Hajat Bumi Situ Rawabinong: Merawat Ingatan Kolektif di Tengah Perubahan Zaman
Subuh masih bergelayut di ufuk timur ketika permukaan Situ Rawabinong memantulkan semburat jingga pertama. Udara pagi yang sejuk menyelimuti Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi...
Subuh masih bergelayut di ufuk timur ketika permukaan Situ Rawabinong memantulkan semburat jingga pertama. Udara pagi yang sejuk menyelimuti Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Di tepian danau seluas enam hektare itu, puluhan warga mulai berdatangan—mengenakan pakaian terbaik mereka, membawa aneka hasil bumi dalam anyaman bambu, melangkah dengan khidmat menuju titik berkumpul yang telah disepakati secara turun-temurun. Hari itu bukan sekadar hari biasa. Hajat Bumi akan segera digelar, memanggil seluruh warga untuk kembali ke akar, merayakan hubungan sakral antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Di antara kerumunan, tampak Mbah Sarmin (72), salah satu sesepuh desa, duduk bersila di atas tikar pandan yang telah menguning dimakan usia. Tangannya yang keriput menggenggam daun sirih, matanya menerawang ke permukaan danau yang tenang. “Setiap tahun, danau ini memanggil kami pulang,” ucapnya lirih, setengah pada diri sendiri, setengah pada siapa saja yang sudi mendengarkan. Kalimat sederhana itu menyimpan sebuah kebenaran yang dalam: bahwa tradisi adalah jangkar yang menambatkan identitas di tengah arus modernitas yang kian deras.
Jejak Leluhur di Tepian Situ Rawabinong
Tradisi Hajat Bumi Situ Rawabinong bukanlah sekadar seremonial tahunan. Bagi masyarakat Hegarmukti, ritual ini adalah warisan tak kasat mata yang menyimpan ingatan kolektif tentang asal-usul mereka sebagai komunitas agraris yang hidup berdampingan dengan danau. Konon, para leluhur desa inilah yang pertama kali membuka lahan di sekitar situ, menjadikan airnya sebagai nadi kehidupan—mengairi sawah, menyediakan ikan, dan menopang ekosistem yang menghidupi berpuluh-puluh keluarga.
Setiap tahun, saat musim panen usai, warga berkumpul untuk menggelar syukuran. Mereka tidak memiliki catatan tertulis tentang kapan tepatnya tradisi ini bermula. Pengetahuannya diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, seperti nyanyian yang tak pernah putus. Hajat Bumi menjadi penanda rasa terima kasih kepada bumi yang telah memberikan penghidupan, kepada air Situ Rawabinong yang tak pernah kering meski musim kemarau melanda, dan kepada semesta yang menjaga keseimbangan alam.
Sesaji yang diarak bukanlah sekadar benda. Tumpeng dari nasi liwet yang dibungkus daun jati, ayam kampung utuh yang dimasak dengan bumbu sederhana, aneka kue tradisional berwarna-warni, dan buah-buahan musiman yang dipetik langsung dari pekarangan rumah—semuanya mengandung doa dan harapan. “Ini bukan tentang mempersembahkan yang mewah,” kata Marlina, seorang ibu rumah tangga yang telah dua puluh tahun mengikuti Hajat Bumi. “Ini tentang memberi kembali apa yang sudah kami terima, dalam bentuk yang paling jujur dan sederhana.”
Semangat Gotong Royong yang Menghidupkan Kebersamaan
Beberapa hari menjelang puncak acara, suasana Desa Hegarmukti berubah. Para pemuda bergotong royong membersihkan area sekitar danau. Kaum ibu sibuk menyiapkan hidangan di dapur-dapur yang mengeluarkan asap hingga larut malam. Bapak-bapak mendirikan tenda, menata panggung, dan memastikan segala keperluan teknis tersedia. Tidak ada aba-aba formal, tidak ada komando kaku. Semuanya mengalir seperti insting bersama—sebuah simfoni kebersamaan yang konon telah berusia lebih dari satu abad.
Semangat gotong royong inilah yang menjadi ruh sesungguhnya dari tradisi Hajat Bumi. Ia bukan hanya terlihat dalam kegiatan fisik, melainkan juga dalam cara warga saling menyokong secara ekonomi dan moral. Mereka yang mampu menyumbang lebih banyak, mereka yang kurang menyumbang tenaga. Tidak ada perhitungan untung-rugi karena dalam kosmologi mereka, kebersamaan adalah bentuk kekayaan tertinggi.
