Prabowo Resmikan Bendungan Meninting, Wujudkan Mimpi Petani Lombok Barat
Lombok Barat, 10 Juli 2026 – Mentari pagi menyelinap di balik perbukitan hijau yang mengelilingi aliran Sungai Meninting. Di Desa Dasan Tengak, ribuan warg
Lombok Barat, 10 Juli 2026 – Mentari pagi menyelinap di balik perbukitan hijau yang mengelilingi aliran Sungai Meninting. Di Desa Dasan Tengak, ribuan warga berkumpul dengan wajah penuh harap. Perempuan-perempuan mengenakan pakaian terbaik mereka, anak-anak berlarian riang, sementara para petani menatap bangunan megah yang telah lama mereka impikan. Jumat itu menjadi saksi ketika Presiden Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Meninting, sebuah janji beton yang akhirnya berdiri kokoh di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Di tengah kerumunan, Ibu Sahnun (47) tak mampu membendung haru. Matanya berkaca-kaca menatap birunya air yang tenang di belakang dinding bendungan. Petani yang sehari-hari menggarap lahan setengah hektare itu masih ingat jelas pahitnya musim kemarau sebelum bendungan berdiri. “Dulu, kalau hujan tak turun, kami hanya bisa pasrah. Sawah mengering, padi mati di tengah ladang. Sekarang rasanya seperti mimpi,” ujarnya lirih.
Selama puluhan tahun, warga di tiga kecamatan—Lingsar, Narmada, dan Batu Layar—hidup dalam belenggu ketidakpastian. Air irigasi yang mengandalkan aliran sungai kecil sering tak mencukupi. Saat kemarau panjang, perempuan seperti Ibu Sahnun harus menempuh tiga kilometer hanya untuk menimba air bersih dari mata air di kaki bukit. “Anak saya sering nggak sekolah karena bantu saya angkut air. Sekarang saya ingin mereka fokus belajar,” tambahnya, kali ini dengan senyum yang merekah.
“Bendungan ini adalah nafas baru bagi Lombok Barat. Kami sudah bermimpi sejak era 90-an. Alhamdulillah, Presiden Prabowo mewujudkannya.” — Haji Lalu Wiryawan, tokoh masyarakat
Dari Lahan Kering Menjadi Lumbung Sejahtera
Dibangun dengan kapasitas tampung 3,2 juta meter kubik, Bendungan Meninting kini mampu mengairi sedikitnya 1.500 hektare lahan pertanian yang sebelumnya hanya panen setahun sekali. Dengan jaringan irigasi yang tertata, petani kini bisa menanam padi, cabai, dan tomat hingga tiga kali setahun. Bagi mereka yang bertahun-tahun bergelut dengan rawan pangan, bendungan ini adalah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan di surau-surau kecil. “Dulu satu kali panen saja susah. Sekarang kami bisa panen dua kali padi lalu tanaman hortikultura. Hasilnya naik tiga kali lipat,” cerita Pak Sarip (52), ketua kelompok tani Sumber Rejeki yang mengelola ratusan hektare sawah di wilayah hilir bendungan.
Tak hanya pertanian yang terselamatkan. Pipa-pipa distribusi air baku mulai mengalir ke rumah-rumah warga, menggantikan jeriken-jeriken usang yang dulu menjadi pemandangan sehari-hari. “Air bersih itu mewah bagi kami. Sekarang anak-anak bisa mandi dengan cukup, cuci tangan kapan saja. Sederhana, tapi sangat berarti,” tutur Ibu Sahnun yang kini merasakan perbedaan nyata di dapurnya sendiri.
Lebih dari Sekadar Beton dan Air
Menteri Pekerjaan Umum yang mendampingi Presiden menjelaskan bahwa Bendungan Meninting tak hanya berfungsi sebagai irigasi dan penyedia air baku. Ia juga menjadi pengendali banjir yang kerap melanda permukiman di bantaran Sungai Meninting saat musim hujan. Setiap tahun, banjir bandang menghanyutkan jembatan kecil, merendam rumah, bahkan merenggut nyawa. Kini, dengan bendungan yang meredam debit air secara terkendali, risiko itu menyusut drastis.
Di sisi lain, pesona bendungan yang dikelilingi hijaunya perbukitan mulai menarik minat wisatawan lokal. Pemerintah daerah tengah menyusun rencana pengembangan kawasan wisata terpadu di sekitar bendungan—sebuah nilai tambah yang membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda. “Dulu pemuda banyak yang merantau karena di sini tak ada peluang. Sekarang kita bisa berdagang di kios wisata, jadi pemandu, atau usaha kuliner,” ujar Haikal (25), pemuda Desa Dasan Tengak yang kini memilih menetap.
“Bendungan Meninting adalah bukti bahwa negara hadir untuk rakyat kecil. Kami ingin petani dan masyarakat desa merasakan langsung manfaat pembangunan. Air adalah kehidupan.” — Presiden Prabowo Subianto
Dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan ribuan warga, Presiden berulang kali menekankan bahwa infrastruktur seperti Bendungan Meninting tidak boleh berhenti di sini. Ia menjanjikan pemerataan serupa di pelosok negeri, mengubah paradigma pembangunan yang selama ini sering dirasakan eksklusif oleh kota besar. Para ibu yang berdiri di belakang pagar pembatas mengangguk-angguk, mengamini setiap kata yang terlontar dari orang nomor satu di negeri itu.
Menjelang sore, ketika rombongan Presiden meninggalkan lokasi, Ibu Sahnun masih berdiri di tepian bendungan. Kali ini ia tak sendiri—puluhan petani perempuan lain bergandengan tangan, seolah mengucap syukur dalam diam. Di kejauhan, aliran irigasi mulai menyusuri petak-petak sawah dengan irama yang menenangkan. “Sekarang saya bisa menanam apa saja. Mimpi kami sederhana: makan dari hasil keringat sendiri, tanpa takut lapar. Hari ini, mimpi itu nyata,” pungkasnya.
Bendungan Meninting bukan sekadar tumpukan beton dan air yang dibendung. Ia adalah simpul harapan yang mengikat ribuan keluarga, saksi bisu perjuangan panjang yang kini berbuah kehidupan yang lebih baik. Dari sawah-sawah yang mengering menjadi hamparan hijau penghidupan, dari perempuan yang menimba air di kejauhan menjadi rumah yang dialiri air bersih setiap hari. Di Lombok Barat, air telah kembali menjadi berkah yang tak ternilai.
Manfaat Utama Bendungan Meninting
- Irigasi: Mengairi 1.500 hektare lahan pertanian, memungkinkan panen 2–3 kali setahun.
- Air Baku: Mendistribusikan air bersih ke ribuan rumah tangga di tiga kecamatan.
- Pengendalian Banjir: Meredam debit Sungai Meninting saat musim hujan, mengurangi risiko banjir bandang.
- Pariwisata: Potensi wisata danau buatan dengan pemandangan perbukitan hijau yang mendorong ekonomi lokal.
Comments (0)