Jakarta, Selasa (17/6/2026) — Aula kantor pusat PLN masih riuh oleh diskusi

Di tengah derasnya arus investasi hijau yang masih dinikmati segelintir pemodal besar, Ferry melihat celah yang sering terlewat. Koperasi, dengan 27 juta a

Jul 10, 2026 - 21:19
0 0
Jakarta, Selasa (17/6/2026) — Aula kantor pusat PLN masih riuh oleh diskusi

Di tengah derasnya arus investasi hijau yang masih dinikmati segelintir pemodal besar, Ferry melihat celah yang sering terlewat. Koperasi, dengan 27 juta anggota di seluruh Indonesia, adalah kendaraan paling dekat dengan rakyat kecil. "Kita tidak bisa hanya bicara soal industri besar. Ekonomi hijau harus menyentuh warung, petani, nelayan, dan usaha mikro," ujarnya, menyeka keringat yang mengalir di pelipis. Di luar, hujan gerimis membasahi jalan-jalan Jakarta, seakan alam ikut memberi restu pada obrolan siang itu.

Ruang Kerja Penuh Coretan

Beberapa jam sebelum forum, Ferry duduk di ruang kerjanya yang dindingnya ditempeli kertas-kertas coretan. “Koperasi sampah,” “pupuk organik,” “panel surya komunitas” tertulis dengan spidol hitam. Ia percaya, transisi hijau bukan hanya urusan teknologi mahal, melainkan soal mengubah cara pandang kolektif. "Orang miskin jangan hanya jadi penonton. Mereka harus jadi pemain utama," kata Ferry sambil menunjuk coretan bertuliskan “Biogas dari limbah tahu”. Di sudut ruang, ada foto lawas koperasi susu di Pangalengan yang menjadi inspirasi masa kecilnya.

Ferry tumbuh di lingkungan peternak sapi perah yang bergantung pada koperasi. Dari situlah ia mengerti, koperasi yang kuat mampu menjadi tameng saat krisis melanda. Kini, ia ingin tameng itu dirajut dengan benang hijau. "Saya tidak mau koperasi sekadar menjual sembako. Koperasi harus punya misi menyelamatkan bumi," katanya lirih, suaranya nyaris tertelan bunyi hujan.

Dari Petani Jeruk hingga Perempuan Pesisir

Di Kabupaten Garut, petani jeruk bernama Engkus (47) mendengar kabar rencana Menteri Koperasi melalui radio komunitas. Engkus bercerita, panen jeruknya tahun ini terancam karena cuaca tak menentu. "Saya dengar Pak Ferry mau bantu koperasi bangun biogas dari kotoran sapi. Kalau itu jadi, ongkos masak dan pupuk kimia bisa turun," ujarnya. Bagi Engkus, setiap rupiah yang bisa dihemat dari gas elpiji adalah harapan bagi anaknya yang akan masuk SMA.

"Saya tidak mau koperasi sekadar menjual sembako. Koperasi harus punya misi menyelamatkan bumi." — Ferry Juliantono

Sementara itu, di pesisir Semarang, kelompok perempuan penjemur ikan bergabung dalam koperasi "Mina Lestari". Mereka baru saja menerima bantuan alat pengering tenaga surya dari program pemerintah. Salah satu anggota, Suti (52), menuturkan, "Dulu kami jemur ikan di pinggir jalan, kena debu. Sekarang bersih, pembeli dari kota makin banyak." Mata Suti berkaca-kaca saat mengisahkan suaminya yang dulu meragukan koperasi, kini justru bangga. Bagi Ferry, kisah seperti inilah yang membenarkan langkahnya menggandeng PLN dan lembaga keuangan hijau. "Koperasi adalah cerita tentang kita, tentang kebersamaan," ujarnya.

Kolaborasi yang Tak Lagi Teoritis

Di Forum Ekonomi Hijau itu, Ferry tak datang dengan tangan kosong. Ia membawa kabar bahwa 50 koperasi percontohan akan menerima pendanaan lunak untuk proyek energi terbarukan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) hijau. PLN, dalam kesempatan yang sama, menjanjikan pembelian kelebihan listrik dari panel surya yang dikelola koperasi. Hitung-hitungan sederhana: satu koperasi dengan 100 anggota bisa menghemat listrik desa hingga 30 persen dan menjual sisanya ke jaringan PLN.

