Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Ponorogo — Wamenko Pangan Tegaskan Teknologi Kunci Swasembada Jagung

Embun masih bergelayut di ujung daun jagung ketika langkah-langkah kecil petani menyusuri pematang sawah. Pagi itu, Rabu (10/4), Desa Sidorejo, Kecamatan P

Jul 08, 2026 - 15:15
0 1
Ponorogo — Wamenko Pangan Tegaskan Teknologi Kunci Swasembada Jagung

Embun masih bergelayut di ujung daun jagung ketika langkah-langkah kecil petani menyusuri pematang sawah. Pagi itu, Rabu (10/4), Desa Sidorejo, Kecamatan Pulung, Ponorogo, berubah menjadi panggung harapan. Di tengah hamparan hijau kekuningan seluas 12 hektare yang siap panen, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, hadir bukan sekadar sebagai pejabat—melainkan sebagai pendengar setia cerita tanah yang telah memberi hidup bagi ratusan keluarga petani.

Panen Perdana yang Menjawab Keraguan

Dengan tangan cekatan, Sukirman (47), petani setempat, memetik tongkol-tongkol jagung yang telah matang sempurna. “Dulu, hasil kami paling banter 6 ton per hektare. Sekarang, setelah pakai bibit unggul dan sistem irigasi tetes, alhamdulillah bisa tembus 9,8 ton per hektare,” ujarnya, setengah tak percaya, sambil menyeka keringat dengan lengan baju yang lusuh. Angka yang ia sebutkan bukan isapan jempol; data sementara Dinas Pertanian Ponorogo mencatat produktivitas rata-rata jagung di wilayah itu naik 22% dibandingkan musim tanam sebelumnya.

  1. Pukul 07.30 WIB: Wamenko Hanif tiba di lokasi panen, disambut gamelan petani dan tumpengan kecil sebagai wujud syukur.
  2. Pukul 08.00 WIB: Prosesi panen simbolis dilakukan—Hanif ikut memetik lima tongkol jagung bersama Sukirman, disaksikan penyuluh pertanian dan para petani milenial.
  3. Pukul 08.45 WIB: Dialog terbuka di gubuk sawah. Petani mengeluhkan fluktuasi harga, sementara Hanif mendorong penerapan smart farming berbasis sensor tanah dan aplikasi pemantauan cuaca.

Teknologi Bukan Mewah, tapi Kebutuhan

Di bawah tenda sederhana yang didirikan di tepi ladang, Hanif menyampaikan pesan kunci. “Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Teknologi adalah kunci swasembada jagung. Bukan sekadar traktor atau pompa air, tapi sistem presisi yang memberi tahu petani kapan harus menanam, kapan harus memupuk, dan berapa banyak air yang dibutuhkan,” tegasnya. Ia menyebutkan bahwa Kemenko Pangan mendorong kolaborasi lintas sektor—perguruan tinggi, startup agritech, dan perbankan—untuk membuat teknologi ini terjangkau. “KUR (Kredit Usaha Rakyat) sektor pertanian akan kita perkuat agar petani bisa membeli alat sensor senilai Rp2–3 juta per unit,” tambahnya. Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan, adopsi teknologi pertanian presisi mampu menekan biaya produksi hingga 15% dan meningkatkan hasil panen minimal 20%.

Harapan di Sela Gemerisik Daun Jagung

Di antara para petani, tampak Sari (23), lulusan Politeknik Pertanian yang memilih pulang kampung menggarap lahan warisan orangtuanya. “Saya sempat ragu, apakah jadi petani itu keren. Tapi sekarang, dengan aplikasi dan alat-alat modern, rasanya seperti menjalankan laboratorium alam,” katanya sambil tersenyum kecil. Kehadiran kaum muda seperti Sari menjadi napas baru. Wamenko Hanif pun menyambut, “Mereka inilah jembatan antara tradisi dan inovasi. Swasembada bukan hanya soal produksi, tapi regenerasi.”

Panen raya di Ponorogo kali ini bukanlah seremonial biasa. Ia adalah potret nyata bahwa ketika tangan petani dibekali teknologi, dan pemerintah hadir dengan kebijakan yang memihak, maka jagung—si emas kuning—bisa menjadi tiang kedaulatan pangan negeri ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User