Mewujudkan Fondasi Cemerlang, DPN Dukung Literasi Numerasi Nasional

Di sudut sebuah kelas di pelosok Nusa Tenggara Timur, seorang anak perempuan duduk termangu. Tangannya yang kecil menggenggam pensil, namun matanya kosong menatap buku pelajaran. Ia belum lancar memba...

Jul 14, 2026 - 12:58
0 0

Di sudut sebuah kelas di pelosok Nusa Tenggara Timur, seorang anak perempuan duduk termangu. Tangannya yang kecil menggenggam pensil, namun matanya kosong menatap buku pelajaran. Ia belum lancar membaca, apalagi berhitung. Di benaknya, angka dan huruf bagai teka-teki tanpa ujung. Pemandangan ini bukan sekadar cerita pilu; ia adalah potret darurat literasi dan numerasi yang masih membayangi negeri. Di tengah kenyataan itu, sebuah angin segar berembus: Dewan Pendidikan Nasional (DPN) menyuarakan gerakan nasional untuk mengukuhkan dua pilar itu sebagai bekal dasar generasi penerus.

Ribuan Kisah, Satu Asa

Di balik data statistik yang dingin—bahwa satu dari dua anak Indonesia masih kesulitan memahami bacaan sederhana—tersimpan ribuan kisah nyata. Ada guru honorer yang rela mengayuh sepeda puluhan kilometer hanya untuk mengajar membaca di daerah terpencil. Ada orang tua yang, meski tak tamat SD, bertekad anaknya bisa berhitung lebih baik darinya. Gerakan yang didorong DPN hadir untuk menyatukan asa-asa yang tercecer itu. Bukan sekadar program pemerintah, melainkan panggilan jiwa untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.

DPN menilai bahwa arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menjadikan literasi dan numerasi sebagai kompetensi fundamental adalah langkah visioner. Sebab, tanpa kemampuan membaca yang kritis dan berhitung yang logis, anak-anak kita ibarat memasuki medan perang tanpa senjata. Mereka akan gagap menghadapi era informasi yang deras, rentan dimanipulasi hoaks, dan terhambat meraih peluang ekonomi.

Dari Kebijakan ke Detak Hati

Namun, DPN menekankan bahwa kebijakan semulia apa pun akan tumpul jika tak menyentuh detak hati masyarakat. Maka, gerakan ini dirancang sebagai arus bersama—melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, dan media. Di salah satu ruang diskusi hangat, seorang anggota DPN berkisah, “Saya teringat ibu saya yang hanya lulusan SR, tetapi setiap malam dengan sabar mengajari kami membaca doa dan menghitung uang belanja. Di situlah saya mengerti, literasi dan numerasi bukan soal sekolah semata, melainkan soal kasih sayang yang menyalakan akal.”

Literasi dan numerasi bukan sekadar kemampuan teknis; ia adalah fondasi martabat manusia yang merdeka. Tanpanya, kita hanya akan mengekor zaman, bukan mencipta zaman.

Menerobos Batas Ruang Kelas

Gerakan ini menolak pendekatan klasik yang hanya mengandalkan jam pelajaran. Literasi dimaknai bukan sekadar bisa mengeja, tetapi juga mampu memaknai teks, mengkritisi informasi, dan menuangkan gagasan. Numerasi pun bukan sekadar hitung-hitungan, melainkan kecakapan memecahkan masalah dalam konteks keseharian. Di sebuah sekolah dasar di Yogyakarta, misalnya, guru mengajak siswa menghitung luas kebun dan membuat laporan hasil panen—menggabungkan matematika, sains, dan bahasa. Praktik seperti inilah yang ingin diperbanyak: membumikan ilmu dalam pengalaman nyata.

DPN juga menyoroti pentingnya pelibatan orang tua. Mereka adalah guru pertama dan utama. Program “Keluarga Literat” digaungkan, di mana setiap rumah diharapkan memiliki sudut baca dan waktu bercerita. Seorang ibu muda di Bandung berbagi, “Dulu saya hanya menyuruh anak belajar. Sekarang saya membacakan buku sebelum tidur. Ajaib, bukan hanya nilai rapornya yang naik, tapi hubungan kami jadi lebih erat.” Momen sederhana seperti inilah yang diyakini dapat mengubah wajah pendidikan Indonesia dari bawah.

Menjawab Tantangan Masa Depan

Di tengah disrupsi teknologi, literasi dan numerasi menjadi perisai sekaligus peluru. Kemampuan mengolah data, memahami algoritma, dan berpikir komputasional berakar dari numerasi yang kuat. Sementara itu, literasi digital yang kritis akan menjaga generasi muda dari jebakan misinformasi. DPN mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi: pemerintah daerah menyediakan taman bacaan yang hidup, dunia usaha mendukung melalui dana CSR, dan para relawan menggiatkan pojok-pojok belajar di komunitas.

Gerakan nasional ini bukan proyek instan. Ia adalah perjalanan panjang membangun budaya. Namun, ketika seorang anak yang dulu hanya bisa menunduk malu kini berani tampil di depan kelas mempresentasikan hasil karyanya, saat itulah benih-benih perubahan telah tumbuh. Di sanalah letak kemenangan sesungguhnya—bukan pada angka statistik, melainkan pada cahaya di mata seorang anak yang akhirnya mengerti bahwa ia berdaya, bahwa masa depannya tak lagi buram. DPN percaya, dengan gerakan ini, Indonesia sedang menenun masa depan yang lebih setara dan bermartabat, satu huruf, satu angka, satu anak dalam setiap langkah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User