Dinda Kanya Dewi dan Getar Peran Nyai Ontosoroh

Di sudut Galeri Indonesia Kaya, di antara gemerlap lampu dan denyut kota yang tak pernah tidur, seorang perempuan duduk dengan gurat tak percaya masih terpeta di wajahnya. Dinda Kanya Dewi, yang selam...

Jul 12, 2026 - 14:24
0 0
Dinda Kanya Dewi dan Getar Peran Nyai Ontosoroh

Di sudut Galeri Indonesia Kaya, di antara gemerlap lampu dan denyut kota yang tak pernah tidur, seorang perempuan duduk dengan gurat tak percaya masih terpeta di wajahnya. Dinda Kanya Dewi, yang selama ini akrab di layar kaca sebagai bagian dari kisah ‘Cinta Fitri’, tengah berhadapan dengan sebuah jalan hidup yang tak pernah ia bayangkan. Rabu siang itu, di penghujung tahun 2015, takdir menyapanya lewat suara lembut Happy Salma: memerankan Nyai Ontosoroh. Bukan sekadar peran, melainkan sebuah warisan.

Dinda tidak menyangka bahwa dari sekian banyak aktris, namanya yang dipilih. "Saya benar-benar kaget waktu pertama kali ditawari," kenangnya kemudian, mata beningnya masih menyimpan sisa-sisa haru. Bukan hanya karena ini adalah tokoh besar, tetapi lebih dari itu—Nyai Ontosoroh adalah jiwa yang utuh, pejuang yang sunyi, perempuan yang melampaui zamannya. Bagi Dinda, tawaran itu seperti dititipkan sebuah amanah suci dari langit sastra Indonesia.

Sebuah Panggilan Tak Terduga

Perjalanan itu bermula dari sebuah percakapan sederhana. Happy Salma, yang mengenal betul kedalaman karakter dalam karya Pramoedya Ananta Toer, melihat sesuatu dalam diri Dinda. Mungkin itu keteguhan, atau barangkali luka-luka yang tersimpan rapi di balik senyumnya. Dinda sendiri mengaku tidak pernah membayangkan akan menyentuh tokoh sastra seberat ini. Sebagai pemeran sinetron, ia terbiasa dengan irama cerita yang lebih ringan, namun di sinilah justru letak mimpinya yang terpendam: ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi lebih dari sekadar wajah di layar kaca.

Di balik layar, persiapan pun dimulai dengan air mata dan tekad. Dinda membaca ulang novel-novel Pramoedya, bukan hanya sebagai teks, melainkan sebagai napas. Setiap kalimat ia resapi, setiap pergulatan Nyai Ontosoroh ia coba hidupkan di dalam dada. "Saya ingin penonton tidak melihat saya, tapi melihat dia. Melihat perjuangan seorang ibu, seorang perempuan yang memilih melawan meski dunia tak berpihak padanya," ucap Dinda lirih, seolah berbisik pada angin yang akan membawa suaranya ke atas panggung.

Nyai Ontosoroh: Antara Sejarah dan Hati

Bagi banyak orang, Nyai Ontosoroh adalah lambang pemberontakan yang elegan. Di tengah cengkeraman kolonial, ia membangun kerajaan sendiri; di tengah himpitan adat, ia merawat cinta dan martabat. Dinda mengerti betul bahwa peran ini bukan sekadar akting, melainkan menyelami lautan emosi yang dalam. Di sudut ruangan kecil di rumahnya, ia sering kali hanya diam, mencoba mendengarkan denyut nadi tokoh yang akan ia perankan. "Ada kalanya saya menangis sendiri," katanya, "karena tiba-tiba saya merasa kehilangan yang sama, meski dalam cerita yang berbeda."

Proses ini menjadi momen mengharukan yang menyentuh sisi paling manusiawi seorang seniman. Dinda tidak hanya berjuang menghafalkan dialog, ia membangun hubungan batin dengan karakter itu. Setiap malam, bayangan Nyai Ontosoroh seolah hadir dan menuntunnya. Teman-teman dekatnya melihat perubahan: Dinda menjadi lebih tenang, tetapi juga lebih tajam dalam memandang sekitar. Seakan ia sedang menghidupi dua kehidupan sekaligus—satu sebagai dirinya sendiri, satu lagi sebagai jelmaan perempuan perkasa dari abad silam.

Dari Panggung Hiburan ke Panggung Makna

Banyak yang mengenal Dinda dari sinetron yang membesarkan namanya. Namun, di balik gemerlap hiburan, ia menyimpan dahaga akan sesuatu yang lebih substansial. Tawaran peran ini menjadi jawaban atas pencariannya selama ini. "Saya merasa seperti dipertemukan dengan bagian diri saya yang lama hilang," ungkap Dinda. Bermain di teater, apalagi dengan karakter sekompleks Nyai Ontosoroh, memberinya ruang untuk tidak sekadar menghibur, tetapi juga menginspirasi.

Di atas panggung nanti, penonton akan menyaksikan transformasi yang lahir dari pengorbanan sunyi. Dinda berharap kisahnya bisa menjadi pelipur bagi mereka yang merasa kecil dan tak berdaya. Sebab, seperti pesan yang ia tangkap dari Nyai Ontosoroh: kekuatan sejati tidak selalu tentang melawan dengan lantang, tetapi tentang bertahan dengan penuh cinta. Di sinilah letak inspirasi yang ingin ia bagikan—bahwa sebuah mimpi, sekalipun datang terlambat, tetaplah mimpi yang layak diperjuangkan.

Ketika senja mulai merayap di langit Jakarta, Dinda beranjak dari Galeri Indonesia Kaya dengan langkah yang berbeda. Ada beban, tetapi juga ada ringan. Mungkin karena kini ia tahu: perjalanan seorang aktor tidak pernah hanya tentang dirinya sendiri, melainkan tentang bagaimana ia menjadi jembatan antara kisah dan kemanusiaan. Nyai Ontosoroh telah memilihnya, dan Dinda, dengan segenap hati, siap menyelami kisah itu hingga ke palung terdalam.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User