Rukman, seorang petani berusia 45 tahun, mengisahkan bagaimana dirinya selalu menyempatkan diri pulang dari tanah rantau hanya untuk mengikuti Hajat Bumi. “Saya kerja serabutan di Jakarta. Tapi kalau sudah masuk bulan Hajat Bumi, hati ini tidak tenang kalau belum ikut andil,” katanya sambil tertawa kecil. Kisah seperti ini berulang dari tahun ke tahun, menciptakan semacam migrasi pulang kampung yang tak terencana namun selalu dinantikan. Bagi banyak perantau asal Hegarmukti, Hajat Bumi adalah alasan untuk kembali menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Pemerintah dan Komunitas Berpadu dalam Harmoni
Kehadiran Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam gelaran tahun ini membawa arti tersendiri. Bukan sebagai pihak yang mendikte atau mengambil alih, melainkan sebagai pengakuan bahwa tradisi yang digerakkan oleh masyarakat akar rumput memiliki nilai yang tak ternilai. Aparat daerah turut membersamai prosesi, bukan untuk mengatur, tetapi untuk mengapresiasi—sebuah gestur yang disambut hangat oleh warga yang selama ini merawat tradisi dengan kemampuan terbatas.
Keterlibatan pemerintah membuka jalan bagi dukungan yang lebih terstruktur: mulai dari pendampingan dokumentasi budaya, pengelolaan kawasan wisata Situ Rawabinong yang berkelanjutan, hingga upaya pencatatan tradisi lisan agar kelak dapat diwariskan dalam bentuk yang lebih tangguh. Warga Hegarmukti menyadari bahwa di era digital ini, pelestarian budaya memerlukan strategi baru. Mereka tidak menolak perubahan, tetapi ingin memastikan bahwa perubahan itu tidak mengikis nilai-nilai fundamental yang telah diwariskan para leluhur.
“Kami ingin anak cucu kami tahu bahwa identitas mereka berakar di sini, di tepian situ ini,” ujar Kepala Desa Hegarmukti dalam salah satu kesempatan. Kalimat yang sederhana namun menyiratkan sebuah kesadaran mendalam: bahwa tanpa upaya sadar, tradisi dapat dengan mudah lenyap ditelan zaman.
Merawat Tradisi di Tengah Arus Waktu
Ketika puncak acara tiba dan doa-doa dilantunkan dalam bahasa yang sebagian warganya mungkin sudah tak lagi sepenuhnya memahami, satu hal terasa jelas: tradisi ini bukan tentang masa lalu, melainkan tentang cara sebuah komunitas menegaskan keberadaannya di masa kini dan masa depan. Hajat Bumi Situ Rawabinong adalah dialog tak terputus antara generasi yang telah tiada, generasi yang masih berjuang, dan generasi yang belum lahir.
Menjelang senja, saat tumpeng telah dipotong dan warga mulai beranjak pulang ke rumah masing-masing, permukaan danau kembali tenang. Namun getaran kebersamaan masih terasa di udara. Di sudut desa, anak-anak kecil tertawa sambil membawa sisa-sisa makanan untuk dibagikan ke tetangga. Para orang tua berpelukan dan saling mendoakan. Dan di tepian Situ Rawabinong, tradisi itu telah sekali lagi menancapkan akarnya—lebih dalam, lebih kuat, dan lebih hidup dari sebelumnya.
Di era yang serba cepat dan individualistis, apa yang terjadi di Desa Hegarmukti adalah semacam puisi yang langka. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan sejati sering kali ditemukan bukan dalam pencapaian pribadi, melainkan dalam kebersamaan yang tulus, dalam rasa syukur yang dirayakan bersama, dan dalam keyakinan bahwa manusia tak pernah benar-benar terpisah dari alam yang menopang hidupnya. Hajat Bumi Situ Rawabinong bukan sekadar ritual. Ia adalah pernyataan cinta—kepada tanah, kepada air, kepada para leluhur, dan kepada masa depan yang diharapkan tetap ramah bagi mereka yang menjaga tradisi.
Baca juga:
Comments (0)