Pau Cubarsi Bela Prancis, Kecam Komentar Rasis Rajoy
Bek muda timnas Spanyol, Pau Cubarsi, tampil sebagai sosok yang menjunjung tinggi sportivitas dan persahabatan antarbangsa. Ia secara terbuka membela Pranc
Bek muda timnas Spanyol, Pau Cubarsi, tampil sebagai sosok yang menjunjung tinggi sportivitas dan persahabatan antarbangsa. Ia secara terbuka membela Prancis dan mengecam keras ucapan kontroversial mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, yang dinilai bernada rasis. Pernyataan Cubarsi ini muncul di tengah sorotan publik terhadap Rajoy yang diduga melontarkan komentar bernada diskriminatif terkait performa tim nasional Prancis di ajang internasional.
Komentar Kontroversial Mariano Rajoy
Gegernya dimulai ketika Mariano Rajoy, dalam sebuah acara bincang politik yang disiarkan televisi swasta pada Jumat malam, menyampaikan sindiran tajam terhadap skuad Prancis. Dalam pernyataannya, Rajoy menyebut “keberhasilan Prancis hanya didapat berkat pemain-pemain yang tidak sepenuhnya mewakili nilai-nilai Eropa murni”. Ungkapan ini langsung memicu reaksi negatif dari berbagai kalangan, termasuk pengamat politik, aktivis anti rasisme, dan tokoh olahraga. Banyak yang menganggap kata-kata Rajoy sebagai serangan berbau xenofobia yang tidak pantas diucapkan oleh seorang mantan kepala pemerintahan.
Pau Cubarsi Angkat Bicara
Menanggapi hal itu, Pau Cubarsi—yang saat ini membela FC Barcelona dan menjadi pilar lini belakang Spanyol—menyampaikan pendapatnya melalui unggahan di media sosial. Dalam sebuah video pendek berdurasi dua menit, Cubarsi berbicara dengan tegas:
“Saya lahir dan besar di Spanyol, tetapi saya tidak bisa tinggal diam melihat rekan-rekan sesama atlet dihina karena latar belakang mereka. Pernyataan Pak Rajoy menyakiti banyak orang, termasuk teman-teman saya di timnas Prancis yang saya hormati. Sepak bola tidak mengenal ras atau asal-usul. Ini soal kerja keras dan talenta.”
Cubarsi juga menambahkan bahwa ia mengagumi keragaman yang dimiliki tim nasional Prancis. Ia menyebut kekuatan Les Bleus justru terletak pada persatuan pemain dari berbagai latar belakang etnis dan budaya. “Itulah yang membuat mereka juara dunia dua kali,” tegasnya.
Dukungan Publik dan Reaksi Pemain Lain
Pernyataan Cubarsi langsung mendapat lebih dari 500 ribu likes dalam waktu kurang dari satu jam dan dibanjiri komentar dukungan. Sejumlah pemain top Eropa turut memberikan apresiasi. Kylian Mbappé, kapten timnas Prancis, mengunggah ulang video Cubarsi dengan emoji kepalan tangan. Eduardo Camavinga, gelandang Prancis yang juga rekan setim Cubarsi di sesi latih tanding internasional, menulis: “Bangga punya sahabat seperti kamu, Pau. Ini bukan soal negara, ini soal kemanusiaan.”
Dari dalam negeri, dukungan juga mengalir dari rekan Cubarsi di timnas Spanyol. Gavi dan Lamine Yamal ikut menyuarakan anti-rasisme melalui unggahan simbolis yang menampilkan tangan-tangan berbeda warna saling menggenggam. Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun sumber internal menyebut mereka akan segera merilis sikap tegas menolak segala bentuk diskriminasi.
Kronologi Insiden dan Tanggapan Rajoy
Berikut kronologi singkat yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber:
- Jumat malam: Mariano Rajoy melontarkan komentar diskriminatif dalam program bincang politik “El Debate”.
- Sabtu dini hari: Potongan video pernyataan Rajoy viral di Twitter/X dan TikTok, memicu tagar #RajoyXenofobo.
- Sabtu pagi: Beberapa LSM anti-diskriminasi di Spanyol mengecam keras dan menuntut permintaan maaf resmi.
- Sabtu siang: Pau Cubarsi merespons dengan video klarifikasi dan dukungan untuk Prancis.
- Sabtu malam: Rajoy melalui juru bicaranya menyebut ucapannya “disalahartikan” dan tidak bermaksud menyinggung, namun belum ada permintaan maaf langsung.
Dampak Komentar Rasis pada Dunia Sepak Bola
Insiden ini kembali membuka luka lama tentang maraknya ujaran kebencian dan rasisme di sepak bola Eropa. Berdasarkan data UEFA Report 2025, kasus pelecehan rasis di stadion dan media sosial meningkat 22% dibanding tahun sebelumnya. Komentar seperti yang dilontarkan Rajoy dikhawatirkan dapat memicu eskalasi sentimen serupa di kalangan suporter.
Sosiolog olahraga dari Universitas Barcelona, Dr. Marta Colomer, mengatakan, “Ketika figur publik sekelas mantan perdana menteri melontarkan stereotip seperti itu, ada efek domino yang memperkuat prasangka di masyarakat. Respon cepat atlet seperti Cubarsi sangat penting untuk memutus rantai tersebut.”
Pau Cubarsi sendiri berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bersama. Ia menutup pernyataannya dengan kalimat, “Kami bermain di lapangan yang sama, mengejar mimpi yang sama. Jangan biarkan kebencian merusak keindahan olahraga ini.”
Pihak LaLiga dan federasi sepak bola Eropa dijadwalkan akan menggelar pertemuan darurat pekan depan guna membahas langkah konkret melindungi pemain dari serangan rasis, termasuk kemungkinan sanksi lebih berat bagi pelaku di luar lingkup stadion.
Comments (0)