Saat MPLS Tiba, Farhan Jamin Semua Anak Dapat Bangku Sekolah
Cahaya mentari pagi menyapa gerbang sebuah sekolah dasar di kawasan padat penduduk. Di antara deretan sepeda motor yang terparkir, tampak seorang ayah menggenggam erat tangan putrinya yang mengenakan ...
Cahaya mentari pagi menyapa gerbang sebuah sekolah dasar di kawasan padat penduduk. Di antara deretan sepeda motor yang terparkir, tampak seorang ayah menggenggam erat tangan putrinya yang mengenakan seragam baru berwarna putih-merah. Wajah anak itu setengah tegang, setengah berbinar. Hari itu adalah momen pertama ia melangkah ke ruang kelas, bersamaan dengan dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kota Bandung. Senyum ayahnya lebih lebar, bukan hanya karena sang putri akhirnya bersekolah, melainkan karena sebuah kekhawatiran yang sempat mencekam kini sirna: anaknya mendapatkan kursi.
Adegan serupa boleh jadi terulang di ratusan titik sekolah lain di ibu kota Jawa Barat itu. Ribuan orang tua kemarin menarik napas lega setelah Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memberikan jaminan penuh bahwa tak ada satu pun peserta didik baru yang tertinggal. Semua anak, dari penjuru kota hingga pinggiran, telah mengantongi kepastian akses pendidikan—entah di sekolah negeri yang selama ini diburu, maupun di sekolah swasta yang siap menjadi mitra.
Sebuah Ikrar di Awal Tahun Ajaran
Di balik hingar-bingar MPLS yang selalu diwarnai tawa dan perkenalan kakak kelas, terselip janji kota yang tak ringan. Farhan, yang memantau langsung proses penerimaan peserta didik baru, menyampaikan bahwa setiap anak telah menemukan atap sekolahnya masing-masing. Ungkapannya sendiri sederhana, namun diam-diam menyembuhkan banyak hati. “Kami tidak ingin ada cerita sedih di pagi pertama sekolah. Semua anak Bandung berhak belajar dengan tenang,” ucapnya dalam sebuah kesempatan, nadanya datar tapi penuh makna.
Kepastian ini bukanlah sekadar angka statistik. Jauh dari lemari arsip dinas, ia adalah napas lega seorang ibu yang semalaman gelisah, atau seorang kakek yang rela berjalan kaki demi mendaftarkan cucunya. MPLS yang semula dijadwalkan sebagai agenda tahunan, kali ini berubah menjadi panggung pembuktian bahwa Bandung benar-benar hadir untuk warganya.
Menepis Kekhawatiran Orang Tua
Di gang sempit kawasan Kiaracondong, Siti (38) masih ingat betapa gusarnya ia seminggu lalu. Anak keduanya, Ardi, masuk dalam daftar tunggu di tiga sekolah negeri. “Saya sudah pasrah kalau harus mencari sekolah yang lebih jauh, padahal biaya antar-jemput bisa menguras dompet,” tuturnya. Namun, satu telepon dari sekolah swasta terdekat mengubah segalanya. Ardi diterima dengan keringanan biaya berkat program kemitraan yang digerakkan pemkot. “Rasanya seperti dapat mimpi. Anak saya bisa sekolah lima menit dari rumah,” kata Siti, suaranya bergetar.
Kisah seperti Siti bukan berdiri sendiri. Farhan menekankan bahwa sinergi antara pemerintah dan lembaga swasta menjadi kunci. Sekolah swasta yang selama ini dipandang sebelah mata, justru kini menjadi jaring pengaman bagi ribuan anak yang nyaris putus asa. “Kami tidak bisa memaksakan semua masuk negeri, tapi kami pastikan semua dapat bangku. Itu komitmen kami,” tegasnya.
Ruang Kelas yang Dulu Semu
Bagi banyak anak, bersekolah adalah perjalanan paling personal. Termasuk bagi Raka (7), yang dua tahun terakhir hanya bisa memandang teman sebayanya lewat jendela rumah karena keterbatasan biaya. Hari pertama MPLS kemarin, ia duduk di bangku depan sebuah SD swasta di kawasan Lengkong. Tas punggung bututnya yang lusuh kontras dengan semangat di matanya. Ia menyebut gurunya baik, dan ketahuan sudah bisa mengeja tiga suku kata—sebuah pencapaian kecil yang membuat orang tuanya menitikkan air mata.
Kepastian kursi yang dijamin Farhan bukan hanya soal administrasi, melainkan membuka pintu bagi mimpi-mimpi yang tertunda. Setiap kelas yang terisi adalah satu ruang lebih bagi anak untuk bermimpi menjadi guru, dokter, atau pemadam kebakaran—setidaknya untuk hari ini.
MPLS, Lebih dari Sekadar Orientasi
Di balik riuhnya kegiatan menyusuri koridor dan mengenal taman sekolah, MPLS di Bandung tahun ini mengusung semangat inklusivitas. Tak ada lagi caci-maki atau tugas aneh dari senior. Yang ada adalah permainan pengenalan potensi diri, kuis ramah, dan kunjungan ke perpustakaan. “Kami ingin anak-anak merasa diterima sejak detik pertama,” kata seorang kepala sekolah yang enggan disebut namanya. Di luar itu, para guru juga diam-diam memperhatikan: benarkah semua nama di daftar hadir sudah berada di bangku nyata?
Farhan sendiri mengaku turun tangan memantau data daring hingga malam, memastikan tak ada selisih antara jumlah lulusan SD dengan yang mendaftar SMP. Gerak-geriknya ini jarang menjadi berita utama, tetapi dampaknya langsung dirasakan. Ketika seluruh anak terdata, tak ada lagi yang perlu berbohong tentang alamat atau mengantre berdebat.
Matahari siang meninggi di atas Bandung, dan barisan siswa baru mulai berhamburan pulang. Di pelupuk mata Raka, Siti, dan ribuan lainnya, tersimpan rasa percaya bahwa kota mereka besertifikatkan harapan. Hari ini, MPLS bukan hanya tentang pengenalan ruang, melainkan pengakuan bahwa setiap anak, tanpa kecuali, berhak duduk dan belajar.
Baca juga:
Comments (0)