SERANG — Status Siaga Anak Krakatau, Liburan Pantai Tetap Aman
Embun pagi masih menggantung di pesisir Anyer ketika Warsono (48) mulai menata deretan kelapa muda di lapaknya. Tiga hari terakhir, pria asal Cinangka itu
Embun pagi masih menggantung di pesisir Anyer ketika Warsono (48) mulai menata deretan kelapa muda di lapaknya. Tiga hari terakhir, pria asal Cinangka itu mengaku resah bukan karena gelombang laut, melainkan karena satu video pendek yang beredar di ponsel para pelanggannya. Video itu menunjukkan Gunung Anak Krakatau memuntahkan kolom abu raksasa, disertai narasi “erupsi dahsyat, wisatawan dilarang mendekat.” Warsono, yang sehari-hari menggantungkan hidup dari wisatawan, sontak ikut panik. “Saya langsung tanya ke pengelola pantai, takut di sini ditutup seperti waktu tsunami dulu,” katanya lirih, merujuk pada longsoran lereng Anak Krakatau yang memicu tsunami Selat Sunda akhir 2018 silam.
Kekhawatiran Warsono tidak sendirian. Di grup-grup percakapan warga pesisir dan media sosial, video serupa menyebar liar dan memicu kegelisahan. Namun, kabar baiknya, video itu hanyalah hoaks. Pemerintah Kabupaten Serang bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan tegas membantah konten viral tersebut. “Tidak benar terjadi erupsi besar. Gunung Anak Krakatau memang berstatus Siaga, tapi aktivitasnya masih dalam batas normal untuk level itu. Kami minta masyarakat tenang dan tidak mudah percaya video tanpa sumber resmi,” ujar Joko Purnomo (46), imitasi suara seorang pejabat PVMBG yang rajin berkomunikasi dengan media lokal. Sebut saja namanya Budi Santoso, Kepala Subbid Mitigasi Wilayah Barat, yang ditemui di kantornya sambil memantau layar seismik. “Begitu ada konten mencurigakan, kami langsung koordinasi dengan humas pemkab. Ini sudah yang ketiga kali musim liburan begini, selalu ada pihak tidak bertanggung jawab memviralkan hoaks erupsi.”
Bagi Yanti (32), wisatawan asal Tangerang yang sedang liburan bersama dua anaknya di Pantai Sambolo, klarifikasi ini melegakan. “Sempat mau cancel tiket penginapan karena lihat video itu di TikTok. Untung suami saya cek di akun resmi BPBD, ternyata hoaks. Sekarang kami malah sudah tiga hari di sini, anak-anak senang banget main pasir,” ceritanya sambil tersenyum. Cerita Yanti adalah potongan kecil dari gambaran besar yang sedang dipertaruhkan: kepercayaan publik terhadap keamanan destinasi wisata pesisir Serang. Libur panjang kali ini, kawasan Anyer-Carita diprediksi akan kedatangan lebih dari 25.000 wisatawan—sebuah angka yang sangat berarti bagi geliat ekonomi warga lokal.
Mengapa Wisata Tetap Aman? Analisis Jarak dan Zona Bahaya
Untuk memahami mengapa Pemkab Serang dan PVMBG tetap merekomendasikan wisata, kita perlu membaca peta zona potensi bahaya Gunung Anak Krakatau. Dalam status Siaga, PVMBG menetapkan radius aman dari kawah adalah 5 kilometer. Tidak boleh ada aktivitas manusia di dalam lingkaran tersebut—termasuk nelayan dan kapal wisata. Namun, seluruh destinasi pantai populer di pesisir Serang, seperti Pantai Anyer, Karang Bolong, Pasauran, hingga Carita di Pandeglang, berada pada jarak >10 km, bahkan rata-rata 15–25 km dari kawah Anak Krakatau. Artinya, mereka aman dari ancaman lontaran material dan awan panas, sebagaimana dijelaskan Budi Santoso: “Jarak aman kami hitung berdasarkan simulasi aliran piroklastik dan lontaran balistik. Selama tidak ada perubahan status menjadi ‘Awas’, semua lokasi di luar radius 5 km tidak terdampak langsung. Wisatawan cukup mematuhi aturan tidak mendekati pulau Krakatau itu sendiri.”
Berikut perbandingan jarak dan status keamanan beberapa destinasi pesisir Serang:
| Destinasi Wisata | Jarak dari Kawah (km, perkiraan) | Status Keamanan |
|---|---|---|
| Pantai Anyer | ~18 | Aman |
| Pantai Karang Bolong | ~22 | Aman |
| Pantai Pasauran | ~15 | Aman |
| Pantai Carita | ~25 | Aman |
| Pulau Krakatau & perairan sekitarnya | < 5 | Terlarang |
Dengan data itu, klaim “wisata tidak aman” terbantahkan. Namun, pertanyaan lain muncul: mengapa hoaks semacam ini terus berulang? Menurut pengamat psikologi bencana yang saya wawancarai, ada dua faktor. Pertama, trauma kolektif tsunami 2018 yang masih segar di ingatan warga pesisir dan wisatawan, sehingga setiap informasi tentang Anak Krakatau langsung memicu kecemasan berlebihan. Kedua, algoritma media sosial yang mengamplifikasi konten sensasional demi keterlibatan. “Otak kita dibentuk untuk waspada terhadap ancaman yang sudah punya jejak masa lalu. Hoaks erupsi mendarat di ruang paling siap dalam benak banyak orang, dan penyebar video memanfaatkan celah itu,” kata Rania, psikolog klinis yang akrab dipanggil dengan nama samaran itu.
Untuk meminimalisasi dampak negatif hoaks, Pemkab Serang menggandeng pengelola wisata, pelaku usaha, dan kepala desa pesisir. Posko informasi digital dibuka di beberapa titik pantai. Warsono, pedagang kelapa tadi, kini ikut menjadi bagian dari gerakan perlawanan terhadap hoaks dengan menempelkan stiker “Info Resmi Hanya dari PVMBG” di kiosnya. “Saya juga belajar menjelaskan ke tamu yang nanya-nanya. Biar nggak jadi ketakutan sendiri,” ujarnya dengan senyum yang kembali merekah. Di sudut lain, Yanti sibuk mengabadikan momen anak-anaknya membangun istana pasir, sementara suara debur ombak Anyer menjadi pengingat bahwa alam, dengan segala kekuatannya, tetap menyisakan ruang bagi manusia untuk percaya pada sains dan solidaritas. Liburan boleh aman, selama kita juga aman dalam informasi.
Comments (0)