Sahabat Bicara: Ruben Onsu Selalu Simpan Duka Sendiri

Di sudut sebuah kafe yang mulai ditinggalkan pengunjung, seorang pria yang telah lama berkecimpung di dunia hiburan Tanah Air hanya bisa memandangi layar ponselnya. Nama Ruben Onsu tertera di sana, na...

Jul 12, 2026 - 09:16
0 0
Sahabat Bicara: Ruben Onsu Selalu Simpan Duka Sendiri

Di sudut sebuah kafe yang mulai ditinggalkan pengunjung, seorang pria yang telah lama berkecimpung di dunia hiburan Tanah Air hanya bisa memandangi layar ponselnya. Nama Ruben Onsu tertera di sana, namun jemarinya ragu untuk menekan tombol panggil. Sudah berminggu-minggu ia merasakan ada ganjalan yang tak biasa pada sosok yang biasa menghidupkan setiap ruangan dengan gelak tawa itu. Akan tetapi, setiap kali bertanya, jawaban yang sama selalu kembali: “Aku nggak apa-apa.”

Adalah sahabat-sahabat terdekat Ruben Onsu yang belakangan ini mengakui bahwa presenter, komedian, sekaligus pengusaha itu nyaris tak pernah berbagi detail masalah pribadinya. Mereka hanya bisa menerka dan membaca isyarat-isyarat halus yang seringkali terselip di sela-sela kesibukan Ruben yang padat. “Kami tahu dia sedang tidak baik-baik saja, tapi dia tidak pernah cerita. Sama sekali,” ujar salah satu rekannya, suaranya bergetar mengisahkan kekhawatiran yang selama ini terpendam.

Sosok yang Selalu Menjadi Sandaran, tapi Enggan Disandari

Di mata para sahabat, Ruben Onsu adalah pribadi yang hangat dan kerap menjadi tempat berkeluh kesah. Dalam banyak kesempatan, dialah yang pertama kali menawarkan bahu ketika temannya dilanda masalah. Namun, di balik ketulusannya itu, tersimpan kebiasaan yang justru mengundang tanya: Ia hampir tidak pernah membiarkan dirinya sendiri ditopang.

“Dia itu aneh,” tutur seorang sahabat yang sudah lebih dari satu dekade mengenal Ruben. “Setiap kali ada teman yang curhat, dia bisa duduk berjam-jam, mendengarkan, bahkan ikut mencari solusi. Tapi begitu gantian dia yang terlihat murung, kami tanya, jawabannya cuma, ‘lagi capek syuting aja, Bro.’ Dia tidak pernah membiarkan kami masuk lebih dalam.”

Perjalanan karier Ruben yang gemilang—dari pembawa acara, pemain sinetron, hingga membangun bisnis kuliner—seolah menjadi tameng rapi yang menyembunyikan luka di balik layar. Teman-temannya mengisahkan, setelah jam kerja usai dan kamera berhenti menyala, Ruben seringkali langsung menyendiri. Bukan untuk beristirahat, melainkan tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Kami kadang hanya bisa melihat dari jauh. Ada momen di mana matanya kosong, menatap entah ke mana, dan kami tak berani mendekat,” kenang sahabat lainnya.

Sinyal Sunyi yang Akhirnya Terabaikan

Seiring berjalannya waktu, sinyal-sinyal itu semakin jelas. Di sela-sela jadwal yang padat, Ruben mulai sering menolak undangan untuk sekadar berkumpul. Jika dulu ia selalu menjadi jiwa dari setiap pertemuan, belakangan ia lebih memilih diam di rumah. Beberapa sahabat yang mencoba mencarinya mengaku sering mendapatkan pesan singkat yang sama: “Besok ya, Bro. Hari ini badan rasanya remuk.”

“Kami pikir itu hanya kelelahan biasa,” aku seorang rekan artis yang tumbuh bersama Ruben di industri hiburan. “Tapi lama-kelamaan kami sadar, mungkin itu panggilan tak langsung bahwa dia butuh pertolongan. Hanya saja, dia terlalu kuat untuk terlihat lemah di depan kami.”

Momen paling mengharukan terjadi ketika beberapa sahabatnya diam-diam mencoba menyusun rencana untuk sekadar membawakan makanan kesukaan Ruben ke rumahnya, berharap bisa membuka percakapan dari hati ke hati. Namun, sesampainya di sana, Ruben menyambut mereka dengan senyum yang seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Senyum yang kini mereka tahu, menyimpan retakan yang tak ingin diperlihatkan. “Dia malah balik nanya kabar kami, seolah-olah dialah yang tidak punya beban. Padahal kami datang untuk mendengarkan dia, bukan sebaliknya,” ujar sahabat itu, matanya mulai berkaca-kaca.

Ketika Luka Disimpan dalam Diam

Psikolog klinis sering menyebut fenomena ini sebagai emotional masking—ketika seseorang begitu lihai menutupi gejolak batinnya dengan keceriaan di permukaan. Sahabat-sahabat Ruben Onsu mengakui, sang presenter laksana aktor ulung yang menjalankan peran ini bertahun-tahun tanpa jeda. Mereka tidak menyalahkan; justru semakin tersentuh karena menyadari betapa besar perjuangan yang Ruben jalani seorang diri.

“Kami hanya ingin dia tahu, bahwa kami ada. Tidak perlu cerita kalau memang belum siap, tapi setidaknya, jangan merasa sendirian,” ucap sahabat lainnya dengan nada penuh harap. “Mungkin suatu saat, dia akan menemukan cara untuk membiarkan kami sedikit saja membantunya. Sekalipun hanya dengan duduk diam di sampingnya, kami rela.”

Kisah Ruben Onsu bukanlah sekadar cerita tentang figur publik yang menolak curhat. Ia adalah cermin dari banyaknya jiwa di luar sana yang memilih memikul beban sendiri karena tak ingin merepotkan orang lain. Di balik layar panggung yang gemerlap, ada seorang manusia biasa yang menyimpan air mata di balik tawa, dan menyembunyikan luka di balik kata-kata “aku baik-baik saja.”

Kini, sahabat-sahabat terdekatnya hanya bisa bersabar. Mereka terus mengirimkan pesan singkat berisi doa dan tawa, berharap suatu hari Ruben bersedia membuka pintu hatinya. “Kami tidak akan menyerah menunggu. Karena persahabatan kami bukan hanya untuk berbagi tawa, melainkan juga untuk saling menggendong saat langkah terasa berat. Dan kami akan selalu siap, kapan pun Ruben membutuhkan,” tutup salah satu sahabat yang berjanji akan tetap menjadi penjaga bagi hati yang selama ini memilih diam.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User