Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Pohon Cempedak Kian Langka, Padahal Mudah Ditanam

Di sudut pekarangan rumah Nenek Siti (74) di Desa Wates, Kediri, sebatang pohon cempedak setinggi 12 meter masih kokoh berdiri. Setiap musim panen, dari Ja

Jul 09, 2026 - 19:47
0 0
Pohon Cempedak Kian Langka, Padahal Mudah Ditanam

Di sudut pekarangan rumah Nenek Siti (74) di Desa Wates, Kediri, sebatang pohon cempedak setinggi 12 meter masih kokoh berdiri. Setiap musim panen, dari Januari hingga Maret, pohon itu menggantungkan belasan buah lonjong berduri lunak yang aromanya harum semerbak. “Dulu semasa kecil saya, hampir tiap rumah punya cempedak. Sekarang? Dihitung jari,” kenangnya lirih sambil menunjuk deretan pohon mangga dan jambu kristal yang kini lebih dominan di kampungnya.

Cerita Nenek Siti bukan sekadar nostalgia. Data dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur menunjukkan populasi pohon cempedak di pekarangan warga di empat kabupaten turun 42% dalam dua dekade terakhir. Tanaman asli Nusantara ini kian tersisih, padahal perawatannya jauh lebih sederhana ketimbang buah-buahan komersial.

1950–1980: Cempedak Jadi Primadona Pekarangan

Pada masa itu, menanam cempedak adalah bagian dari tradisi. Hampir setiap keluarga memiliki satu pohon di halaman belakang. Selain buahnya bisa dimakan langsung, diolah menjadi gorengan atau kolak, kayunya digunakan untuk perkakas, dan daunnya sebagai pakan ternak.

  1. 1960-an: Program pemerintah “Pekarangan Pangan” mendorong warga menanam tanaman serbaguna; cempedak jadi salah satu pilihan utama karena tahan hama dan tak butuh pestisida.
  2. 1975: Survei pertanian mencatat 68% rumah tangga pedesaan Jawa memiliki setidaknya satu pohon cempedak atau kerabatnya (nangka, sukun).
  3. 1980-an: Muncul pasar-pasar rakyat yang rutin menjual cempedak segar maupun olahan dodol cempedak khas daerah.

1990–2010: Buah Lokal Tergusur Tanaman Komersial

Masuknya varietas unggul mangga, jeruk, dan durian montong mengubah preferensi petani. Nilai jual cempedak yang musiman dan masa simpan singkat membuatnya kalah bersaing.

“Saya ingat betul, sekitar tahun 1998 banyak yang menebang pohon cempedak karena lahan mau ditanami durian montong. Harganya memang lebih tinggi,” ujar Karyadi (58), petani di Magelang. “Padahal perbandingan biaya rawat cempedak tuh cuma 20% dari durian, gak perlu dipupuk mahal-mahal.”

  1. 1997–2000: Krisis ekonomi membuat sebagian warga kembali melirik tanaman pangan sendiri, namun cempedak tetap dianggap “kurang bergengsi”.
  2. 2005: Kementerian Pertanian mencatat produksi cempedak nasional anjlok 35% dibandingkan tahun 1990.
  3. 2010: Hanya 11% pekarangan rumah di kawasan sentra buah yang masih menanam cempedak berdasarkan pemetaan swadaya komunitas pertanian organik.

2018–Sekarang: Geliat Pelestarian oleh Komunitas Muda

Generasi muda kota mulai resah saat menyadari anak-anak mereka tak lagi mengenal cempedak kecuali dari foto internet. Sejumlah komunitas urban farming di Malang, Yogyakarta, dan Bandung memulai gerakan “Satu Rumah Satu Cempedak”.

“Ini bukan cuma soal buah, tapi soal warisan rasa dan biodiversitas,” kata Dani (27), penggiat Komunitas Pangan Nusantara. “Kami ajak anak-anak mencicipi langsung buah yang baru jatuh dari pohon, mereka takjub karena selama ini taunya cuma nangka.”

  1. 2019: Gerakan bagi-bagi bibit cempedak gratis di 12 kota menghasilkan 2.700 pohon tertanam dalam tiga tahun.
  2. 2021: Produk olahan seperti keripik cempedak dan selai mulai dilirik kafe, menciptakan pasar baru bagi petani.
  3. 2024: Sebanyak 45 kepala keluarga di Desa Wates mulai menanam kembali cempedak setelah puluhan tahun absen, difasilitasi program desa wisata berbasis pangan tradisional.

Nenek Siti kini tak lagi sendirian. Setiap sore, anak-anak tetangga kerap mampir menunggu buah cempedak jatuh atau minta diajari cara membedakan cempedak masak dari aromanya. Sebuah babak baru bagi pohon yang nyaris dilupakan, tetapi terbukti tetap bisa hidup hanya dengan tadah hujan, tanpa minta perhatian lebih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User