Pameran 'The Way Back': Mandy CJ dan Perjalanan Menuju Toleransi

Di sudut hening sebuah ruang pamer di Jakarta, bias cahaya jatuh tepat di atas kanvas yang menggambarkan siluet manusia tengah bersimpuh. Tangannya terangkat, bukan untuk memohon, melainkan seakan mer...

Jul 14, 2026 - 15:40
0 0

Di sudut hening sebuah ruang pamer di Jakarta, bias cahaya jatuh tepat di atas kanvas yang menggambarkan siluet manusia tengah bersimpuh. Tangannya terangkat, bukan untuk memohon, melainkan seakan merangkul cahaya itu sendiri. Suasana sakral langsung terasa, seolah setiap pengunjung diajak masuk ke dalam ruang kontemplasi yang sangat pribadi. Inilah pembuka dari pameran tunggal perdana Mandy CJ, The Way Back, yang tidak sekadar memajang 16 karya, tetapi juga menghamparkan potongan-potongan perjalanan batin sang seniman dalam mencari makna spiritualitas dan toleransi.

Geliat Awal Sebuah Panggilan

Mandy CJ bukan nama yang tiba-tiba muncul di langit seni rupa. Ia adalah peramu rasa yang telah lama menyelami hubungan manusia dengan Tuhannya—dan dengan sesama yang berbeda keyakinan. Bagi Mandy, melukis adalah jalan pulang. "Saya tumbuh di lingkungan yang penuh warna agama, tapi juga penuh sekat," kisahnya suatu sore, mengingat masa kecil yang menjadi fondasi pencariannya. Perjalanan menemukan “jalan kembali” itu kini tumpah dalam goresan-goresan yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menyimpan getaran doa yang dalam.

Dialog Rupa yang Menembus Batas

Enam belas karya yang dipamerkan bukanlah lukisan biasa; mereka adalah undangan untuk berdialog tanpa suara. Dalam salah satu kanvas berjudul “Sujud di Atas Pelangi”, Mandy melukiskan sembilan figur dengan pakaian sembilan tradisi agama yang berbeda, semua tengah menunduk di atas hamparan warna-warni yang menyatu. “Saya ingin menunjukkan bahwa dalam kerendahan hati, kita semua bertemu pada garis yang sama,” ujarnya, matanya berkaca-kaca. Karya lainnya, “Simfoni Seribu Doa”, menampilkan abstraksi cahaya yang bertabrakan namun selaras, seakan merangkai bunyi-bunyi doa dari berbagai lidah menjadi satu harmoni. Setiap sapuan kuas terasa personal, seolah Mandy ikut bernapas dalam setiap detail yang ia ciptakan.

Spiritualitas yang Merayakan Perbedaan

Hal yang paling mencolok dari pameran ini adalah bagaimana Mandy memperlakukan tema agama bukan sebagai doktrin, melainkan sebagai pengalaman manusiawi yang hangat. Ia tidak menggurui. Lewat “Ruang Rindu”, instalasi campuran kanvas dan benang emas yang membentuk rumah-rumah ibadah secara samar, ia mengajak kita merasakan kerinduan universal akan tempat berpulang yang damai. “Toleransi sejati bukan sekadar membiarkan yang lain ada, tapi ikut merasakan kerinduan mereka,” bisik Mandy di hadapan karyanya. Perkataannya sederhana, namun menghujam. Di sinilah letak kekuatan The Way Back: ia tidak berteriak tentang perbedaan, melainkan membisikkan persamaan rasa yang paling dasar—rindu akan kedamaian dan tempat untuk berserah.

Air Mata di Ujung Jalan

Menjelang senja, seorang pengunjung perempuan paruh baya berdiri lama di depan lukisan berjudul “Pulang”. Kanvas itu menampilkan punggung seorang perempuan yang berjalan menuju pintu bercahaya, dengan latar belakang dinding-dinding tua yang retak. Tanpa mampu menahan, air mata perempuan itu jatuh. Ia kemudian berbisik, “Ini seperti kisah saya. Bertahun-tahun mempertanyakan iman, dan hari ini saya merasa tidak sendiri.” Momen-momen seperti inilah yang, di balik layar, selalu membuat Mandy gemetar. “Setiap air mata yang jatuh di depan karya saya adalah isyarat bahwa kita semua berjuang dalam sunyi yang sama. Dan di titik itu, tidak ada lagi Katolik, Islam, Buddha, Hindu. Yang ada hanyalah manusia yang ingin kembali ke sumber cinta,” ucapnya, suaranya bergetar menahan haru.

Pameran The Way Back memang sebuah perjalanan. Bukan hanya perjalanan Mandy CJ dari keraguan menuju keyakinan yang lebih lapang, tetapi juga perjalanan setiap hati yang singgah untuk menatap, merenung, dan akhirnya menemukan bahwa jalan pulang selalu terbuka. Di tengah dunia yang kerap bising oleh klaim kebenaran tunggal, goresan-goresan Mandy justru menjadi ruang hening yang memeluk tanpa syarat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User