Sah! Malaysia Perketat Impor Mobil Listrik Murah dari China
Kuala Lumpur, Beritaseputar.com – Pemerintah Malaysia resmi memberlakukan aturan baru yang secara signifikan membatasi impor mobil listrik utuh atau completely built-up (CBU). Kebijakan yang mula
Kuala Lumpur, Beritaseputar.com – Pemerintah Malaysia resmi memberlakukan aturan baru yang secara signifikan membatasi impor mobil listrik utuh atau completely built-up (CBU). Kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 ini langsung memukul derasnya laju mobil listrik murah asal China, termasuk beberapa model andalan dari BYD hingga Chery.
Berdasarkan dokumen resmi Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia (MITI) yang dihimpun media kami, setidaknya ada dua syarat kunci yang kini harus dipenuhi setiap unit mobil listrik CBU yang masuk ke wilayah Malaysia. Kedua syarat tersebut secara matematis langsung menggugurkan kualifikasi sejumlah model populer yang selama ini mendominasi pasar.
Syarat Baru: Harga Tinggi dan Tenaga Besar
Mulai 1 Juli 2026, kendaraan listrik CBU wajib memiliki nilai Cost, Insurance, and Freight (CIF) minimal 200.000 ringgit Malaysia—atau sekitar Rp880 jutaan—serta tenaga minimal 180 kW agar diizinkan masuk.
Dengan patokan harga setara Rp880 juta, mobil-mobil listrik yang sebelumnya dijual di kisaran dua digit—bahkan di bawah setengah miliar rupiah—otomatis tak lagi memenuhi syarat. Model seperti BYD Dolphin (tenaga 70 kW, CIF di bawah 150.000 ringgit), BYD Atto 3 (150 kW, CIF sekitar 140.000 ringgit), hingga Chery Omoda E5 (150 kW) kini terancam lenyap dari jalur impor utuh.
Tidak hanya pabrikan China yang terdampak, merek global seperti Hyundai juga akan merasakan efeknya, mengingat Hyundai Kona Electric varian basis memiliki tenaga 100 kW. Namun, dominasi mobil listrik China yang agresif dalam tiga tahun terakhir menjadi sorotan utama di balik kebijakan ini.
Di Balik Tirai Proteksi
Pengamat otomotif menilai, langkah ini merupakan upaya tegas Putrajaya untuk melindungi pabrikan lokal—Proton dan Perodua—yang tengah mengembangkan ekosistem kendaraan listrik nasional. Ketimbang membiarkan pasar dibanjiri EV murah CBU, Malaysia ingin merangsang investasi pabrik perakitan dalam negeri agar nilai tambah dan lapangan kerja tetap berada di tangan perusahaan lokal.
MITI dalam siaran tertulisnya menekankan bahwa kebijakan ini juga dimaksudkan untuk menjaga kualitas dan keselamatan kendaraan listrik di jalan raya Malaysia. Meski demikian, sejumlah importir mengeluhkan waktu transisi yang singkat, mengingat kontrak pembelian dan pengapalan kendaraan umumnya memerlukan perencanaan hingga satu tahun sebelumnya.
Dengan aturan anyar ini, peta persaingan mobil listrik di Malaysia diprediksi akan berubah total. Konsumen yang menginginkan mobil listrik lebih terjangkau kini harus mengandalkan alternatif lokal seperti Proton Saga EV atau model Perodua listrik yang masih dalam tahap pengembangan, atau beralih ke pasar kendaraan bekas yang masih memiliki unit CBU sebelum batas waktu berlaku.
Kebijakan serupa juga mulai dibahas di beberapa negara tetangga, memicu spekulasi bahwa Asia Tenggara tengah bergerak menuju standarisasi proteksi industri otomotif domestik. Pantauan Beritaseputar.com, importir dan komunitas mobil listrik di media sosial ramai menyuarakan kekecewaan, sementara pelaku industri lokal justru menyambut dengan optimisme.
Comments (0)