Medan - Kasus penipuan berkedok asmara atau love scam kembali menelan korban dengan nilai fantastis. Seorang ibu rumah
Rekayasa Identitas dengan Bantuan AI Modus operandi pelaku dalam kasus ini terbilang sangat halus dan terencana. Kepada korban, pelaku membangun citra sebagai pria mapan, berwajah rupawan, dan berk
Rekayasa Identitas dengan Bantuan AI
Modus operandi pelaku dalam kasus ini terbilang sangat halus dan terencana. Kepada korban, pelaku membangun citra sebagai pria mapan, berwajah rupawan, dan berkewarganegaraan Singapura. Selama kurang lebih empat bulan, komunikasi intens pun terjalin. Pelaku secara perlahan mendapatkan kepercayaan korban hingga akhirnya dengan leluasa menguras harta korban. Berdasarkan penelusuran media kami, foto-foto yang dikirimkan pelaku kepada korban merupakan hasil manipulasi digital yang dihasilkan oleh program AI, bukan wajah asli pelaku. Fakta bahwa pelaku sebenarnya adalah warga lokal Medan baru terbongkar setelah kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.
Peringatan Satgas PASTI: Siapa pun Bisa Jadi Korban
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) menyoroti tajam fenomena ini. Ketua Satgas PASTI, Rizal Ramadhani, dalam keterangannya kepada media kami menegaskan bahwa ancaman love scam tidak memandang jenis kelamin. "Perlu dipahami, siapapun, baik laki-laki maupun perempuan, bisa menjadi target dan korban dari modus penipuan ini," ujar Rizal.
Menurut data yang dihimpun Satgas PASTI, love scam menjadi salah satu modus penipuan jasa keuangan yang paling banyak memakan korban dalam beberapa waktu terakhir. Para pelaku seringkali menggunakan foto-foto hasil rekayasa AI untuk menampilkan sosok yang sempurna secara fisik, mulai dari pria berwajah tampan hingga wanita berparas jelita, guna memikat calon korbannya.
"Pelaku biasanya menggoda korban dengan 'sosok' berparas menarik, dan kebanyakan hanyalah merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI). Ini menjadi tantangan baru bagi kami di era digital," jelas Rizal Ramadhani.
Media kami juga mencatat, pola komunikasi dalam love scam biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Pelaku dengan sabar membangun ikatan emosional sebelum akhirnya melancarkan aksinya dengan berbagai dalih, mulai dari masalah bisnis, biaya pengobatan, hingga pemberian hadiah yang memerlukan biaya administrasi. Satgas PASTI mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan melakukan verifikasi ganda ketika berkenalan dengan seseorang di ranah digital, terutama jika belum pernah bertemu langsung. Apabila mendapati indikasi penipuan, masyarakat diharapkan segera melapor kepada kontak layanan resmi OJK.
Comments (0)