LONDON — Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menarik kembali pernyataannya yang

Blair, yang memimpin Inggris Raya pada era New Labour dari tahun 1997 hingga 2007, kerap memberikan komentar soal penanganan pandemi Covid-19. Namun, perny

Jul 19, 2026 - 07:28
0 0
LONDON — Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menarik kembali pernyataannya yang

Blair, yang memimpin Inggris Raya pada era New Labour dari tahun 1997 hingga 2007, kerap memberikan komentar soal penanganan pandemi Covid-19. Namun, pernyataan terbarunya pada Rabu (22/12/2021) menjadi sorotan tajam lantaran menggunakan bahasa yang dianggap terlalu keras untuk figur mantan kepala pemerintahan. Kejadian ini menandai dinamika komunikasi politik di tengah upaya percepatan vaksinasi booster yang digencarkan pemerintah Inggris menjelang Natal.

Kronologi Pernyataan Hingga Klarifikasi

Berikut rangkaian kejadian yang terjadi dalam satu hari yang memunculkan reaksi beragam dari publik Inggris:

  1. Pagi Hari: Komentar Keras di Times Radio — Dalam wawancara dengan Times Radio pada Rabu pagi, Blair menyasar kelompok warga yang memenuhi syarat vaksinasi namun menolak untuk disuntik. “Frankly, if you’re not vaccinated at the moment and you’re eligible and you’ve got no health reason for not being vaccinated, you’re not just irresponsible, I mean you’re an idiot,” ujar Blair secara blak-blakan. Ia menambahkan bahwa varian Omicron yang sangat menular akan dengan mudah menginfeksi kelompok tak divaksinasi, sehingga membebani layanan kesehatan nasional (NHS) secara tidak perlu.
  2. Siang Hari: Kontroversi Menggema di Jagat Maya — Cuplikan audio dan laporan dari wawancara tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan platform berita. Beragam reaksi bermunculan, mulai dari yang setuju dengan kekhawatiran Blair soal tekanan rumah sakit hingga mereka yang menganggap pernyataan mantan PM tersebut menghina dan mempolarisasi masyarakat di tengah situasi pandemi yang sudah tegang.
  3. Sore Hari: Penarikan Pernyataan di BBC Radio 4 — Menyadari kehebohan yang ditimbulkan, Blair tampil dalam program PM di BBC Radio 4 pada Rabu sore. Ketika ditanya kembali soal komentarnya di Times Radio, ia mengubah nada. “Possibly I was a little too undiplomatic in my use of language,” kata Blair. Meskipun demikian, ia tidak mencabut secara total substansi argumentasi bahwa menolak vaksin tanpa alasan medis akan memperburuk beban NHS di tengah gelombang Omicron.
  4. Konteks Data: Lonjakan Kasus dan Tekanan RS — Pada hari yang sama dengan pernyataan Blair, Inggris mencatatkan lebih dari 100.000 infeksi Covid-19 dalam sehari. Meskipun program vaksinasi booster berjalan sukses, sekitar 6 juta orang dewasa di Inggris belum menerima satu dosis pun vaksin Covid-19. Angka ini setara dengan kurang lebih 10 persen dari populasi yang memenuhi syarat, namun menyumbang 43 persen dari total admisi rumah sakit akibat Covid-19. Menurut Menteri Kesehatan Sajid Javid, sembilan dari sepuluh pasien yang membutuhkan perawatan intensif akibat Covid-19 adalah individu yang tidak divaksinasi.

Dilema Komunikasi Publik di Tengah Pandemi

Insiden yang menimpa Blair mencerminkan tantangan besar dalam komunikasi kesehatan masyarakat selama pandemi. Di satu sisi, para pembuat kebijakan dan tokoh publik berupaya menyampaikan urgensi vaksinasi untuk mencegah kolapsnya fasilitas kesehatan. Di sisi lain, penggunaan label negatif seperti “idiot” terhadap kelompok masyarakat tertentu berisiko memperlebar kesenjangan kepercayaan dan memicu perlawanan dari komunitas yang memang sudah ragu dengan vaksinasi.

Blair sendiri telah lama menjadi advokat vaksinasi dan sering kali tampil di media untuk mendesak pemerintah agar lebih agresif dalam kampanye booster. Varian Omicron, yang menurut sejumlah bukti awal memiliki virulensi lebih rendah dibandingkan varian Delta, justru dinilainya sebagai ancaman besar karena tingkat transmisinya yang “sangat tinggi.” Dalam pandangannya, volume kasus yang melonjak drastis tetap akan membanjiri rumah sakit meskipun persentase pasien berat lebih kecil.

Pemerintah Inggris di bawah Kepemimpinan Boris Johnson saat itu tengah berjuang menyeimbangkan antara pembatasan sosial dan menjaga ekonomi tetap berjalan. Program vaksinasi, terutama dosis ketiga (booster), dianggap sebagai garis pertahanan utama. Namun, resistensi dari sekitar 10 persen populasi yang belum divaksinasi menjadi lubang dalam strategi imunisasi massal tersebut.

Peristiwa tarik-mundur pernyataan Blair juga mengingatkan pada sensitivitas politik di negara demokrasi. Sebagai mantan perdana menteri yang kini aktif di ranah diplomasi dan konsultan global, Blair seharusnya menyadari bahwa setiap ucapannya akan mendapat perhatian luar biasa. Klarifikasi sore harinya dapat diartikan sebagai upaya meredakan gesekan sosial, meski tetap dalam koridor pesan pro-vaksinasi yang ia usung.

Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, tekanan pada NHS diprediksi akan semakin meningkat. Data yang diungkapkan Blair dan pejabat kesehatan Inggris menunjukkan bahwa kelompok minoritas tak divaksinasi justru menyumbang proporsi mayoritas pasien rawat inap. Fakta ini menjadi bahan bakar bagi argumen para pendukung kebijakan vaksinasi wajib atau setidaknya pembatasan lebih ketat bagi yang belum divaksinasi. Namun, soal bagaimana cara paling efektif untuk menyampaikan pesan tersebut tanpa memicu stigmatisasi, tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah bagi para komunikator kesehatan masyarakat.

Blair tidak sepenuhnya mengubah posisinya; ia hanya mengubah cara menyampaikannya. Pesan intinya tetap sama: vaksinasi adalah kewajiban moral dan praktis bagi setiap warga yang mampu, terutama saat varian Omicron mengancam untuk melumpuhkan infrastruktur kesehatan. Apakah klarifikasinya cukup untuk meredam kritik? Waktu dan reaksi publik pada hari-hari berikutnya akan menjadi penentunya.

[SOCIAL_TWEET]: Tony Blair tarik pernyataan "idiot" untuk yang belum vaksin. Dari Times Radio pagi hingga BBC Radio 4 sore, ini kronologi lengkapnya 👇 #COVID19 #Omicron #TonyBlair [SOCIAL_TG]: 🇬🇧 Tony Blair menarik kembali komentarnya yang menyebut warga Inggris tak divaksinasi sebagai "idiot." Meski minta maaf soal pilihan kata, ia tetap khawatir Omicron akan lumpuhkan NHS. Baca selengkapnya termasuk angka 100.000 kasus harian dan 43% pasien RS dari kelompok tak divaksin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User