Sensasi Interaktif di Balik Cermin Badri Gallery

Langkah kaki terhenti sejenak di depan sebuah pintu kaca berukir sederhana. Begitu pintu itu terbuka, mata langsung disambut oleh tarian cahaya yang memantul dari puluhan permukaan cermin. Inilah Badr...

Jul 14, 2026 - 17:34
0 0

Langkah kaki terhenti sejenak di depan sebuah pintu kaca berukir sederhana. Begitu pintu itu terbuka, mata langsung disambut oleh tarian cahaya yang memantul dari puluhan permukaan cermin. Inilah Badri Gallery, sebuah ruang kreatif di Banjarmasin yang tak hanya menyajikan karya seni untuk ditatap, tetapi juga untuk dihayati.

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, seorang pengunjung perempuan tampak terpaku. Ia mengamati dirinya sendiri yang terpantul dalam ratusan sudut berbeda, seolah bertemu dengan versi-versi lain dari dirinya. Senyumnya merekah, lalu perlahan matanya berkaca-kaca. “Saya seperti melihat masa lalu dan masa depan sekaligus,” bisiknya lirih.

Ruang Cermin yang Menghipnotis

Jika biasanya galeri identik dengan kesunyian dan jarak antara karya dan penikmatnya, Mirror Art Room di Badri Gallery justru mengundang interaksi. Ruangan ini adalah labirin cermin yang disusun sedemikian rupa hingga menciptakan efek tak terbatas. Setiap langkah menghasilkan refleksi baru, setiap gerakan melahirkan komposisi visual yang tak terduga.

Bukan sekadar tempat berfoto, instalasi ini dirancang oleh sang pemilik galeri sebagai metafora tentang identitas. “Manusia itu berlapis-lapis. Kita tidak pernah benar-benar melihat diri sendiri secara utuh. Cermin-cermin ini mengajak pengunjung untuk berefleksi, secara harfiah dan batin,” ungkap Badri, perupa yang mendirikan galeri ini tiga tahun lalu.

Di langit-langit, lampu-lampu kecil berwarna hangat menggantung, menciptakan suasana yang intim dan sedikit magis. Lantainya dilapisi karpet hitam pekat, sehingga pantulan yang muncul terasa melayang di kegelapan. Beberapa pengunjung bahkan duduk bersila, menghabiskan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk merenung di dalam ruangan ini.

Lebih dari Sekadar Galeri

Namun Badri Gallery bukan hanya tentang cermin. Di ruangan utama, terpajang puluhan lukisan beraliran ekspresionis yang didominasi warna-warna bumi. Ada pula patung-patung dari kayu ulin yang diukir dengan detail halus, menampilkan sosok-sosok perempuan Dayak dengan selendang panjang. Di sudut lain, sebuah puisi ditulis tangan di atas kanvas besar, membentang dari langit-langit hingga menyentuh lantai.

Alunan musik dari alat petik tradisional mengalun lembut dari pengeras suara. Badri sengaja merekam permainan sape’ dan kecapi dari sahabat-sahabat musisinya untuk mengisi ruang dengan vibes Kalimantan yang kental. “Saya ingin setiap indra pengunjung disentuh. Mata, telinga, hati, semuanya harus terlibat,” katanya sambil menunjuk ke arah mural besar di dinding barat yang menggambarkan Sungai Martapura di kala senja.

Sebuah instalasi mural interaktif juga tersedia, di mana pengunjung bisa menambahkan goresan cat mereka sendiri. Tersedia kuas dan cat akrilik di dekatnya. Seorang bapak bersama anak lelakinya terlihat asyik menambahkan bintang-bintang kecil di atas lukisan kampung terapung. “Ini pertama kalinya anak saya berani melukis di tempat umum. Biasanya dia pemalu,” cerita sang bapak dengan mata berbinar.

Perjalanan dan Air Mata

Badri mengisahkan bahwa ide Mirror Art Room lahir dari masa-masa sulit dalam hidupnya. Ketika pandemi melanda, ia kehilangan pekerjaan tetapnya sebagai desainer grafis. Merasa terpuruk, ia justru kembali ke kanvas dan kayu. “Saya sering berdiri di depan cermin, bertanya-tanya, siapa sebenarnya saya tanpa pekerjaan, tanpa gelar? Lalu saya sadar, saya adalah semua pantulan itu sekaligus,” kenangnya.

Dari permenungan itu, ia mulai mengumpulkan cermin-cermin bekas dari berbagai tempat. Ada yang dari hotel tua, dari rumah ibadah yang direnovasi, bahkan dari kaca rias milik almarhumah ibunya. Setiap cermin, baginya, menyimpan cerita dan energi tersendiri. Kini, semua itu menjadi bagian dari instalasi yang menyentuh hati banyak orang.

Seorang mahasiswi seni rupa yang berkunjung mengaku menangis setelah keluar dari ruang cermin. “Saya merasa diterima. Semua bayangan itu seakan berkata, ‘Kamu baik-baik saja, kamu cukup.’ Padahal saya sedang berjuang melawan rasa tidak percaya diri,” tuturnya sambil mengusap sudut mata.

Di penghujung kunjungan, setiap pengunjung diajak menuliskan refleksi mereka di secarik kertas yang kemudian digantung di pohon harapan di halaman belakang galeri. Ribuan kertas berwarna-warni bergoyang tertiup angin, membawa doa-doa sederhana dari hati yang sempat berhenti sejenak di Badri Gallery. “Ruang ini bukan milik saya pribadi. Ini milik siapa saja yang mau melihat dirinya lebih dalam,” ucap Badri menutup perbincangan.

Karya seni, pada akhirnya, memang bukan soal teknik atau harga. Ia adalah jembatan antara apa yang tampak dan apa yang dirasa. Di Badri Gallery, jembatan itu dibangun dengan cermin, dengan tawa, dan dengan air mata yang tumpah tanpa harus disembunyikan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User