Menkes Budi: Deteksi Kusta Dini dan Waspada Ancaman Ebola

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap dua penyakit menular yang memiliki karakteristik sangat berbeda, n

Jul 12, 2026 - 07:58
0 0
Menkes Budi: Deteksi Kusta Dini dan Waspada Ancaman Ebola

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap dua penyakit menular yang memiliki karakteristik sangat berbeda, namun sama-sama berpotensi membebani sistem kesehatan nasional: kusta dan ebola. Dalam dua kesempatan terpisah yang dipantau Liputan6.com, Menkes menyampaikan pesan kuat tentang deteksi dini kusta guna mencegah kehilangan fungsi tubuh permanen, sekaligus mengingatkan kesiapan Indonesia menghadapi potensi masuknya virus ebola yang mematikan. Pernyataannya ini menjadi pengingat bahwa Indonesia, sebagai negara dengan mobilitas tinggi, harus terus memperkuat benteng pertahanan kesehatan masyarakat.

Jangan Abaikan Bercak Mati Rasa, Bisa Jadi Kusta

Dalam satu kunjungan ke fasilitas pelayanan primer, Menkes Budi menyoroti masih tingginya stigma dan keterlambatan penanganan kusta di Indonesia. Ia menjelaskan, kusta atau lepra sejatinya bisa disembuhkan sepenuhnya jika terdeteksi sejak dini, bahkan sebelum timbul kerusakan saraf yang menyebabkan disabilitas permanen. Sekitar 82% kasus kusta di Indonesia terdeteksi setelah terjadi gangguan sensorik, angka yang menurut Menkes terlalu tinggi dan harus ditekan.

“Kusta itu penyakit yang bisa kita akhiri. Masalahnya, orang datang berobat sudah dengan jari kiting, kaki tidak rasa, atau tangan lumpuh. Padahal, kalau tahu cirinya sejak awal, cukup minum obat rutin 6-12 bulan dan sembuh tanpa cacat,” ujar Budi di sela kegiatan bertajuk ‘Obati Kusta Sebelum Berujung Disabilitas’, merujuk data Kemenkes 2025 yang mencatat lebih dari 17.000 kasus baru.

“Ciri awal kusta adalah bercak putih atau kemerahan di kulit yang mati rasa. Tidak sakit, tidak gatal. Jadi sering diabaikan karena tidak mengganggu. Justru di situlah bahayanya. Begitu ada bercak dan hilang rasa, segera periksa ke puskesmas.”

Poin krusial yang digarisbawahi Menkes adalah bahwa pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) tersedia gratis di seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama. Setelah 72 jam minum dosis pertama, pasien sudah tidak menularkan. Ini menjawab kekhawatiran masyarakat soal isolasi panjang. Dengan deteksi dini, penularan bisa diputus, disabilitas dicegah, dan stigma di masyarakat perlahan terkikis.

Ebola: Ancaman Global yang Harus Diantisipasi

Pada konteks yang berbeda, Menkes Budi juga mengomentari perkembangan wabah ebola di beberapa negara Afrika yang sempat memantik kewaspadaan global pada pertengahan 2026. Meski Indonesia hingga kini tidak memiliki kasus ebola sama sekali, ia menekankan bahwa letak geografis dan lalu lintas internasional menuntut sistem kewaspadaan dini yang ketat. “Ebola bukan penyakit yang kita hadapi sehari-hari, tapi kita belajar dari COVID-19 dan sejarah wabah lainnya bahwa kita tidak boleh lengah,” jelasnya di Jakarta, 2 Juni 2026.

Langkah konkret yang sudah berjalan antara lain pengaktifan kembali protokol skrining di bandara utama bagi pelaku perjalanan dari kawasan endemis, penyiapan laboratorium rujukan dengan kemampuan deteksi filovirus, serta pelatihan penanganan kasus berbahaya menular tinggi bagi tenaga kesehatan. Kemenkes juga telah menempatkan rapid response team di tujuh pintu masuk negara dengan risiko tinggi, menyusul deklarasi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) oleh WHO pada awal 2026 terkait penyakit virus ebola.

“Kita sudah punya standar operasional penanganan penyakit infeksius berat. Kapasitas laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) kita juga sudah terlatih untuk mendeteksi patogen aneh. Tapi kuncinya tetap deteksi dan pelaporan cepat dari fasyankes tingkat bawah.”

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa ancaman ebola tidak bisa dianggap enteng, meski letak geografis Indonesia jauh dari zona outbreak. Mobilitas global yang kembali pulih pasca pandemi membuat probabilitas masuknya kasus impor selalu ada. Oleh karena itu, pemerintah mendorong semua rumah sakit rujukan wajib memiliki ruang isolasi tekanan negatif dan logistik alat pelindung diri yang memadai.

Memperkuat Arsitektur Kesehatan Nasional

Mengomparasikan dua penyakit dengan profil epidemiologis berbeda — kusta sebagai penyakit endemis kronis dan ebola sebagai ancaman pandemi akut — memperlihatkan urgensi pembangunan sistem kesehatan yang lincah. Dalam berbagai kesempatan, Menkes Budi selalu menekankan penguatan tiga level: deteksi dini melalui edukasi dan penguatan peran kader, respon cepat lewat laboratorium dan sistem pelaporan berbasis digital, serta ketersediaan obat dan vaksin yang menjangkau hingga pelosok negeri.

Untuk kusta, strateginya berbasis eliminasi komunitas dengan pelacakan kontak serumah dan terapi pencegahan bagi kontak erat. Sedangkan untuk ancaman seperti ebola, pendekatannya adalah containment dan surveillance ketat di pintu masuk. Keduanya mensyaratkan keterlibatan aktif seluruh lapisan: pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan partisipasi warga. Seperti diungkapkan Budi menutup keterangannya, “Penyakit tidak mengenal batas administrasi. Maka respons kita harus menyatu dan tidak menunggu badai datang.”

[SOCIAL_TWEET]: Cegah disabilitas akibat kusta dengan deteksi dini! Menkes Budi ingatkan pentingnya kenali bercak mati rasa. Waspada juga potensi ebola, meski belum masuk RI. #KustaBisaDisembuhkan #EbolaAlert #KesehatanRI[SOCIAL_TG]: 🩺 Menkes Budi ingatkan kusta bisa sebabkan disabilitas jika terlambat diobati. Ketahui ciri bercak mati rasa dan langkah antisipasi ebola di Indonesia. Klik untuk info lengkap!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User