Mimpi Cuan Piala Dunia Seattle Sirna, Usaha Kecil Merugi
Lampu-lampu hias masih berkelap-kelip di sepanjang Seattle Waterfront. Ratusan suporter dengan jersey merah-putih-biru berhamburan keluar dari Lumen Field,
Lampu-lampu hias masih berkelap-kelip di sepanjang Seattle Waterfront. Ratusan suporter dengan jersey merah-putih-biru berhamburan keluar dari Lumen Field, menyanyikan yel-yel kemenangan setelah tim nasional Amerika Serikat menaklukkan Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Di kejauhan, klakson kapal feri turut meramaikan malam yang seharusnya menjadi puncak keberuntungan bagi kota berjuluk Emerald City ini. Namun, di balik gegap gempita itu, secarik kenyataan pahit justru menggantung di wajah-wajah para pemilik usaha kecil yang menaruh harapan terlalu tinggi pada pesta sepak bola empat tahunan ini.
Selama hampir sebulan, Seattle memang berubah. Stasiun Link Light Rail mencatat rekor 1,2 juta penumpang harian, trotoar pusat kota tak pernah sepi, dan layar raksasa di Seattle Center dipadati ribuan pasang mata setiap laga berlangsung. Bar-bar di kawasan Pioneer Square mengaku omzet naik hingga tiga kali lipat di malam pertandingan AS. Namun cerita berbeda justru datang dari mereka yang berada satu-dua blok di luar zona pesta.
Harapan yang Tak Merata
Di sudut Occidental Avenue, sebuah toko suvenir kecil bernama Emerald Kicks berdiri lengang. Rak-rak kaos bertema sepak bola, syal, dan pin lencana masih tertata rapi—sebagian besar belum tersentuh sejak turnamen dimulai. Maria Gonzalez (52), pemilik toko, sudah meramalkan momen ini. Enam bulan lalu ia mengambil pinjaman kecil untuk menambah stok dagangan, berharap Piala Dunia akan membawa rezeki seperti yang para pejabat kota janjikan dalam rapat-rapat bisnis.
"Mereka bilang kota ini akan kebanjiran turis. Mungkin benar, tapi mereka hanya lewat. Mereka tidak berhenti di toko saya," ujar Maria lirih sambil merapikan tumpukan syal yang harganya sudah ia diskon dua kali. "Saya sudah menjual lebih banyak saat konser Taylor Swift tahun lalu dibandingkan sebulan Piala Dunia ini."
Kekecewaan serupa menggema di restoran keluarga Dahlia's Kitchen, terletak di kawasan Ballard, sekitar 15 menit dari pusat keramaian. Restoran ini mengandalkan pelanggan lokal yang justru memilih menghindari kemacetan selama turnamen. "Pengunjung reguler kami menghilang," kata Dahlia Nguyen, chef sekaligus pemilik, mengenang hari-hari sepi di bulan Juni. "Mereka pikir kota ini terlalu ramai, jadi mereka tinggal di rumah atau pergi keluar kota."
Data dari Seattle Office of Economic Development memang menunjukkan kenaikan belanja pengunjung sebesar 18% di zona inti seperti Pioneer Square dan Belltown. Namun angka itu melorot tajam menjadi di bawah 4% di kawasan usaha di luar radius satu kilometer dari Lumen Field dan stasiun transportasi utama. Boom ekonomi yang digembar-gemborkan ternyata bersifat hiperlokal dan tidak merembes.
Antara Festival dan Fatamorgana
Seattle pantas berbangga menjadi tuan rumah enam pertandingan, termasuk laga dramatis AS vs Belgia yang akan dikenang sejarah. FIFA Fan Festival di Seattle Center berhasil menarik lebih dari 300.000 pengunjung selama turnamen. Hotel-hotel besar di pusat kota mencatat okupansi di atas 90%. Namun bagi banyak pemilik usaha kecil, festival itu bagai panggung megah yang mereka tidak diizinkan naik ke atasnya.
"Kami seperti menonton pesta dari balik kaca," tutur Kenji Tanaka, pemilik kedai kopi di kawasan International District. "Saya senang kota ini bersinar, tapi saya harus menjelaskan ke anak saya kenapa kita tidak bisa liburan musim panas ini karena tabungan habis buat stok yang tidak laku."
Seattle kini menutup babaknya sebagai tuan rumah. Sorak-sorai di Lumen Field perlahan memudar, digantikan kenyataan bahwa tidak semua mimpi berubah jadi cuan. Kota ini berhasil menggelar pertunjukan kelas dunia. Tapi ketika tirai jatuh, sebagian pelaku usahanya justru berdiri termangu, menggenggam tiket lotre ekonomi yang tak kunjung memberi angka keberuntungan.
Comments (0)