Saudi Eksekusi Mati 100 Orang Sepanjang 2026, Kasus Narkoba Mendominasi
Beritaseputar.com, Jakarta — Otoritas Kerajaan Arab Saudi kembali melanjutkan gelombang eksekusi mati dengan menjatuhkan hukuman kepada tujuh terpidana dalam satu hari. Dengan penambahan ini, tot
Beritaseputar.com, Jakarta — Otoritas Kerajaan Arab Saudi kembali melanjutkan gelombang eksekusi mati dengan menjatuhkan hukuman kepada tujuh terpidana dalam satu hari. Dengan penambahan ini, total angka eksekusi di negara Teluk tersebut sepanjang tahun 2026 resmi menembus 100 orang. Berdasarkan data penghitungan resmi yang dihimpun media kami, mayoritas vonis yang dijalankan berasal dari kasus peredaran gelap narkotika.
Eksekusi massal terbaru dilaksanakan pada Selasa (23/6) waktu setempat. Dari tujuh orang yang dieksekusi, lima di antaranya dinyatakan bersalah atas tuduhan perdagangan narkoba. Sisanya terkait dengan kasus pidana berat lainnya. Lonjakan ini menjadikan total terpidana kasus narkotika yang telah dieksekusi sepanjang tahun ini mencapai 65 orang. Ironisnya, dari jumlah tersebut, 43 orang merupakan warga negara asing yang mayoritas berasal dari kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.
Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa kebijakan tegas ini diambil untuk melindungi generasi muda dari bahaya narkoba serta menjaga stabilitas keamanan nasional. Pemerintah kerajaan berpandangan bahwa hukuman mati memberikan efek jera maksimal bagi para pelaku kejahatan luar biasa, khususnya penyelundupan dan pengedaran zat terlarang dalam skala besar.
"Ini adalah tonggak suram yang mengungkap penggunaan hukuman mati yang tidak bermoral dan melanggar hukum oleh pihak berwenang," demikian pernyataan resmi Amnesty International yang dirilis pada Senin (22/6) dan dikutip oleh media kami.
Organisasi hak asasi manusia internasional itu telah berulang kali mengecam keras laju eksekusi di Arab Saudi. Mereka menilai, percepatan pelaksanaan hukuman mati—terutama terhadap warga negara asing—kerap mengabaikan standar peradilan yang adil dan transparan. Laporan lembaga pemantau independen yang dihimpun media kami juga menyoroti minimnya akses pendampingan hukum bagi para terdakwa, khususnya mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi lemah dan tidak fasih berbahasa Arab.
Angka 100 eksekusi dalam waktu kurang dari enam bulan ini menempatkan tahun 2026 sebagai salah satu periode paling mematikan dalam sejarah modern peradilan Arab Saudi. Rekor ini bahkan melampaui catatan tahun-tahun sebelumnya, termasuk masa ketika kerajaan memberlakukan kebijakan serupa secara agresif. Para analis menilai, tren ini tidak terlepas dari berakhirnya moratorium tidak resmi yang sempat terjadi pada 2020–2021, serta meningkatnya tekanan politik internal untuk memberantas peredaran narkoba jenis baru.
Meski menuai kecaman global, kerajaan tetap bersikukuh mempertahankan sistem hukumannya. Pemerintahan Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman menganggap kebijakan ini selaras dengan penerapan syariat Islam secara ketat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada indikasi bahwa Arab Saudi akan mengurangi laju eksekusi di sisa tahun 2026, terutama dengan masih banyaknya terpidana mati kasus narkoba yang menunggu antrian vonis di berbagai lembaga pemasyarakatan.
Comments (0)