Rengginang Ketan Manis Gurih dan Kenangan di Balik Tungku Kayu
Di sebuah dapur mungil yang harum oleh uap santan, perjalanan sebutir ketan putih menjadi rengginang manis gurih bermula dengan sunyi. Halaman belakang rumah beratap seng itu masih remang saat seorang...
Di sebuah dapur mungil yang harum oleh uap santan, perjalanan sebutir ketan putih menjadi rengginang manis gurih bermula dengan sunyi. Halaman belakang rumah beratap seng itu masih remang saat seorang perempuan paruh baya menuang beras ketan yang sudah direndam semalaman ke dalam kukusan bambu. Suara gemericik air dan kayu bakar yang berderak pelan menjadi pengantar paling setia—jauh dari hingar-bingar dapur modern, dekat pada ingatan masa kecil yang selalu pulang.
Ketika Sepiring Rengginang Menjadi Penjaga Tradisi
“Dulu ibu saya selalu bilang, jangan sampai rengginang cuma ada di warung, karena ini soal rasa rumah,” tutur Lastri, sembari sesekali mengelap kening dengan ujung lengan baju batik lusuhnya. Perempuan asal Pemalang itu kini mengisahkan bagaimana resep warisan tiga generasi itu bertahan di tengah serbuan camilan kemasan. Bagi Lastri, rengginang bukan sekadar penganan ringan; ia adalah pengingat bahwa setiap gigitan memiliki cerita—soal sabar, soal cinta yang diulek bersama bumbu dapur.
Prosesnya memang tidak singkat. Beras ketan yang telah dikukus setengah matang dicampur dengan santan kental, sedikit garam, dan parutan kelapa muda. Aroma manis gurih mulai merebak saat adonan itu kembali dikukus hingga benar-benar matang dan lengket. Di sinilah letak “rasa rumah” yang dimaksud Lastri: bukan dari takaran yang dihafal di luar kepala, melainkan dari kepekaan tangan yang sudah terbiasa meraba kekenyalan ketan. “Kalau sudah terasa pas di ujung jari, itu tandanya siap dibentuk,” ucapnya lirih.
Membentuk Bulatan Mimpi di Atas Daun Pisang
Di atas daun pisang yang diolesi tipis minyak kelapa, bulatan-bulatan kecil ketan itu ditata berjajar. Satu per satu, tangan cekatan Lastri dan dua orang tetangganya membentuk adonan menjadi pipihan bundar berdiameter sekitar empat sentimeter. Gerakan berirama itu seperti tarian pagi—menepuk, memipihkan, lalu meletakkan di atas tampah anyaman bambu. Sinar matahari yang mulai meninggi menjadi sekutu terbaik. Rengginang mentah ini harus dijemur hingga benar-benar kering agar nanti bisa mengembang sempurna saat digoreng.
Di sudut lain dapur, seorang pemuda bernama Arif—putra bungsu Lastri—tengah menyiapkan wajan besar berisi minyak kelapa. “Awalnya saya malu bantu ibu, karena teman-teman main gim, saya malah jemur rengginang,” katanya sambil tersenyum. Namun kini, tangan Arif justru paling ditunggu. Ia paham betul kapan minyak harus benar-benar panas, kapan rengginang harus segera diangkat setelah mengembang, dan kapan saatnya meniriskan agar tidak terlalu berminyak. Dari rasa malu itu, Arif justru menemukan rasa bangga yang tak pernah ia duga.
Rahasia Rasa Manis Gurih yang Menembus Zaman
Yang membedakan rengginang ketan Lastri dari kebanyakan adalah perpaduan rasa yang tidak timpang. Manisnya berasal dari gula pasir yang ditambahkan dalam jumlah sedikit ke dalam adonan, bukan dari lapisan luarnya. Sementara gurihnya hadir dari santan asli dan taburan bawang putih yang diulek halus. Ketika gigitan pertama memecah rengginang yang renyah, rasa manis dan gurih itu langsung berpadu di lidah, menciptakan sensasi yang sulit dilupakan. “Banyak yang bilang, ini seperti kembali ke masa kecil di desa nenek,” ujar Lastri, kali ini dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Pandemi lalu sempat membuat pesanan merosot drastis. Namun alih-alih menyerah, Lastri dan Arif justru mulai mendokumentasikan proses pembuatan dan membagikannya di media sosial. Responsnya tidak terduga; banyak orang rindu camilan rumahan dan kenangan masa lalu. Kini, setiap pagi, setidaknya lima kilogram beras ketan diolah di dapur mungil itu. Pesanan mengalir dari dalam kota hingga luar pulau. “Ini bukan soal uang,” kata Arif, “ini soal menjaga yang ibu sudah mulai. Kalau bukan kami, siapa lagi yang akan melanjutkan?”
Di balik setiap rengginang yang melambung di minyak panas, ada kisah tentang bangkit dari keterpurukan, tentang air mata yang mengering di atas tampah bambu, dan tentang mimpi sederhana yang terus dijemur di bawah matahari. Rengginang ketan manis gurih ini tidak pernah berteriak mencari perhatian. Ia cukup hadir di toples kaca, menemani secangkir teh hangat di sore hari, sambil membisikkan pesan bahwa tradisi tidak akan pernah lekang selama masih ada tangan yang mau membentuknya—dengan sabar, dengan cinta.
Comments (0)