Rina menatap jahitan terakhir pada tas anyaman kulit sintetis di hadapannya. Jemarinya
Kehadiran Darmawansyah bukan sekadar seremoni. Dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, ia duduk di antara para peserta, mendenga
Kehadiran Darmawansyah bukan sekadar seremoni. Dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, ia duduk di antara para peserta, mendengarkan cerita mereka satu per satu. Suasana ruang pelatihan yang biasanya hening oleh konsentrasi, hari itu berubah menjadi hangat oleh dialog-dialog kecil penuh makna. Direktur Jenderal yang dikenal dekat dengan akar rumput ini ingin memastikan bahwa pelatihan vokasi bukan hanya menjadi program administratif, melainkan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat yang paling membutuhkan.
Semangat yang Tak Pernah Padam
Perjalanan Rina menuju bangku pelatihan ini bukanlah kisah yang mudah. Setelah bertahun-tahun hanya mendapat pekerjaan serabutan sebagai pencuci piring dengan upah yang hampir tak cukup untuk makan, ia nyaris putus asa. Informasi tentang pelatihan inklusif ia dapatkan dari sebuah komunitas tuli di Bogor. “Saya ingin buktikan, saya bisa mandiri. Cuma perlu kesempatan,” ungkap Rina melalui juru bahasa isyarat, matanya berbinar.
Darmawansyah mengangguk pelan, sesekali mencatat hal-hal kecil yang diutarakan para peserta. Baginya, setiap cerita adalah data hidup yang tak bisa digantikan oleh laporan statistik. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas masih di bawah 50 persen, sebuah jurang kemandirian yang harus dijembatani. Oleh karena itu, program vokasi yang menjangkau kelompok rentan—disabilitas, perempuan kepala keluarga, hingga eks-pekerja migran—menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.
“Pelatihan vokasi harus inklusif. Kami tidak hanya mencetak tenaga terampil, tapi juga membangun martabat manusia. Setiap jahitan, setiap hasil las, setiap kemasan produk yang mereka buat, adalah simbol perlawanan terhadap stigma,” ujar Darmawansyah di sela-sela kunjungan, suaranya tenang namun meninggalkan getar semangat di udara.
Pelatihan yang Menjawab Kebutuhan Pasar
Di sudut lain BLK, suara mesin jahit industri berpadu dengan aroma khas serat kain sintetis. Santi, seorang ibu dua anak yang ditinggal suami merantau tanpa kepastian, tengah menyelesaikan tas belanja ramah lingkungan. Tangannya cekatan, hasil dari tiga minggu pelatihan intensif yang dijalaninya. Ia bercerita bahwa sebelum ikut pelatihan, ia hanya mengandalkan kiriman uang tak menentu. Kini, ia sudah bisa membayangkan membuka usaha kecil-kecilan di rumah, memanfaatkan platform daring untuk menjual produknya.
Yang membuat pelatihan ini istimewa adalah pendekatannya yang kontekstual. Kurikulum disusun bersama industri, memastikan keterampilan yang diajarkan benar-benar relevan dengan permintaan pasar. Darmawansyah menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mencetak lulusan yang hanya pandai di ruang kelas, lalu bingung menghadapi dunia nyata. Oleh karena itu, setiap program menjahit tidak hanya mengajarkan teknik dasar, tetapi juga desain produk, branding sederhana, dan pemasaran digital. “Vokasi harus menjawab kebutuhan zaman, bukan hanya melatih, tapi memberdayakan,” katanya lagi.
Mimpi Kemandirian Ekonomi
Di pojok ruangan, seorang pria paruh baya bernama Kusno terlihat serius menyusun pola sepatu kulit. Tangannya yang kasar—bekas bekerja sebagai kuli bangunan—kini begitu telaten memotong kulit sintetis. Kusno mengalami amputasi kaki kiri akibat kecelakaan kerja. Setahun ia menganggur, merasa tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Namun, ajakan seorang petugas BLK menyulut kembali sepercik harapan yang hampir padam. “Saya kira hidup saya sudah selesai. Tapi ternyata, asal ada kemauan, rezeki bisa dicari dengan cara yang lain,” ujarnya, suaranya parau menahan haru.
“Melihat mereka, saya jadi malu sendiri. Mereka yang punya keterbatasan saja semangatnya luar biasa. Tugas kami adalah memastikan semangat itu tidak kandas di tengah jalan. Harus ada ekosistem yang mendukung: pelatihan, permodalan, dan akses pasar,” tutur Darmawansyah, kali ini dengan nada refleksif, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Kunjungan itu ditutup dengan sesi foto bersama. Bukan foto posing kaku khas pejabat, melainkan foto-foto spontan: Darmawansyah mencoba menjahit dengan bimbingan Rina, tertawa ringan saat tangannya yang besar kesulitan memasukkan benang. Momen itu menjadi simbol bahwa tidak ada jarak antara pembuat kebijakan dan mereka yang dihidupi oleh kebijakan itu sendiri.
Kini, Rina, Santi, Kusno, dan puluhan peserta lainnya tengah merintis usaha baru di bawah bimbingan mentor. Beberapa telah menerima pesanan pertama. Perjalanan memang masih panjang. Namun, dengan adanya program vokasi inklusif yang terus digulirkan Kementerian Ketenagakerjaan, mimpi kemandirian ekonomi bukan lagi sekadar utopia. Ini adalah hak setiap warga negara, yang dibangun tidak hanya dengan mesin dan alat, melainkan dengan hati yang mau mendengar. Dan di Bogor pagi itu, Darmawansyah telah mendengar—lantang, meski tanpa suara.
[TAGS]: Darmawansyah, Kemnaker, pelatihan vokasi, penyandang disabilitas, kemandirian ekonomi [SOCIAL_TWEET]: “Saya ingin buktikan, saya bisa mandiri. Cuma perlu kesempatan,” ujar Rina, penyandang rungu yang kini terampil menjahit berkat pelatihan vokasi inklusif. Dirjen Binalavotas Darmawansyah pastikan program ini terus dekat dengan yang paling membutuhkan. #VokasiInklusif #Kemnaker #DisabilitasBerkarya [SOCIAL_FB]: Rina hanya pencuci piring, sekarang tangannya menciptakan tas bernilai jual. Begitu pula Kusno, yang kehilangan kaki namun menemukan jalan baru lewat pelatihan sepatu. Simak cerita lengkapnya saat Dirjen Darmawansyah hadir di antara mereka. [SOCIAL_TG]: 🌟 Dari BLK Bogor, mereka belajar menjahit, mendesain, dan berani bermimpi kembali. Darmawansyah pastikan tak ada yang tertinggal. Baca kisahnya di sini ✨ [SOCIAL_THREADS]: Kadang kita lupa kalau keajaiban itu sederhana: mesin jahit, pelatihan gratis, dan satu orang yang mau dengerin. Pagi itu di Bogor, Dirjen Darmawansyah dengerin langsung cerita Rina & teman-teman. Hasilnya bikin hati anget 💛
Comments (0)