Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Selat Hormuz Kembali Diblokade, Jerman Tunjuk Trump Sebagai Pemicu

Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas global. Langkah ini memicu kecaman

Jul 08, 2026 - 19:40
0 0
Selat Hormuz Kembali Diblokade, Jerman Tunjuk Trump Sebagai Pemicu

Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas global. Langkah ini memicu kecaman keras dari Jerman, yang melalui Menteri Pertahanannya secara terbuka menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai aktor utama di balik eskalasi yang berujung pada pemblokiran tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi nasional Jerman, ARD, Menhan Boris Pistorius tidak menahan kritiknya terhadap kebijakan luar negeri Washington. Ia menegaskan bahwa krisis yang kini membelit Selat Hormuz bukan berasal dari sikap Eropa, melainkan konsekuensi langsung dari manuver politik Trump.

"Pada akhirnya, sumbat di leher botol Selat Hormuz didorong masuk oleh Donald Trump, bukan oleh kami, tetapi kami memiliki kepentingan untuk membukanya kembali," tegas Pistorius.

Pernyataan tersebut merujuk pada rangkaian peristiwa yang memuncak pada 28 Februari lalu, ketika serangan militer skala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran menyulut perang terbuka. Sejak konflik berkecamuk, kapal-kapal tanker dan kargo kesulitan melintasi selat sempit yang setiap harinya dilewati sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia itu.

Penutupan Selat Hormuz bukan hanya masalah keamanan regional, melainkan langsung mengancam stabilitas energi global. Harga minyak mentah meroket dalam beberapa pekan setelah blokade, memicu kekhawatiran inflasi dan krisis pasokan di berbagai negara, termasuk Eropa yang masih berusaha pulih dari guncangan energi sebelumnya. Jerman, sebagai kekuatan ekonomi utama Eropa, berkepentingan besar agar jalur perairan itu segera dibuka kembali dan arus perdagangan pulih.

Pistorius menekankan bahwa meskipun Trump dianggap sebagai pihak yang memicu krisis, negara-negara Eropa tidak bisa hanya menunggu. Ia mendesak adanya tekanan diplomatik multilateral untuk memaksa Iran mengakhiri blokade, seraya mengisyaratkan perlunya keterlibatan militer terbatas jika jalur damai menemui jalan buntu. "Kami memiliki kepentingan untuk membukanya kembali," ujarnya, menegaskan posisi Berlin yang siap mengambil peran aktif meski menyalahkan Washington atas asal mula krisis.

Ketegangan di Selat Hormuz mengingatkan dunia pada krisis-krisis sebelumnya yang selalu melibatkan poros Iran-AS. Namun, kali ini skala destruksinya jauh lebih besar karena dipicu oleh agresi militer langsung, bukan sekadar perang proksi atau insiden kapal. Data dari lembaga pemantau maritim menunjukkan bahwa volume lalu lintas di selat tersebut anjlok lebih dari 70 persen sejak Februari, memaksa sejumlah negara untuk mengaktifkan rute alternatif yang lebih panjang dan mahal.

Sikap Jerman yang terang-terangan menyalahkan Trump ini juga menandai retaknya komunikasi trans-Atlantik di bawah kepemimpinan AS yang kontroversial. Alih-alih bahu-membahu, sekutu Eropa justru merasa perlu menagih tanggung jawab Washington di tengah krisis yang mengancam kepentingan bersama. Demikian laporan yang dihimpun redaksi Beritaseputar.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
eko-saputra

Editor Nasional. Editor isu nasional dekat kehidupan sehari-hari.

Comments (0)

User