Food & Hospitality Indonesia 2025 Dorong Kolaborasi Industri

Aroma rempah dan kopi segar berpadu dengan dengung mesin penggiling berteknologi tinggi di aula utama Jakarta International Expo. Di sudut lain, puluhan pengusaha kecil memamerkan aneka sambal kemasan...

Jul 12, 2026 - 04:31
0 0
Food & Hospitality Indonesia 2025 Dorong Kolaborasi Industri

Aroma rempah dan kopi segar berpadu dengan dengung mesin penggiling berteknologi tinggi di aula utama Jakarta International Expo. Di sudut lain, puluhan pengusaha kecil memamerkan aneka sambal kemasan siap ekspor. Inilah sekelumit warna pameran dagang internasional Food & Hospitality Indonesia (FHI) yang kembali menjadi panggung bagi ribuan pelaku industri makanan, minuman, dan perhotelan. Gelaran tahun ini tak sekadar mempertemukan pembeli dan penjual, melainkan juga merajut kolaborasi yang melampaui transaksi bisnis.

Panggung Inovasi dan Keberlanjutan

Memasuki sesi utama, pengunjung disambut oleh deretan produk yang menekankan prinsip ramah lingkungan. Mulai dari kemasan berbahan rumput laut yang bisa larut, sampai mesin pengolah limbah dapur yang mengubah sisa makanan menjadi kompos dalam hitungan jam. Salah satu peserta, produsen alat kopi manual dari Bandung, menceritakan perjalanannya menciptakan grinder dari kayu bekas peti kemas. “Kami hanya berpikir bagaimana sampah bisa punya nilai tambah. FHI membuat ide kecil itu dilihat orang dari empat benua,” ujarnya dengan nada haru.

Komitmen terhadap keberlanjutan juga ditunjukkan melalui konferensi “Future Kitchen” yang menghadirkan para chef dan pemilik restoran. Mereka berbagi praktik pengelolaan dapur tanpa limbah, termasuk pemanfaatan bahan pangan yang selama ini dianggap sisa. Diskusi ini menjadi jembatan antara pelaku usaha kecil dan rantai hotel besar yang mulai menerapkan standar operasional hijau. Para peserta konferensi sepakat, kolaborasi semacam ini mempercepat adopsi teknologi bersih di seluruh ekosistem kuliner nasional.

Dari Dapur Kecil Menembus Pasar Global

Di lorong khusus UKM, tampak seorang lelaki paruh baya dengan telaten menata botol-botol madu hutan. Ia adalah salah satu dari ratusan pelaku bisnis rumahan yang difasilitasi agar bisa berdiri sejajar dengan para raksasa industri. Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana usahanya yang semula hanya dititipkan di warung, kini mendapat pesanan dari dua negara di Timur Tengah. “Saya tidak menyangka FHI bisa menjadi jalan rezeki sebesar ini,” katanya sambil menunjuk lembar nota kesepahaman yang baru ditandatangani.

Perjuangan serupa juga dialami sekelompok perempuan pengusaha dodol dan keripik dari Sumatera Barat. Mereka datang dengan semangat, meski modal terbatas dan pengetahuan ekspor yang minim. Melalui program pendampingan yang diinisiasi penyelenggara, mereka belajar tentang sertifikasi halal, desain kemasan, hingga pemasaran digital. Alhasil, produk oleh-oleh khas Ranah Minang itu kini siap merambah pasar Malaysia dan Brunei Darussalam. Momen sederhana di sudut pameran itu menjelma sebagai titik balik yang membuka pintu masa depan lebih cerah.

Teknologi yang Mendekatkan

Tak hanya produk fisik, deretan solusi digital turut merebut perhatian pengunjung. Sebuah startup lokal memperkenalkan sistem manajemen restoran berbasis kecerdasan buatan yang mampu memprediksi stok bahan baku harian hanya dari data cuaca dan kalender lokal. Di stan lain, sebuah hotel chain besar memamerkan robot pelayan yang sepenuhnya dikembangkan oleh insinyur dalam negeri. Di balik layar, terjadi pertemuan antara pelaku teknologi dan pemilik kafe tradisional yang sebelumnya asing dengan digitalisasi.

Perwakilan startup tersebut menceritakan momen mengharukan saat seorang pemilik warung makan berusia 60 tahun mencoba tablet pemesanan untuk pertama kalinya. “Awalnya beliau ragu, tapi ketika tahu sistem ini bisa mengurangi antrean dan meningkatkan pendapatan, matanya berbinar. Itu yang membuat kami bersemangat,” kenangnya. Kisah ini menegaskan bahwa teknologi bukanlah jurang pemisah, melainkan jembatan yang mempertemukan generasi dan skala bisnis yang berbeda.

Pameran yang berlangsung selama empat hari itu mencatat lebih dari 25.000 pengunjung dan potensi transaksi yang melampaui target. Namun, bagi sebagian besar peserta, nilai terbesar bukan sekadar angka di lembar kontrak. Ia terletak pada jejaring baru, ide segar, dan keyakinan bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Perhelatan ini menjadi bukti, di tengah persaingan global, gotong royong dan inovasi tetap mampu menghangatkan semangat industri pangan dan perhotelan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User