Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Sleman - Prabowo dan PM India Disambut Tari Rama Sinta di Prambanan

Langit Sleman sedikit berawan ketika iring-iringan mobil hitam memasuki pelataran Candi Prambanan, Rabu (8/7/2026) siang. Tepat pukul 11.45 WIB, Presiden P

Jul 08, 2026 - 13:24
0 0
Sleman - Prabowo dan PM India Disambut Tari Rama Sinta di Prambanan

Langit Sleman sedikit berawan ketika iring-iringan mobil hitam memasuki pelataran Candi Prambanan, Rabu (8/7/2026) siang. Tepat pukul 11.45 WIB, Presiden Prabowo Subianto turun dari kendaraan dengan senyum lebar, mendampingi Perdana Menteri India Narendra Modi. Derap gamelan langsung menyambut, menandai sebuah kunjungan yang tak sekadar seremonial. Di tengah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia itu, dua pemimpin berhenti sejenak, terpana oleh sembilan penari yang mulai meliuk membawakan kisah Rama dan Sinta.

Hening sesaat. Hanya suara gamelan dan gemerisik kostum tari yang memecah udara. Para penari muda itu membawakan fragmen cinta dan pengorbanan—dua nilai yang diam-diam merekatkan Indonesia dan India dalam benang budaya yang sama.

Ketika Gerak Tubuh Bercerita Lebih dari Kata

Di antara para penari, Ni Luh Putu Ayu (23) memerankan sosok Sinta. Matanya berkaca-kaca begitu tarian usai. “Saya tidak menyangka akan menari di hadapan Pak Presiden dan Perdana Menteri India. Ini bukan sekadar tarian bagi saya,” katanya pelan, sembari memegang ujung selendang. “Setiap lenggokan tangan kami hari ini adalah doa—semoga candi ini kembali berdiri gagah, seperti kisah Rama yang tak pernah menyerah menyelamatkan Sinta.”

Ayu adalah generasi ketiga keluarganya yang menjadi penari tradisional di kawasan Prambanan. Neneknya dulu menari di candi yang sama, hanya dengan penerangan obor dan penonton yang jauh lebih sepi. Kini, di depan para pemimpin negara, ia merasa misi keluarganya mencapai puncak.

Batu-Batu yang Menyimpan Harapan Baru

Kunjungan Prabowo dan PM Modi memang bukan kunjungan biasa. Di balik kemegahan tarian, tersimpan agenda besar: kerja sama revitalisasi candi yang telah menjadi saksi bisu perjalanan peradaban sejak abad ke-9 itu. Bagi warga sekitar, kabar ini seperti oase di tengah kekhawatiran yang menahun. Sutopo (57), pemandu wisata senior yang sehari-hari menemani wisatawan berkeliling candi, tak bisa menyembunyikan kelegaannya.

“Setiap musim hujan saya waswas. Beberapa relief mulai mengelupas, batu-batu kecil sering jatuh. Saya ini sudah 30 tahun bercerita tentang Rama Sinta kepada turis, tetapi lama-lama cerita itu bisa tinggal cerita kalau candinya tidak dirawat,” ujar Sutopo. “Hari ini saya melihat sendiri dua pemimpin duduk bersama di depan candi. Rasanya seperti legenda yang hidup kembali.”

Revitalisasi yang direncanakan mencakup tiga pilar utama:

  • Konservasi struktur candi dengan teknologi pemugaran mutakhir, menggabungkan keahlian arkeolog Indonesia dan India.
  • Pertukaran budaya dan pendidikan, termasuk pelatihan bagi generasi muda penari dan pemahat batu.
  • Pengembangan pariwisata berbasis komunitas, agar warga lokal menjadi tuan rumah di tanah sendiri.

Dr. Ratna Kusuma, pengamat warisan budaya dari universitas setempat, menyebut momen ini sebagai “pernikahan kembali dua epik.”

“Kerja sama ini bukan hanya tentang batu dan semen. Ini tentang menghidupkan narasi bersama antara Indonesia dan India. Epos Ramayana mengalir di darah kedua bangsa. Ketika kita merawat Candi Prambanan, kita sebenarnya sedang merawat ingatan kolektif tentang perdamaian, cinta, dan pengorbanan,” jelasnya.

Hari di Mana Candi Ikut Tersenyum

Setelah pertunjukan tari usai, Prabowo dan PM Modi berjalan berdampingan menyusuri lorong-lorong batu purba. Keduanya sesekali berhenti, mengamati relief, berbisik, lalu melanjutkan langkah. Di kejauhan, Mbah Pawiro (78)—sesepuh desa yang sejak kecil tinggal di bayang-bayang candi—memandangi kedua tokoh itu dari bawah pohon beringin tua. Ia tak mengerti sepenuhnya tentang diplomasi atau perjanjian kerja sama. Tapi ia tahu satu hal: candi yang dulu sering ia panjat saat bocah itu akan kembali dirawat.

“Saya senang,” katanya singkat dalam bahasa Jawa, matanya menerawang ke arah puncak candi Siwa yang menjulang. Senyum tipisnya seolah mewakili ribuan warga yang menjadikan Prambanan bukan sekadar objek wisata, melainkan rumah jiwa yang harus dijaga bersama.

Sore itu, Candi Prambanan yang telah melewati sebelas abad seakan ikut tersenyum. Bukan hanya karena dua pemimpin besar datang, melainkan karena sebuah babak baru perjalanannya baru saja dimulai—dengan tarian, doa, dan janji yang ditorehkan di atas batu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User