Sutradara Gonjiam Berjanji Syuting Horor di Indonesia, Ada Syaratnya
Di sebuah kafe kecil di kawasan Itaewon, Seoul, hujan rintik-rintik mengaburkan kaca jendela. Jung Bum-shik, sutradara di balik fenomena horor Gonjiam: Haunted Asylum, menatap butiran air yang meluncu...
Di sebuah kafe kecil di kawasan Itaewon, Seoul, hujan rintik-rintik mengaburkan kaca jendela. Jung Bum-shik, sutradara di balik fenomena horor Gonjiam: Haunted Asylum, menatap butiran air yang meluncur pelan, seolah mencari jawaban dari langit. Tangannya menggenggam secangkir kopi yang kian dingin, namun sorot matanya tetap menyala—penuh keyakinan yang nyaris membara. "Saya sudah lama mendengar cerita dari Indonesia," ucapnya lirih, suaranya bergetar oleh antusiasme yang ditahan. "Di sana, konon, hantu bukan sekadar legenda. Mereka ada. Mereka menunggu. Dan saya ingin bertemu." Janji yang diucapkannya malam itu bukanlah sekadar angan; ia benar-benar berencana untuk membawa horor khas Korea ke Tanah Air, lengkap dengan satu syarat yang tak bisa ditawar.
Kilasan Sukses yang Menginspirasi Langkah Baru
Bagi penggemar film horor, nama Jung Bum-shik mungkin sudah identik dengan teror yang mencekam. Lewat Gonjiam: Haunted Asylum, ia berhasil meraih lebih dari 2,5 juta penonton di Korea Selatan dan menjadi salah satu film horor terlaris sepanjang masa di negaranya. Namun, di balik kesuksesan itu, ada satu kisah lain yang kerap luput dari perhatian: sang sutradara ternyata sangat terpikat pada konsep horor berbasis lokasi nyata, seperti yang diangkat dalam proyek bertajuk 402 Rumah Sakit Angker—sebuah kisah yang sukses besar di box office Korea dan mengajarkan bahwa rasa takut paling autentik selalu lahir dari ruang-ruang yang benar-benar menyimpan luka.
"Film '402' mengajarkan saya bahwa penonton bisa membedakan mana set buatan dan mana yang asli," jelasnya, merujuk pada produksi horor yang mengambil latar rumah sakit terbengkalai tersebut. "Setiap retakan di dinding, setiap pintu yang berderit, memiliki cerita. Saya ingin membawa kejujuran itu ke Indonesia. Di sana, ada banyak tempat dengan sejarah yang tak kalah muram—rumah sakit tua, pabrik yang ditinggalkan, atau bahkan pasar malam yang kini hanya dihuni kenangan."
Syarat yang Tak Bisa Ditawar: Hanya Lokasi Tersebut yang Berbicara
Namun, niat besar itu tidak datang tanpa prasyarat. Jung menegaskan bahwa ia hanya akan syuting di Indonesia jika diberi akses penuh ke lokasi-lokasi yang benar-benar memiliki rekam jejak kelam. Tidak ada panggung buatan; tidak ada trik kamera yang berlebihan. "Saya ingin gedung yang saat Anda masuk sendirian, jantung Anda langsung berdetak lebih cepat," katanya, kali ini dengan nada serius. "Saya ingin lokasi yang sudah 'hidup' dengan kisahnya sendiri. Kalau tidak, lebih baik saya tidak jadi."
Syarat ini bukan tanpa alasan. Dalam setiap karyanya, Jung selalu menempatkan riset mendalam sebagai fondasi. Untuk Gonjiam saja, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan mempelajari sejarah rumah sakit jiwa yang sebenarnya, lengkap dengan kesaksian para mantan pasien dan perawat. Kini, ia berencana melakukan hal serupa di Indonesia—mendatangi tempat-tempat yang disebutnya "bersuara", menjalin komunikasi dengan penduduk lokal, dan bahkan melibatkan pembuat film Tanah Air agar esensi budaya tidak tercerabut dari akarnya.
"Saya tidak mau datang sebagai orang asing yang mengambil cerita lalu pergi," imbuhnya. "Saya mau duduk bersama kakek-kakek penjaga makam, mendengar bisikan mereka, dan membiarkan cerita itu menuntun kamera saya. Itu syarat mutlak."
Di Balik Layar: Ketakutan yang Menyatukan
Menariknya, obsesi Jung terhadap horor bukan sekadar urusan karier atau uang. Pria berusia 40-an itu menyimpan kenangan masa kecil yang menyentuh tentang rasa takut. Ia bercerita, ketika masih bocah, neneknya sering mendongengkan hantu-hantu tradisional Korea—cheonyeo gwishin atau mulgwishin—sebagai pengantar tidur. Alih-alih trauma, ia justru menemukan kehangatan di dalamnya. "Nenek saya bilang, hantu itu bukan untuk ditakuti, tapi untuk dimengerti. Mereka adalah cermin dari kesedihan manusia. Dari situlah saya belajar bahwa horor bisa menjadi medium yang sangat manusiawi."
Maka, ketika ia kini menatap Indonesia, yang ada di benaknya bukan sekadar angka penjualan tiket. Ia membayangkan sebuah jembatan antarbudaya, di mana teror Gonjiam yang dingin dan klinis bertemu dengan mistisisme Nusantara yang lekat dengan alam dan leluhur. "Saya ingin penonton Indonesia menonton film saya lalu berkata, 'Ini cerita kami. Ini ketakutan kami.' Itu lebih berharga dari sekadar box office," ucapnya, kali ini dengan senyum yang hampir malu-malu.
Jika syaratnya terpenuhi, Jung berencana memulai proses praproduksi pada akhir tahun depan. Ia bahkan sudah mengantongi beberapa nama lokasi potensial—dari rumah sakit era kolonial di Jawa Tengah hingga bekas bioskop tua di Sumatera. Namun, ia menolak menyebutkan detailnya. "Biar itu menjadi kejutan," katanya, sembari menyeruput kopi yang sudah benar-benar dingin. "Yang pasti, saya sudah tidak sabar untuk mulai. Indonesia, tunggu saya."
Comments (0)