Museum Lalique di Prancis Dibobol Perampok, Perhiasan Senilai Rp82 Miliar Raib
Paris, Beritaseputar.com – Aksi perampokan berani kembali mengguncang Prancis. Kali ini, Museum Lalique, museum yang didedikasikan untuk seni kaca dan perhiasan mewah, menjadi sasaran para pencuri. Sekitar dua puluh buah perhiasan langka raib dibawa kabur, dengan total kerugian ditaksir mencapai 4 juta euro atau setara Rp82,28 miliar.
Peristiwa itu terjadi pada dini hari waktu setempat, sekitar pukul 05.30 pagi di Wingen-sur-Moder, kawasan timur laut Prancis. Berdasarkan informasi yang dihimpun media kami dari sumber investigasi, para pelaku bergerak cepat dan terarah. "Mereka langsung menuju ruang perhiasan," ungkap sumber yang dekat dengan penyelidikan, menggambarkan bahwa aksi tersebut tampaknya telah direncanakan dengan matang.
Alarm Berbunyi, Respons Keamanan Dipertanyakan
Ironisnya, sistem alarm museum sempat aktif saat penyusupan terjadi. Namun, prosedur keamanan yang lambat justru memberi celah bagi para perampok untuk melarikan diri. Petugas keamanan swasta memang merespons alarm, tetapi saat pemeriksaan selesai, justru seorang petugas kebersihan yang pertama kali tiba di lokasi dan menyadari telah terjadi pencurian. Petugas itu kemudian segera menghubungi polisi.
"Sekitar dua puluh buah perhiasan dicuri. Kerugian saat ini sedang dinilai tetapi bisa mencapai beberapa juta euro, kemungkinan mendekati empat juta," lanjut sumber investigasi kepada awak media.
Pihak museum segera mengumumkan penutupan sementara melalui situs web resminya. Dalam pernyataan singkat, mereka menyebutkan museum tidak akan beroperasi selama beberapa hari ke depan untuk keperluan investigasi kepolisian dan inventarisasi kerugian. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari direksi Lalique mengenai apakah koleksi yang dicuri termasuk barang yang diasuransikan atau memiliki nilai historis tak tergantikan.
Lalique, Warisan Seni Art Nouveau dan Art Deco
Museum Lalique bukan sekadar ruang pamer biasa. Tempat ini didirikan pada 2011 di dekat pabrik perusahaan, sebagai penghormatan bagi René Lalique, maestro perancang perhiasan dan pembuat kaca kenamaan dari era Art Nouveau dan Art Deco. Koleksinya mencakup perhiasan, vas, hingga elemen dekoratif yang menjadi incaran kolektor kelas dunia. Sayangnya, statusnya sebagai destinasi wisata budaya di Alsace justru membuatnya rentan terhadap kejahatan terorganisir.
Insiden ini semakin menyoroti lemahnya sistem pengamanan di museum-museum Prancis. Oktober tahun lalu, publik dikejutkan oleh perampokan siang bolong di Museum Louvre, Paris. Saat itu, para pencuri berhasil membawa kabur perhiasan senilai 102 juta dolar AS (sekitar Rp1,56 triliun) dalam sebuah penggerebekan yang berlangsung kurang dari beberapa menit. Aksi tersebut memicu kritik tajam terhadap manajemen keamanan museum dan galeri di seluruh negeri, namun tampaknya belum ada perbaikan signifikan yang dilakukan.
Kepolisian Wingen-sur-Moder kini tengah memeriksa rekaman CCTV dan meminta keterangan sejumlah saksi, termasuk petugas kebersihan yang pertama berada di tempat kejadian. Motif pencurian masih dalam pendalaman, tetapi pola perampokan yang terfokus pada ruang perhiasan mengisyaratkan adanya kebocoran informasi internal atau pengintaian sebelumnya. Masyarakat diimbau untuk melaporkan segala informasi yang mencurigakan, sementara otoritas museum didesak untuk meningkatkan pengamanan demi mencegah tragedi serupa terulang di masa depan.
Comments (0)