Kepercayaan Publik terhadap Polri Melonjak ke 82,4% dalam Survei Terbaru
Beritaseputar.com, Jakarta — Citra Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus membaik di mata masyarakat. Hasil jajak pendapat dari Litbang Kompas edisi Juni 2026 merekam lompatan keyakinan warg
Beritaseputar.com, Jakarta — Citra Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus membaik di mata masyarakat. Hasil jajak pendapat dari Litbang Kompas edisi Juni 2026 merekam lompatan keyakinan warga terhadap institusi penegak hukum itu, yang kini bertengger di angka 82,4 persen.
Cap tersebut menandai peningkatan cukup tajam—sekitar 6,2 poin persentase—dibanding perolehan tahun sebelumnya. Pada 2025, survei serupa dari lembaga yang sama menempatkan tingkat kepercayaan publik ke Polri di level 76,2 persen.
“Angka ini menjadi sinyal bahwa upaya transformasi internal yang digaungkan pimpinan Polri mulai terasa dampaknya di tengah masyarakat. Publik semakin menaruh harapan bahwa pelayanan kepolisian bisa lebih humanis, cepat, dan transparan,” tulis laporan Litbang Kompas yang diakses media kami, Jumat (26/6/2026).
Survei dilaksanakan pada 9 hingga 18 April 2026, melibatkan 1.200 responden yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Metodologi yang dipakai adalah wawancara tatap muka langsung, sebuah pendekatan yang dikenal mampu menangkap nuansa opini secara lebih mendalam dibandingkan survei telepon atau daring.
Selama rentang waktu hampir satu dekade terakhir, tingkat kepercayaan terhadap institusi penegak hukum memang mengalami fluktuasi. Isu seperti penanganan kasus yang dianggap lambat, dugaan kekerasan oleh oknum, atau kontroversi tertentu sempat menggerus angka kepuasan. Namun, tren sejak awal 2025 menunjukkan perbaikan bertahap, sejalan dengan berbagai terobosan seperti percepatan pelayanan berbasis digital, penguatan fungsi pengawasan internal, serta gerakan problem-solving policing di level polsek dan polres.
Pengajar kebijakan publik dari salah satu kampus negeri di Jakarta, yang dimintai tanggapan, menyebut bahwa kenaikan signifikan dalam setahun terakhir tidak lepas dari strategi komunikasi publik yang lebih terbuka. “Ketika masyarakat melihat langsung penyelesaian kasus kecil di lingkungannya, rasa percaya itu terbangun perlahan tapi pasti,” ujarnya.
Meski begitu, para peneliti mencatat bahwa untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kepercayaan tersebut, Polri harus konsisten. Masih ada sekitar 17,6 persen suara yang belum atau tidak percaya—sebuah gap yang perlu dicermati. Kelompok yang skeptis biasanya berasal dari kalangan yang pernah bersinggungan langsung dengan pelayanan kepolisian, baik sebagai korban maupun pelapor, dan merasakan adanya ketimpangan penanganan.
Survei ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi Polri untuk tidak lekas berpuas diri. Level kepercayaan 82,4 persen adalah yang tertinggi bagi institusi tersebut dalam beberapa tahun terakhir, tetapi mempertahankannya menuntut pembenahan berkelanjutan pada aspek profesionalisme, integritas, serta kepekaan petugas terhadap kebutuhan masyarakat modern yang semakin kritis.
Comments (0)