LOMBOK BARAT — Mentari pagi menyapu permukaan Bendungan Meninting yang tenang di

Hari itu, AHY mendampingi Presiden Prabowo meresmikan lima bendungan secara serentak, dengan Bendungan Meninting menjadi pusat perhelatan. Empat bendungan

Jul 10, 2026 - 23:48
0 0
LOMBOK BARAT — Mentari pagi menyapu permukaan Bendungan Meninting yang tenang di

Hari itu, AHY mendampingi Presiden Prabowo meresmikan lima bendungan secara serentak, dengan Bendungan Meninting menjadi pusat perhelatan. Empat bendungan lain—Bendungan Tiga Dihaji di Sumatera Selatan, Bendungan Ciawi di Jawa Barat, Bendungan Temef di Nusa Tenggara Timur, dan Bendungan Sidan di Bali—diresmikan melalui sambungan video, menandai era baru infrastruktur air nasional.

Pak Hamdan dan Harapan dari Sebuah Aliran

Di sudut kerumunan, Pak Hamdan (58) berdiri terpaku. Petani jagung asal desa sekitar itu telah puluhan tahun bergulat dengan air yang tak menentu. Ketika musim hujan tiba, ladangnya kerap kebanjiran; saat kemarau datang, ia harus berjalan hampir dua kilometer hanya untuk mengambil air bersih. Namun pagi itu, ia menatap bendungan dengan mata berbinar.

“Saya tak bisa berkata apa-apa. Selama ini kami berdoa agar ada yang peduli dengan air di sini,” ucap Pak Hamdan, suaranya sedikit bergetar. “Anak saya tadinya mau merantau karena tanah di sini makin susah ditanami. Sekarang saya bilang ke dia, ‘Tunggu dulu, Le. Bapak Presiden lihat kita.’”

Swasembada Pangan, Air, dan Energi

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa air adalah hulu peradaban. Namun justru pernyataan AHY yang mencuri perhatian banyak pihak. Mundur beberapa langkah dari mikrofon, ia menatap bendungan sejenak, lalu berbicara dengan nada penuh keyakinan.

“Ini bukan sekadar beton dan air. Ini adalah urat nadi bangsa. Swasembada pangan tidak akan berdiri tanpa swasembada air. Swasembada energi tidak akan utuh tanpa dukungan aliran sungai. Hari ini kita mengikat janji dengan masa depan.”

Lima bendungan yang diresmikan itu diperkirakan mampu mengairi puluhan ribu hektare lahan pertanian, menyediakan air baku bagi jutaan rumah tangga, dan berpotensi menghasilkan tenaga listrik mikrohidro di beberapa titik. Di Nusa Tenggara Timur, misalnya, Bendungan Temef telah dinantikan selama lebih dari dua dekade oleh petani setempat yang terbiasa hidup dengan kekeringan berkepanjangan.

Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional. AHY menambahkan, konektivitas antar bendungan akan menciptakan ekosistem pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. “Kalau dulu kita bicara bendungan satu per satu, sekarang kita bicara jaringan kehidupan,” ujarnya.

Jaringan Kehidupan dari Barat hingga Timur

Bendungan Meninting sendiri memiliki kapasitas tampung lebih dari 15 juta meter kubik dan dibangun sejak 2019. Ia menjadi sumber air irigasi bagi 1.560 hektare sawah di Lombok Barat dan menyuplai air bersih ke tiga kecamatan. Sementara itu, Bendungan Ciawi di Jawa Barat—meski sempat terkendala pembebasan lahan—kini menjadi pengendali banjir utama bagi Jakarta dan sekitarnya, menyusul koordinasi lintas kementerian yang intensif.

Yang tak kalah menyentuh adalah kisah di balik Bendungan Temef. Di sana, warga desa adat sempat khawatir proyek ini akan merusak situs leluhur mereka. Namun melalui dialog panjang yang difasilitasi pemerintah daerah, disepakatilah jalur irigasi yang menghormati zona budaya setempat. “Pembangunan bukan hanya soal teknik, tapi juga soal rasa. Kalau masyarakat tidak nyaman, proyek itu tidak akan berhasil,” kata seorang pejabat teknis yang enggan disebutkan namanya.

Nenek Siti (72), warga asli Lombok Barat yang hadir di lokasi, menyaksikan prosesi itu dengan tatapan lekat. Ia datang sejak subuh, dibonceng cucunya menggunakan sepeda motor. “Saya ingin lihat langsung. Dulu bapak saya cerita, zaman Belanda kami susah air. Sekarang cucu saya yang akan merasakan air melimpah. Ini doa yang dijawab,” katanya lirih sambil menyeka sudut mata dengan ujung kerudung.

Momen Kebersamaan di Atas Air Tenang

Menjelang siang, Presiden Prabowo dan AHY berjalan ke tepi bendungan. Mereka berbincang santai, sesekali tertawa. Tak ada sekat kaku antara pemimpin tertinggi dan menterinya. Momen itu menjadi potret kolaborasi lintas generasi: Prabowo dengan pengalaman geopolitiknya, dan AHY dengan semangat teknokratis yang dibawanya sejak menjabat di pemerintahan.

Bagi Pak Hamdan, yang terpenting bukan siapa yang berdiri di atas mimbar. “Yang penting airnya sampai ke ladang saya,” katanya sambil tertawa kecil. Namun kemudian ia menambahkan dengan nada serius, “Tapi saya senang lihat Pak Prabowo dan Pak AHY bersama. Mereka seperti bekerja seiring, bukan sekadar seremoni.”

Lima bendungan yang kini berdiri di berbagai penjuru Nusantara bukan sekadar infrastruktur fisik. Ia adalah monumen kepercayaan—bahwa air yang mengalir bisa menumbuhkan harapan, dan bahwa perubahan iklim bukanlah takdir yang tak bisa dilawan. Di pagi Lombok yang cerah itu, swasembada pangan, air, dan energi tak lagi terdengar sebagai jargon. Ia menjelma menjadi janji yang mengucur deras, sama derasnya seperti air yang mulai membasahi saluran irigasi di bawah kaki Pak Hamdan.

[SOCIAL_TWEET]: Air mengalir, harapan tumbuh. Di Bendungan Meninting, Presiden Prabowo dan AHY meresmikan lima bendungan serentak untuk swasembada pangan nasional. Cerita Pak Hamdan, petani yang menanti air puluhan tahun, jadi saksi janji ini. #SwasembadaPangan #BendunganNusantara #LombokBarat [SOCIAL_FB]: Dari Lombok hingga NTT, hari ini lima bendungan diresmikan serentak. Ada kisah haru di balik setiap aliran airnya—baca selengkapnya tentang petani yang akhirnya bisa tersenyum di ladang sendiri. [SOCIAL_TG]: 💧✨ Lima bendungan serentak diresmikan! Dari Lombok, Sumatra, hingga Bali, aliran air ini menjadi urat nadi baru bagi petani dan warga. Swasembada pangan, air, dan energi kini bukan sekadar mimpi. [SOCIAL_THREADS]: Pagi di Lombok, Presiden Prabowo dan AHY resmikan lima bendungan sekaligus. Ini bukan cuma proyek infrastruktur—ini jawaban atas doa petani yang nunggu air selama puluhan tahun. Adem banget lihat harapan mengalir. [TAGS]: AHY, Prabowo Subianto, Bendungan Meninting, swasembada pangan, Lombok Barat

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User