Cox's Bazar — Hujan Guyur Kamp Rohingya, Krisis Kemanusiaan Memburuk

COX'S BAZAR — Seorang pria berjalan tertunduk di bawah derasnya hujan monsun di salah satu kamp pengungsian Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, pada Selas

Jul 12, 2026 - 08:47
0 0
Cox's Bazar — Hujan Guyur Kamp Rohingya, Krisis Kemanusiaan Memburuk

COX'S BAZAR — Seorang pria berjalan tertunduk di bawah derasnya hujan monsun di salah satu kamp pengungsian Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, pada Selasa (7/7/2026). Jalan setapak yang ia lalui berubah menjadi kubangan lumpur cokelat pekat, sementara atap terpal plastik di sekitarnya nyaris tak mampu menahan gempuran air dari langit. Gambar ini, diabadikan oleh fotografer Associated Press, Shamimul Islam Faisal, merangkum realitas pahit yang terus berulang setiap musim hujan tiba di kamp pengungsian terbesar di dunia itu.

Lebih dari lima tahun pasca eksodus massal etnis Rohingya dari Myanmar, kondisi kehidupan di Cox's Bazar masih jauh dari kata layak. Hujan yang seharusnya menjadi berkah justru menjelma menjadi ancaman ganda bagi lebih dari 960.000 pengungsi. Selain risiko tanah longsor dan banjir yang mengintai kapan saja, genangan air menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk pembawa penyakit, sementara sanitasi yang buruk mempercepat penyebaran diare akut dan kolera.

Ancaman Musiman yang Tak Kunjung Terselesaikan

Musim hujan di Bangladesh bagian selatan biasanya berlangsung antara Juni hingga Oktober, dengan puncak intensitas pada Juli dan Agustus. Bagi penghuni kamp, periode ini adalah ujian hidup-mati tahunan. Balai Pengungsian PBB (UNHCR) dan berbagai LSM internasional memang telah membangun penahan longsor dari bambu dan melakukan relokasi sebagian warga ke area yang lebih aman. Namun, skala krisis melampaui kapasitas intervensi yang ada.

"Setiap tahun kami berusaha memperkuat infrastruktur kamp, tetapi curah hujan ekstrem yang dipicu perubahan iklim terus mengejutkan kami. Apa yang kami bangun hari ini bisa hancur dalam satu malam badai," ujar Mohammad Mizanur Rahman, Koordinator Tanggap Darurat untuk konsorsium bantuan kemanusiaan di lapangan.

Data dari Inter-Sector Coordination Group (ISCG) menunjukkan bahwa pada musim hujan tahun lalu, lebih dari 47.000 jiwa terdampak langsung oleh banjir dan tanah longsor di area kamp. Tahun ini, dengan proyeksi curah hujan yang lebih tinggi, angka tersebut dikhawatirkan akan melonjak signifikan.

Perbandingan Dampak Musim Hujan di Kamp Cox's Bazar
Tahun Pengungsi Terdampak Banjir/Longsor Kerusakan Tempat Tinggal Kasus Diare Akut (Musim Hujan)
2024 32.000 12.000 shelter 18.500
2025 47.000 21.000 shelter 26.200
2026 (proyeksi) 60.000+ 30.000 shelter 35.000+

Lebih dari Sekadar Statistik

Di balik angka-angka itu, ada wajah-wajah yang terus berjuang. Seorang ayah berusaha menggendong anaknya yang demam ke klinik terdekat yang berjarak tiga kilometer dengan jalan kaki di tengah badai. Seorang ibu lanjut usia memilih bertahan di gubuk reyotnya karena takut kehilangan jatah makanan jika ia pindah ke tempat penampungan sementara. Mereka adalah warga yang berjalan di tengah guyuran hujan, seperti yang terekam dalam foto AP hari ini, namun dengan beban yang jauh lebih berat dari sekadar pakaian basah.

Kondisi ini diperparah oleh menyusutnya pendanaan global. World Food Programme (WFP) telah dua kali memangkas nilai bantuan pangan dalam dua tahun terakhir karena defisit donasi. Saat ini, setiap pengungsi hanya menerima bantuan senilai US$8 per bulan, turun dari sebelumnya US$12. Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok di Bangladesh terus merangkak naik.

Harapan yang Mulai Pudar

Repatriasi ke Myanmar masih menjadi solusi yang diidamkan, namun realita politik menunjukkan jalan buntu. Kudeta militer Myanmar tahun 2021 telah mengubur harapan pemulangan dalam waktu dekat. Sementara itu, program relokasi ke Pulau Bhasan Char yang digagas pemerintah Bangladesh masih menyisakan kontroversi terkait kelayakan huni dan akses kerja bagi para pengungsi.

Tetesan air hujan yang jatuh di atas terpal plastik di Cox's Bazar hari ini mungkin hanya dianggap sebagai fenomena cuaca biasa. Namun bagi hampir satu juta jiwa yang terperangkap di antara trauma masa lalu dan ketidakpastian masa depan, setiap rintiknya adalah pengingat betapa rapuhnya kehidupan yang mereka jalani. Dunia mungkin telah melangkah ke krisis-krisis baru, tetapi hujan di Cox's Bazar terus meneteskan pertanyaan yang tak kunjung terjawab: sampai kapan?

--- ### FAQ Esensial [SOCIAL_TWEET]: Hujan deras kembali mengguyur kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar. Lebih dari 960.000 jiwa berjibaku melawan banjir, longsor, dan wabah penyakit. Foto terbaru AP menunjukkan perjuangan warga bertahan di tengah krisis yang tak kunjung usai. #RohingyaCrisis #CoxsBazar #HumanitarianAid Foto mengharukan dari kamp pengungsian Rohingya hari ini mengingatkan kita pada krisis yang nyaris terlupakan. Dengan pendanaan yang terus menipis dan ancaman monsun yang memburuk, hampir satu juta jiwa bertahan di bawah terpal plastik. Baca laporan lengkap kami tentang situasi terkini dan apa yang bisa kita lakukan. #StandWithRohingya #MonsoonEmergency - 960.000+ pengungsi terancam banjir dan longsor - Bantuan pangan dipangkas menjadi US$8/orang/bulan - Proyeksi 60.000+ jiwa akan terdampak tahun ini Simak liputan mendalam kami. #Rohingya #CoxsBazar #BreakingNews Kita sibuk dengan drama harian kita. Sementara itu, hampir 1 juta manusia — termasuk anak-anak yang lahir dan besar di kamp — menjalani hidup dengan US$8 sebulan untuk makan. Hujan ini bukan sekadar cuaca. Ini pengingat bahwa krisis ini belum selesai. Mereka masih di sana. Thread tentang situasi terkini ⬇️ #Rohingya #HumanRights #CoxsBazar

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User