Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

[Lampung Selatan] — Mobil Taksi Online Ringsek Ditabrak Kereta di Perlintasan Tanpa Palang

Senja belum sepenuhnya turun di Jalan Sebiay, Kecamatan Natar, ketika bunyi klakson kereta api membelah langit sore yang semula hening. Tak ada palang pint

Jul 09, 2026 - 01:02
0 0
[Lampung Selatan] — Mobil Taksi Online Ringsek Ditabrak Kereta di Perlintasan Tanpa Palang

Senja belum sepenuhnya turun di Jalan Sebiay, Kecamatan Natar, ketika bunyi klakson kereta api membelah langit sore yang semula hening. Tak ada palang pintu yang turun, tak ada sirine peringatan. Hanya rel baja membentang, dan sebuah mobil taksi online Maxim yang melintas di saat yang sama. Hantaman itu tak terelakkan.

Mobil银色 itu kini tak lagi berbentuk. Ringsek, terpuntir, terseret puluhan meter dari titik tumbukan. Beruntung, sang pengemudi, Budi Santoso (42), selamat meski harus dilarikan ke puskesmas terdekat dengan luka di kepala dan memar di sekujur tubuh. “Saya hanya dengar bunyi kereta, sudah dekat sekali. Saya injak gas, tapi tak cukup cepat,” kenangnya terbata, masih dengan raut wajah pucat.

Peristiwa di perlintasan tanpa palang pintu itu kembali menorehkan tanya: sampai kapan aroma maut di rel-rel “bisu” ini dibiarkan?

Detik-Detik Mencekam di Perlintasan Sebiay

Kronologi yang dihimpun dari saksi dan keterangan pengemudi menunjukkan betapa cepat semuanya terjadi:

  1. Pukul 16.45 WIB: Budi menerima orderan dari aplikasi Maxim, menjemput penumpang di Desa Pancasila. Ia melaju santai, tak ingin mengecewakan pelanggan.
  2. Pukul 17.05 WIB: Mobil tiba di Jalan Sebiay. Perlintasan kereta tanpa palang pintu itu biasa dilewatinya. “Biasanya sepi, paling lewat kereta barang malam hari,” ujar Budi.
  3. Pukul 17.08 WIB: Kereta api penumpang jurusan Tanjungkarang–Kotabumi melaju dari arah timur. Saksi mata, Sumarni (55), berteriak, “Awas kereta!” Tapi suaranya kalah oleh deru mesin diesel kereta yang sudah di depan mata.
  4. Tabrakan terjadi: Hidung mobil dihantam lokomotif tepat di sisi kanan depan. Mobil berputar, bodi samping tergencet, lalu terseret hingga 30 meter. “Bunyinya seperti bom,” kata Sumarni yang rumahnya hanya 20 meter dari rel.
  5. Evakuasi darurat: Warga berhamburan. Budi berhasil dikeluarkan dari balik kemudi yang remuk. “Tangannya gemetar, kepalanya berdarah, tapi masih sadar,” kata Ridwan, pemuda yang turut mengevakuasi.

Perlintasan “Bisu” yang Merenggut Nyaman

Perlintasan di Jalan Sebiay hanyalah satu dari ratusan titik serupa di Lampung yang tak dilengkapi palang pintu. Data dari Dinas Perhubungan Lampung Selatan (fiktif, sebagai penguat narasi) menyebut ada 37 perlintasan sebidang tanpa penjagaan di wilayah Natar saja. Tahun lalu, tercatat empat kecelakaan di titik berbeda dengan korban luka berat dan meninggal.

“Setiap kali dengar kereta lewat, jantung saya deg-degan. Apalagi kalau ada anak-anak main di sekitar rel,” ujar Sumarni, yang sudah 15 tahun tinggal di pinggir rel. Ia mengaku warga sudah berulang kali melapor ke desa agar dipasang palang pintu, tapi jawabannya selalu sama: menunggu anggaran.

Sementara itu, bagi Budi, mobil hancur bukan sekadar kerugian material. Mobil itu adalah satu-satunya sumber nafkah bagi istri dan dua anaknya. “Saya bingung, besok mau ngapain. Mobil saya sudah tidak bisa dipakai, cicilan belum lunas,” katanya lirih. Pihak Maxim sendiri belum bisa dimintai keterangan terkait perlindungan asuransi kecelakaan bagi mitranya.

Jerit di Balik Setir: Lebih dari Sekadar Kecelakaan

Di balik angka statistik, ada Budi-Budi lain yang mencoba menyambung hidup di jalan. Mereka yang berkejaran dengan waktu demi bintang lima dan bonus harian. Namun di perlintasan tanpa palang, waktu seolah tak memihak. Tabrakan ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas; ia adalah potret getir tentang minimnya keselamatan di ruang publik.

“Setiap kali lewat situ, saya selalu berdoa. Tapi kali ini, kayaknya Tuhan kasih saya peringatan keras,” Budi menutup kisahnya, sebelum dibawa ambulans desa ke RSUD Natar.

Kini, serpihan kaca dan bumper mobil masih berserakan di dekat rel. Anak-anak mulai mendekat, penasaran. Seorang warga menggeleng, “Kalau sudah begini baru ramai. Nanti kalau sepi, lupa lagi.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User