Ribuan Warga Cape Verde Sambut Timnas Usai Tersingkir Piala Dunia
Para pemain Cape Verde menyapa pendukung yang memadati jalan di Praia. (Foto: AP Photo)PRAIA — Suasana haru dan bangga menyelimuti ibu kota Cape Verde, Pra

PRAIA — Suasana haru dan bangga menyelimuti ibu kota Cape Verde, Praia, saat ribuan warga membanjiri jalan untuk menyambut kepulangan tim nasional sepak bola mereka. Meskipun langkah The Blue Sharks terhenti di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah dramatis 2-3 dari Argentina, dukungan kepada skuad asuhan Nuno Borges justru mengalir deras. Para pemain diarak menggunakan bus terbuka, melambaikan bendera nasional, sementara sorak-sorai dan nyanyian menggema di sepanjang rute menuju Stadion Nasional.
Kekalahan dari Argentina pada laga yang digelar di Houston, Texas, sempat meninggalkan luka karena Cape Verde unggul 2-1 hingga menit ke-70 berkat gol-gel Ryan Mendes dan Gilson Benchimol. Namun, dua gol Lionel Messi di sepuluh menit terakhir memupuskan mimpi mereka untuk melaju ke babak 16 besar. Meski begitu, publik pulau kecil di Afrika Barat itu menilai pencapaian ini sebagai lompatan besar bagi sepak bola nasional.
Jejak Bersejarah di Meksiko-Amerika-Kanada
Penampilan Cape Verde di Piala Dunia 2026 mencatatkan sejarah baru. Negara berpenduduk sekitar 600 ribu jiwa itu untuk pertama kalinya lolos ke putaran final setelah melalui kualifikasi zona Afrika yang ketat. Mereka keluar sebagai juara Grup F kualifikasi, mengungguli Mali dan Mozambik, dan tampil percaya diri di fase grup dengan mengantongi hasil imbang lawan Kamerun serta kemenangan atas Selandia Baru.
“Kami tidak hanya hadir untuk berpartisipasi. Kami menunjukkan kepada dunia bahwa Cape Verde layak bersaing,” ujar kapten tim, Ryan Mendes, yang kini tercatat sebagai pencetak gol pertama negaranya di ajang Piala Dunia. Di babak 32 besar, mereka menghadapi unggulan Argentina dan sempat membuat kejutan sebelum akhirnya tumbang. Kendati tersingkir, penampilan agresif dan terorganisir mereka menuai pujian dari banyak pengamat internasional.
Momen Emosional di Bandara Praia
Kepulangan tim pada Sabtu (6/7/2026) pagi waktu setempat menjadi peristiwa emosional. Ratusan pendukung sudah menanti di Bandara Internasional Nelson Mandela sejak subuh. Begitu pesawat mendarat, mereka langsung meneriakkan nama-nama pemain sambil mengibarkan bendera biru-putih-merah. Para pemain yang tadinya lesu pasca kekalahan sontak terharu melihat sambutan itu.
“Ini adalah momen terindah dalam karier saya. Kekalahan dari Argentina sungguh menyakitkan, tetapi cinta dari masyarakat kami jauh lebih besar. Mereka membuat kami merasa seperti juara,” ujar gelandang tengah Deroy Duarte dengan mata berkaca-kaca saat diwawancarai di bandara.
Prosesi berlanjut dengan konvoi bus terbuka menuju Istana Kepresidenan, di mana Presiden José Maria Neves menyambut dan memberikan penghargaan kepada para pemain. Sepanjang perjalanan sejauh 15 kilometer, ribuan warga berdiri di pinggir jalan, banyak yang mengenakan kaos replika tim nasional. Musik tradisional funaná dan coladeira dimainkan oleh kelompok musik lokal, membuat suasana seperti perayaan nasional.
Dukungan yang Tak Pernah Padam
Fenomena dukungan masif ini mencerminkan ikatan emosional kuat antara masyarakat Cape Verde dan tim nasionalnya. Sebagai negara kepulauan yang sering dianggap underdog, sepak bola menjadi alat pemersatu dan sumber kebanggaan yang nyata. Menurut data Federasi Sepak Bola Cape Verde (FCF), penjualan tiket dan merchandise tim meningkat hingga 400% selama putaran final Piala Dunia, menunjukkan euforia yang luar biasa.
Beberapa poin penting dari perjalanan Cape Verde di Piala Dunia 2026:
- Pertama lolos ke putaran final setelah sebelumnya gagal di babak kualifikasi pada empat edisi sebelumnya.
- Mengoleksi 4 poin di fase grup (hasil imbang 1-1 lawan Kamerun, kemenangan 2-0 atas Selandia Baru, dan kalah tipis 0-1 dari Swiss).
- Mencetak total 7 gol sepanjang turnamen, dengan Ryan Mendes sebagai top skor tim (3 gol).
- Disambut oleh lebih dari 20.000 warga di jalanan Praia, menurut estimasi kepolisian setempat.
- Pemerintah mengumumkan bonus sebesar 1,5 juta euro untuk skuad dan staf pelatih sebagai apresiasi atas pencapaian bersejarah.
Para pengamat menilai bahwa penampilan Cape Verde akan menginspirasi negara-negara kecil lainnya di Afrika. Pelatih Nuno Borges, yang sebelumnya sukses menangani klub-klub di Portugal, berjanji bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan panjang. “Kami akan kembali di Piala Dunia berikutnya dan berbicara lebih keras,” katanya dalam pidato singkat di Istana Kepresidenan.
Dengan dukungan penuh rakyatnya, Cape Verde kini menatap masa depan sepak bola yang lebih cerah. Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa mimpi kecil pun dapat bergema luas di panggung dunia.
[SOCIAL_TWEET]: Kalah dari Argentina malah disambut bak pahlawan! Ribuan warga Cape Verde memadati jalan di Praia saat timnas pulang dari Piala Dunia 2026. Lautan biru-putih-merah dan air mata haru mewarnai penyambutan bersejarah ini. #CapeVerde #WorldCup2026 #SepakBolaAfrika[SOCIAL_TG]: 🇨🇻✨ Ribuan warga Cape Verde sambut timnas usai pulang dari Piala Dunia 2026, meski kalah dari Argentina. Kapten Ryan Mendes sampai terharu. Baca laporan lengkapnya! ⚽💙
Comments (0)