Namun, Ferry sadar, jalan ini tak mulus. Ada kecurigaan di level bawah bahwa "hijau" hanyalah topeng proyek baru yang rawan dikorupsi. "Saya akui, membangun kepercayaan itu lebih sulit daripada memasang panel surya," ujarnya dengan nada serius. Ia berencana membentuk tim pengawas partisipatif di setiap koperasi, melibatkan pemuda dan tokoh adat. "Kalau ada satu saja koperasi yang gagal karena penyalahgunaan, mimpi kita runtuh," tegasnya, sambil mengingat kembali kisah koperasi susu di masa lalu yang ambruk akibat pengurus tak amanah.

"Koperasi adalah cerita tentang kita, tentang kebersamaan." — Ferry Juliantono

Warung Kopi dan Mimpi yang Tak Boleh Padam

Sore itu, seusai forum, Ferry memilih singgah di warung kopi kecil dekat kantor PLN. Ia memesan kopi tubruk, duduk di bangku kayu sambil mengamati para pekerja yang lalu-lalang. Kepada pelayan warung, ia bertanya, "Mbak tahu koperasi enggak?" Pelayan itu tersenyum malu, menjawab bahwa ibunya anggota koperasi simpan pinjam. "Tapi kok bunganya tinggi ya, Pak?" celetuknya polos. Ferry tersenyum getir. Inilah pekerjaan rumah yang sesungguhnya: mengembalikan wajah koperasi sebagai lembaga yang mengayomi, bukan membebani.

Ketika malam merambat di langit Jakarta, lampu-lampu kota mulai menyala. Di antara gemerlap itu, Ferry masih duduk sendiri, mengetik catatan di ponselnya. Catatan itu berisi butir-butir rencana aksi hijau untuk koperasi yang akan ia kirim ke gubernur, bupati, dan seluruh jajaran kementerian. Tanggung jawab ini terasa berat, namun percakapan di warung kopi sore itu justru memberinya energi baru.

Ia tahu, mengubah wajah koperasi menjadi hijau bukan hanya soal teknologi dan dana. Ini soal menggugah hati 27 juta anggota agar percaya bahwa masa depan lebih baik masih mungkin diraih, asal dilakukan bersama. Dan bagi Ferry, keyakinan itu dimulai dari coretan-coretan di dinding ruang kerjanya, serta dari janji yang ia buat di hadapan petani, nelayan, dan perempuan pesisir. Koperasi hijau bukan sekadar program; ia adalah warisan bagi generasi yang akan datang.

[TAGS]: Ferry Juliantono, koperasi hijau, Forum Ekonomi Hijau, PLN, energi terbarukan, ekonomi inklusif [SOCIAL_TWEET]: Dari coretan di dinding ruang kerja hingga warung kopi, Menteri Ferry Juliantono bertekad membawa koperasi RI menuju ekonomi hijau. "Koperasi harus punya misi menyelamatkan bumi." Sebuah janji dari Forum Ekonomi Hijau. #KoperasiHijau #EkonomiInklusif #FerryJuliantono [SOCIAL_FB]: Menteri Koperasi Ferry Juliantono baru saja keluar dari Forum Ekonomi Hijau dengan mimpi besar: koperasi Indonesia tak lagi hanya jual sembako, tapi jadi garda depan energi bersih. Dari biogas kotoran sapi hingga panel surya komunitas, siapa bilang hijau itu mahal? Baca kisah penuh harap di balik forum itu. [SOCIAL_TG]: 🌱 Dari warung kopi kecil, Menteri Ferry Juliantono menulis masa depan koperasi hijau. 50 koperasi dapat dana lunak, petani dan perempuan pesisir tersenyum. "Koperasi adalah cerita tentang kita." 💚 [SOCIAL_THREADS]: Sore yang basah, kopi tubruk, dan coretan mimpi: koperasi hijau bukan cuma soal panel surya, tapi soal kepercayaan. Ada kisah petani jeruk dan ibu penjemur ikan yang bikin hati hangat. 🌿

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User