Sebulan Banjir Rob Rendam Permukiman, Warga Tunggulsari Pati Gatal-gatal
Genangan air laut telah merendam permukiman warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, selama satu bulan penuh. Tidak hanya merusak perabotan dan menghambat aktivitas harian, banjir rob
Genangan air laut telah merendam permukiman warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, selama satu bulan penuh. Tidak hanya merusak perabotan dan menghambat aktivitas harian, banjir rob yang tak kunjung surut ini mulai menimbulkan keluhan kesehatan di kalangan penduduk. Gatal-gatal menjadi keluhan utama yang dirasakan hampir seluruh warga yang bertahan di tengah genangan.
Salah satu warga, Suparno (60), mengungkapkan keresahannya saat ditemui pada Senin (22/6). Ia mengaku sudah lama tidak bisa tidur nyenyak karena air rob terus meninggi dan merendam bagian bawah rumahnya. “Airnya kayak gini susah juga, kalau bisa pemerintah mengutamakan lah, agar warga tidak gelisah, mau tidur tidak bisa,” ucapnya dengan raut wajah lelah.
Menurut penuturan sejumlah warga, air rob yang menggenang tidak hanya berasal dari luapan laut, tetapi juga bercampur dengan lumpur, sampah, dan kotoran. Kondisi inilah yang memicu iritasi kulit. Para ibu mengeluhkan anak-anak mereka rentan terkena ruam dan gatal-gatal setiap kali terpaksa beraktivitas di genangan. Minimnya akses air bersih untuk membersihkan diri semakin memperparah situasi kesehatan warga.
Banjir rob di Tunggulsari bukanlah fenomena baru. Setiap musim pasang maksimum, air laut kerap meluap ke daratan akibat sistem drainase yang buruk dan penurunan muka tanah. Namun, durasi genangan kali ini menjadi yang terlama menurut pengakuan warga. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan membangun tanggul laut, meninggikan jalan, atau setidaknya menyediakan pompa penyedot air agar kehidupan mereka tidak terus-menerus lumpuh.
Di tengah genangan, warga tetap memilih bertahan di rumah masing-masing. Beberapa di antaranya meninggikan perabotan, memasang papan penahan air di depan pintu, atau membuat talud darurat. Aktivitas ekonomi pun ikut terdampak; sebagian warga kesulitan keluar masuk kampung untuk bekerja. Suparno menambahkan, ia dan keluarganya terus berdoa agar rob segera surut, namun kenyataannya air semakin sulit dikendalikan.
Hingga laporan ini disusun, genangan masih terlihat setinggi betis orang dewasa di sejumlah titik permukiman. Warga terus mendesak adanya solusi permanen, bukan sekadar penanganan sementara. Demikian laporan Beritaseputar.com dari Pati.
Comments (0)