Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Pramono Gratiskan TransJ dan Ancol Lima Hari untuk Semua Warga Indonesia

Bayangkan Jakarta yang biasanya sibuk dan berbayar, tiba-tiba berubah menjadi panggung perayaan milik semua orang. Tidak ada tiket, tidak ada tarif, hanya

Jul 08, 2026 - 13:26
0 0
Pramono Gratiskan TransJ dan Ancol Lima Hari untuk Semua Warga Indonesia

Bayangkan Jakarta yang biasanya sibuk dan berbayar, tiba-tiba berubah menjadi panggung perayaan milik semua orang. Tidak ada tiket, tidak ada tarif, hanya tawa dan langkah kaki yang bebas melangkah. Itulah gambaran yang coba dihadirkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, lewat janjinya menggratiskan transportasi umum dan tempat wisata selama lima hari penuh, dalam rangka merayakan lima abad usia kota ini pada Juni 2027 mendatang.

Di sela penutupan acara Khitanan Massal bersama PAM Jaya di Balai Kota, Rabu petang, Pramono menyampaikan kabar itu dengan nada yang hangat, hampir seperti seorang ayah yang membagikan hadiah untuk seluruh keluarga besarnya. "Tahun depan, DKI Jakarta menyambut lima abad," ujarnya, dikutip dari keterangan pers, Rabu (8/7/2026).

"Saya sudah memutuskan nanti bagi siapa pun warga Indonesia, bukan Jakarta, di Jakarta selama lima hari, dari tanggal 22 sampai dengan 27 (Juni 2027), transportasinya gratis Rp 1. Semua warga negara, tidak hanya Jakarta."

Kalimat itu memantik senyum tak hanya bagi hadirin di Balai Kota, tetapi juga bagi jutaan warga yang membayangkan bisa menikmati TransJakarta, MRT, LRT, hingga Ancol tanpa merogoh kocek sepeser pun. Bagi banyak orang, terutama mereka yang selama ini hanya bisa memandang gemerlap ibu kota dari kejauhan, janji ini terasa seperti undangan terbuka untuk akhirnya merasa menjadi bagian dari perayaan besar tersebut.

Lebih dari Sekadar Gratis, Sebuah Pengakuan

Di balik kebijakan populis itu, ada pesan yang lebih dalam. Pramono seakan ingin menegaskan bahwa Jakarta, di usianya yang ke-500, bukan lagi sekadar milik pemegang KTP DKI. Kota ini adalah ruang bersama, tempat seluruh anak bangsa berhak merasa diterima dan dirayakan. "Ini bukan hanya soal transportasi gratis," ujar Siti Nurhasanah, seorang penjual gado-gado di kawasan Senen yang sudah 20 tahun merantau dari Brebes. "Ini soal kami, yang tiap hari cari nafkah di sini, juga dianggap bagian dari sejarah kota ini. Rasanya seperti diakui."

Hal senada dirasakan Andi Pratama, pekerja harian di pelabuhan yang kerap hanya menjadi penonton kemeriahan ibu kota dari pinggiran. "Biasanya kalau ada acara besar, saya cuma lihat di TV. Sekarang bisa ajak anak-anak naik bus tingkat keliling kota, gratis lagi. Mereka pasti senang sekali," katanya, suaranya bergetar membayangkan pengalaman pertama bagi kedua anaknya itu.

Lima Hari, Sejuta Cerita

Periode 22-27 Juni 2027, yang tepat berada di sekitar Hari Ulang Tahun Jakarta pada 22 Juni, dipilih sebagai momen puncak selebrasi. Selama lima hari itu, seluruh moda transportasi publik di bawah naungan Pemprov DKI—termasuk TransJakarta, MRT, LRT Jakarta—akan dikenai tarif simbolis karena regulasi tidak memungkinkan penuh Rp 0, sehingga ditetapkan Rp 1. Tempat wisata seperti Taman Impian Jaya Ancol, yang pengelolaannya melibatkan pemerintah provinsi, juga akan membuka pintu selebar-lebarnya tanpa biaya masuk.

Kebijakan ini menyasar semua warga negara Indonesia yang sedang berada di Jakarta, bukan hanya penduduk ber-KTP DKI. Sebuah langkah inklusif yang jarang dilakukan oleh kota besar mana pun di tanah air. "Kami ingin perayaan lima abad ini bukan sekadar seremoni, tapi hadiah nyata yang bisa dirasakan semua orang," kata Pramono menutup sambutannya, menyulut tepuk tangan panjang dari para orang tua yang hadir di acara khitanan massal sore itu.

Bagi Jakarta, genap setengah milenium adalah capaian yang bukan cuma soal angka. Ia adalah akumulasi dari jutaan kisah—pedagang, pekerja, pemimpi—yang datang, menetap, dan membentuk kota menjadi apa adanya hari ini. Menghadiahkan akses seluas-luasnya untuk menikmati denyut nadi ibu kota tanpa sekat biaya adalah cara paling manusiawi untuk berterima kasih kepada mereka semua.

Kini, yang ditunggu adalah langkah teknis berikutnya: bagaimana memastikan layanan tetap prima saat lonjakan pengguna terjadi, dan bagaimana menyebarkan informasi hingga ke sudut-sudut kota paling sunyi. Sebab, akan sangat disayangkan jika hadiah semegah ini tak sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkannya—para pejuang ekonomi yang tiap hari menganyam hidup di tengah bising Jakarta, namun jarang sempat sekadar duduk menikmati senja di pantai Ancol.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User