudah menyentuh inti pribadi. Kita bisa mengantisipasi kampanye militer yang jauh lebih agresif, bahkan mungkin melibatkan tindakan di luar perbatasan. Sayangnya, warga sipil dari kedua pihak akan kembali menjadi korban,” jelasnya.
Sementara itu, juru bicara Hamas menolak bertanggung jawab langsung, meski menyebut penyerangan terhadap tokoh zionis adalah “respon alami atas pendudukan.” Sikap ini menambah ketegangan dan membuat mediasi oleh Mesir dan Qatar berada di titik paling sulit. Dunia kini menanti seberapa jauh Netanyahu akan melangkah—dan berapa harga yang harus dibayar oleh kawasan yang sudah lama bergolak itu.
Comments (0)