Pasar Ini Mati Pelan-pelan, Pedagang Hanya Bertahan dari Pelanggan Lama
Kondisi Pasar Padurenan Baru di Kota Bekasi semakin hari semakin menyedihkan. Pusat perbelanjaan yang dulu menjadi denyut ekonomi warga setempat itu kini tak ubahnya kawasan mati yang perlahan diting
Kondisi Pasar Padurenan Baru di Kota Bekasi semakin hari semakin menyedihkan. Pusat perbelanjaan yang dulu menjadi denyut ekonomi warga setempat itu kini tak ubahnya kawasan mati yang perlahan ditinggalkan. Berdasarkan pantauan media kami di lokasi, Senin (15/6/2026), banyak kios yang tutup permanen, lorong-lorong pasar lengang, dan sebagian sudut justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar. Bau tak sedap dan pemandangan kumuh menjadi pemandangan sehari-hari yang sulit dihindari para pedagang yang masih bertahan.
Kenangan Masa Kejayaan Pasar
Pasar Padurenan Baru berdiri sejak tahun 2005 silam. Saat itu, pasar ini menjadi primadona belanja masyarakat sekitar. Hampir seluruh kios terisi penuh, mulai dari pedagang sayur mayur, daging segar, ikan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Dani (47), salah seorang pedagang peralatan dapur yang masih bertahan, mengenang masa lalu pasar tersebut dengan nada getir. Ia sudah berjualan sejak pasar pertama kali dibuka.
“Kalau ingat dulu, hati ini rasanya sedih. Saya masih kuat karena pelanggan lama,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan kami.
“Dulu ramai, sisi sana yang sekarang kosong dan jadi tempat sampah itu dulunya tempat sayur, daging, gitu-gitu lah. Pasar basah kita bilangnya. Tapi sekarang? Lihat sendiri. Sebagian besar sudah tutup, banyak yang tidak sanggup bayar sewa. Yang dagang sayur dan daging pada pindah ke tempat lain,” kenang Dani.
Kini, area yang dulu semarak dengan aktivitas jual beli bahan segar itu hanya menyisakan bangunan kosong berdebu. Di beberapa titik, sampah rumah tangga menumpuk begitu saja karena tidak ada pengelolaan yang memadai. Bahkan, beberapa bagian atap pasar sudah bocor dan lapuk, menambah kesan bahwa pasar ini benar-benar ditinggalkan oleh semangat perbaikan.
Bertahan dari Pelanggan Setia
Meski demikian, Dani dan beberapa pedagang lain memilih untuk terus berjualan. Bukan karena omzet besar, melainkan karena masih ada pelanggan lama yang setia datang. Pembeli yang sudah mengenalnya sejak belasan tahun lalu sesekali kembali untuk membeli peralatan rumah tangga yang ia jajakan. Jumlahnya memang tidak sebanding dengan biaya operasional, tetapi cukup untuk sekadar menyambung hidup.
“Sekarang penghasilan jauh menurun. Sehari kadang cuma satu-dua pembeli. Tapi itulah, kita sudah terlanjur cinta sama tempat ini. Lagi pula, kemana lagi mau pindah? Modal tidak ada,” tambah pedagang lain yang enggan disebutkan namanya.
Beberapa pedagang menyebut, menurunnya aktivitas di Pasar Padurenan Baru disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah menjamurnya pasar modern dan minimarket di sekitar kawasan, ditambah buruknya akses dan fasilitas pasar yang tidak pernah diperbaiki oleh pihak pengelola. Akibatnya, pembeli lebih memilih tempat yang lebih nyaman dan lengkap.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda revitalisasi dari pemerintah setempat. Pedagang yang tersisa hanya bisa pasrah, berharap keajaiban datang—atau setidaknya, pelanggan lama mereka tidak ikut meninggalkan pasar yang semakin sekarat ini.
Comments (0)