Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Komunitas Team Ogre Bangkitkan Memori Kolektif Pecinta Motor Tua di Japanese Bike Fest

Mentari pagi belum terlalu tinggi ketika deru mesin berpendingin udara itu mulai memecah sunyi di kawasan parkir timur. Satu per satu, lalu puluhan, motor-

Jul 09, 2026 - 01:00
0 0
Komunitas Team Ogre Bangkitkan Memori Kolektif Pecinta Motor Tua di Japanese Bike Fest

Mentari pagi belum terlalu tinggi ketika deru mesin berpendingin udara itu mulai memecah sunyi di kawasan parkir timur. Satu per satu, lalu puluhan, motor-motor berbadan bongsor dengan fairing kotak dan lampu bulat khas era 90-an memasuki area festival. Hari itu, Sabtu pekan lalu, Japanese Bike Fest kembali digelar—bukan sekadar pamer atau kontes, melainkan semacam ritual tahunan bagi mereka yang menolak melupakan kenangan di atas dua roda.

Di balik penyelenggaraan ini, ada sekelompok tangan dingin yang sejak 2017 menamai diri mereka Team Ogre. Nama yang terdengar garang, tapi justru digerakkan oleh romantisme yang dalam terhadap motor-motor besar klasik Jepang. Bukan motor balap modern berlapis serat karbon, bukan pula moge Eropa dengan banderol miliaran—melainkan mesin-mesin tua yang menyimpan cerita dari masa ketika ABS dan traction control belum akrab di telinga bikers Tanah Air.

"Kami ingin menciptakan ruang di mana motor tua tidak dipandang sebelah mata, tapi justru dirayakan sebagai artefak budaya. Setiap baret di tangki bensin, setiap karat kecil di knalpot—itu bukan cacat, itu catatan perjalanan," ujar Andi "Bogel" Prakoso, salah satu pendiri Team Ogre, di sela persiapan acara.

Dan di tengah lautan motor-motor legendaris itu, ada satu nama yang selalu mampu menghentikan langkah: Repsol. Livery oranye-biru khas tim balap Honda di era 90-an dan 2000-an yang melegenda. Bukan hanya soal skema warna, tapi tentang ikatan emosional antara penonton MotoGP generasi pertama di Indonesia dengan sosok Mick Doohan, Alex Criville, hingga Valentino Rossi yang pernah membalap dengan warna serupa.

Motor-motor dengan balutan livery Repsol di festival ini bukan replika murahan. Pemiliknya menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk memburu part original, mencocokkan kode warna, hingga mendatangkan stiker dari luar negeri demi akurasi yang memuaskan hati. Bagi mereka, yang dikejar bukan pengakuan orang lain, melainkan kepuasan pribadi yang tak bisa dinilai dengan uang.

"Ini motor pertama saya waktu muda dulu, Honda NSR. Dulu cuma bisa lihat di poster. Begitu sudah berkeluarga dan ada rezeki, saya cari lagi dan bangun sendiri. Setiap kali starter, rasanya kayak naik mesin waktu," tutur Rudi Hartono, peserta yang membawa replika Honda NSR Repsol andalannya dari Surabaya.

Team Ogre sendiri lahir dari keresahan yang sederhana. Pada 2017, ketika tren motor custom scrambler dan café racer mendominasi, para penggemar motor sport fairing era 90-an merasa tak punya wadah. Mereka bukan anak muda yang ingin tampil keren, melainkan lelaki paruh baya yang ingin bernostalgia, berbagi cerita teknis, dan sekadar menyalakan mesin bersama di akhir pekan. Dari grup obrolan kecil beranggotakan belasan orang, kini mereka mampu menggerakkan ribuan pengunjung dalam festival tahunan.

Ritual yang Melampaui Gengsi

Yang membuat Japanese Bike Fest berbeda adalah atmosfernya yang egaliter. Tak ada sekat tegas antara motor restorasi sempurna senilai ratusan juta rupiah dengan motor harian yang masih belepotan oli. Semua berdiri sejajar di atas tanah yang sama, semua pemiliknya sama-sama antusias menceritakan perjuangan merawat besi tua. Pensiunan, karyawan swasta, hingga pengusaha berbaur dalam satu obrolan teknis tentang jetting karburator atau mencari busi tipe langka.

Bagi Team Ogre, festival ini bukan tentang siapa yang paling mahal atau paling kinclong, melainkan siapa yang paling setia menjaga nyawa motor-motor tua itu tetap berdetak. Mereka menyadari bahwa generasi yang tumbuh bersama motor dua tak dan sport fairing 90-an semakin menua, dan tanpa diwariskan, pengetahuan teknis serta apresiasi estetika ini bisa lenyap begitu saja.

"Kami tidak sedang melawan zaman. Kami hanya ingin memastikan bahwa ketika anak cucu kami bertanya tentang motor-motor ini kelak, masih ada yang bisa bercerita, masih ada yang bisa menghidupkan mesinnya," ujar Andi menutup perbincangan.

Senja mulai turun, lampu-lampu taman dinyalakan, dan satu per satu motor meninggalkan area festival dengan suara dua tak yang memekakkan telinga—suara yang bagi banyak orang adalah polusi, tapi bagi para pengunjung hari itu, adalah nyanyian masa muda yang akhirnya menemukan tempatnya untuk pulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User