Misbakhun soal Kondisi IHSG: Sejarah Penurunan yang Sangat Dalam
Jakarta - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti kondisi pasar modal Indonesia yang tengah berada dalam tekanan berat. Berdasarkan pantauan media kami, Misbakhun menilai pelemahan Inde
Jakarta - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti kondisi pasar modal Indonesia yang tengah berada dalam tekanan berat. Berdasarkan pantauan media kami, Misbakhun menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kali ini merupakan koreksi yang paling mengkhawatirkan dalam perjalanan sejarah bursa saham Tanah Air.
Pernyataan tersebut ia sampaikan merespons posisi IHSG yang kini terpantau berada di level 5.600an. Dalam laporan yang diterima media kami, Misbakhun mengingatkan publik bahwa pada awal tahun 2026, indeks saham Garuda sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High/ATH).
IHSG ini adalah sejarah penurunan yang sangat dalam. Pada awal 2026 saja, indeks kita masih berada di level 9.000an, dan itu merupakan puncak tertinggi sepanjang sejarah pasar modal kita,
Dari Puncak Kejayaan ke Jurang Tekanan
Merujuk data terkini dari lantai bursa, pada penutupan perdagangan sore tadi, IHSG secara resmi ditutup melemah di posisi 5.654,19. Level ini menandai sebuah kontraksi yang signifikan dalam waktu yang relatif singkat. Misbakhun menyebut, jika dihitung secara matematis, maka selisih penurunan antara posisi penutupan terkini dengan titik tertinggi IHSG di awal tahun mencapai kisaran 40 persen.
Angka penurunan sedalam itu, dalam perspektif Misbakhun, bukan sekadar fluktuasi biasa. Ia mengkategorikan fenomena ini sebagai tekanan struktural yang jarang terjadi di bursa efek Indonesia. Menurutnya, volatilitas ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas fundamental ekonomi dan kepercayaan investor terhadap instrumen saham di Tanah Air.
Kekhawatiran di Komisi XI
Sebagai mitra pemerintah di bidang keuangan dan perbankan, kami di Komisi XI DPR tentu tidak bisa tinggal diam. Penurunan sebesar ini dari level tertinggi sepanjang sejarah tentu memiliki implikasi serius terhadap likuiditas dan pendanaan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia,
Meskipun tidak merinci penyebab pasti dari kejatuhan tersebut, Misbakhun mengindikasikan bahwa pelemahan IHSG kali ini merupakan yang terburuk yang pernah tercatat. Ia mendesak semua pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah-langkah strategis guna meredam tekanan jual dan mengembalikan gairah pasar.
Dengan posisi IHSG yang kini bertengger jauh di bawah level psikologis 6.000, pantauan media kami menunjukkan bahwa pelaku pasar kini menanti respons konkret dari otoritas moneter dan fiskal, terutama dalam menghadapi guncangan yang menyentuh level penurunan hampir separuh dari nilai aset kolektif saham nasional.
Comments (0)